Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2016

Non-Linear

Sejalan dengan waktu yang bergulir, kita akan bertemu peubah dan parameter baru, dengan atau tanpa disengaja. Hingga kehidupan menjelma menjadi sistem persamaan non-linear yang mesti didapatkan solusinya.

Nikmatilah. Karena pada masa itu kau akan semakin terlatih, menemukan kesetimbangan.

Maknailah, dengan sederhana dan bersahaja. Karena di titik manapun engkau berada, di sana akan selalu tertanam doa dan cita-cita, in syaa' Allah. :)

Jakarta, 10 Muharram 1438 H
Mari tumbuh, bergerak, dan menjadi dewasa.. 
bersama...

Senin, 20 Juli 2015

Dunia Anda dan Dunia Mereka

Bismillaah, 

Sebuah tulisan berdasarkan atas kisah nyata teman-teman di sekitar saya,

Ada seorang pemuda, teman-teman di kampusnya kadang mengejeknya kurus. Dia sering berpuasa. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika seringnya ia berpuasa, karena ia tak memiliki uang untuk makan.

Ada seorang pemuda, teman-teman di sekolahnya kadang mengejeknya bau. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika bau itu sebab ia seharian membantu ibundanya berjualan di pasar, dan tak banyak koleksi kaus atau parfum di lemarinya.

Ada seorang pemuda, teman-teman di kampusnya kadang mengejeknya karena belum kunjung menikah. Padahal kalau dilihat umurnya seharusnya sudah waktunya. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika ada beban hutang dan kondisi keuangan keluarganya yang harus ditanggung olehnya.

Kondisi tiap orang itu berbeda. Ada yang dari lahir sudah Allah anugerahkan hidup bak raja, namun lebih banyak yang dianugerahkan kehidupan yang menuntutnya benar-benar berjuang untuk dapat sekadar hidup. Tak tega rasanya ketika kawan-kawan saya seperti itu, apalagi yang giat belajar ilmu agama diperlakukan demikian.

Mereka kadang hanya tersenyum kepada temannya, bukan karena mereka tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka tak mau teman-teman lainnya tahu dan ikut susah dengan kondisinya. Mereka memilih diam, dan tersenyum, hingga bahkan meski dalam ejekan, mereka hanya mengucapkan:

"Jazakallahu khairan katsiran"

Semoga Allah limpahkan kebaikan melimpah kepadamu

Mereka tak akan minta belas kasihan Anda, mereka lebih meminta pada Rabb Semesta Alam. Mereka yang sudah merasakan bagaimana hidup di titik bawah, biasanya akan lebih dewasa jika menemukan kondisi serupa pada orang lainnya.

Tidak seorangpun ingin diejek kala orang tua dan istrinya sakit atau anaknya kecelakaan. Maka agar tidak terjadi, jangan tertawakan orang yang Anda lihat sedang Allah anugerahkan ujian kesabaran dalam hidupnya.

Baru sadar ada kisah seperti ini? 
Mungkin karena dunia Anda dan dunia mereka berbeda.

dikutip dari status fb akh Abdul Rohman asy-Syukr

Sabtu, 18 Juli 2015

Dari Tulisan Aku Mengenalmu

Bismillaah,

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang berhasil membuat sebuah karya, ataupun kajian besar bersama kawan-kawan pembacanya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat hidayah, dan mengetahui jalan yang haq dari yang selama ini dijalaninya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat tawaran pernikahan dari seseorang.

Semua berawal dari tulisan, maa syaa' Allah.

Begitu pula warisan-warisan terdahulu. Bukanlah yang diwariskan itu harta, atau sekadar bangunan dan budaya, namun ilmu yang tertuangkan dalam tulisan.

Maka bersiaplah engkau, wahai para penulis yang ikhlas.

Kelak kau bahkan mungkin akan mendapatkan aliran pahala dikala engkau tidur, karena tulisanmu yang bermanfaat. in syaa' Allah.

Maka jika Anda punya ilmu atau hikmah bermanfaat, jangan ragu tuk berbagi, tuliskanlah!

Selagi nama anda belum dituliskan di atas nisan.

***
Catatan: 
sang penulis di blog ini, melalui tes kemampuan dan potensi akademik baik tes tulis maupun tes online, diketahui memiliki keterbatasan di bagian linguistiknya. Dia saja berani mencoba menulis, Anda harusnya lebih mampu melampaui dia dong?

Bismillaah, in syaa' Allah sebentar lagi menulis skripsi! Semoga Allah mudahkan jalan saya dan jalan teman-teman saya untuk menempuh sisa-sisa waktu tingkat 3 tahun ini untuk menuju tingkat 4 sehingga kami semua bisa lulus dan wisuda tahun 2016. Aamiin

Bangil, 2 Syawal 1436 H

Rabu, 15 Juli 2015

Hidayah dan Cinta

Lanjutan dari tulisan Ranting? Apalah Artinya,

Di mana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. That’s life.

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s more about life.

Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi
Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir.

Mereka pun datang silih berganti
Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati.
Ada yang telah lama berjalan beriringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya
Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.
Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan
Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Di mana ada awal, pasti akan ada akhir.
Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya.

Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru… well, That’s life must be

(Rumaysho.com. Ada Pertemuan, Ada Perpisahan)

Sahabatku,

Selama hidup ini, sudah banyak saya menyaksikan dan mendengarkan, kisah-kisah yang luar biasa, terkait cinta.

Ada yang dulunya jauh bergelimang maksiat, jauh dari ibadah, jauh dari sunnah, namun seiring waktu, beliau berubah, karena bertemu dengan seseorang yang luar biasa, yang menumbuhkan benih-benih cinta, yang mengantarkannya pada hidayah Allah Azza wa Jalla.

Dari cinta, seseorang bisa berubah begitu jauhnya. Dan dari cinta, seseorang bisa berubah begitu jauhnya. Ada lagi yang lainnya, karena cinta, hilang sudah ilmu dan amal yang dulu telah ia mengetahuinya. Cintanya jatuh pada tempat yg salah. Menyebabkannya terombang ambing, pada fitnah dunia. 

Mungkin yang dahulu dicinta, yang menjadi penyalur hidayah itu kini pergi sudah.. pergi menghilang bersama gemerlap dunia.

Orang yang mencinta akan dikumpulkan bersama orang yang dicinta di akhirat kelak.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Kalau begitu engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
(HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Yang kami harap, semoga persaudaraan kita tidak hanya di dunia, namun berakhir pula di jannah. Di dunia -selama hidup- semoga kita saling menghendaki kebaikan satu dan lainnya.

Maka pilihlah cinta, yang dapat mengantarkanmu pada kebaikan.

Dan semoga kita, bisa istiqomah dalamnya, hingga ajal menjelang.

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi 'ala diinik ”
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Teruntuk saudara-saudara dan sahabat-sahabatku seiman, yang saya cintai karena Allah :)


Bangil, 28 Ramadhan 1436 H
Sambil mendengarkan kajian Ust. Armen Halim Naro rahimahullah, Untukmu yang Berjiwa Hanif

Ranting? Apalah Artinya

Lanjutan dari tulisan Harap yang Kadang Tak Terungkap,



Hidayah itu seringnya malah didapatkan orang lain dari hal-hal kecil.

Bahkan hanya dari lembutnya perkataan,
Bahkan hanya dari sekadar senyuman terbaik,
Bahkan hanya dari memberi minum seekor anjing,
Bahkan hanya dari pemberian kecil seorang sahabat,
Bahkan hanya dari wanginya kamar mandi masjid,
Bahkan hanya dari mengeluarkan lalat yg tercelup di air,
Bahkan hanya dari melihat seseorang sedang sholat di rerumputan hijau di pinggir jalan,
dsb.

Maka tak selayaknya seorang muslim meremehkan kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin dengannya menjadi jalan hidayah bagi orang selainnya.

Dan dengannya pula mengantarkan diri mendapat ridhaNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَي ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ المُسْلِمِينَ لَا يُؤذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ

“Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata,

‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’

Akhirnya orang tersebut dimasukkan ke dalam surga.”
(HR Muslim no 4744. Penomoran via lidwa)

Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Harap yang Kadang Tak Terungkap

Lanjutan dari tulisan Bunga,

Pernah berkata seorang akhwat,
"Yan, kenalin dong sama temenmu. Kan temenmu banyak jilbab lebar gitu."
Tiba-tiba orang itu berkata seperti itu.
Beliau memang masih tampil 'kayak gitu'. 
Tapi dari kata-katanya menyimpan harapan yang tak terungkap.

Pernah suatu ketika, saat saya masih begajulan,
datang ke sebuah pengajian,
namun yang ada malah tatapan tak mengenakkan,
memang mungkin penampilan masih kurang meyakinkan,
namun saya datang untuk belajar wahai kawan...

'Mereka' pun sesungguhnya ingin bertaubat,
tapi bukannya mencoba tuk mendekat,
namun kenapa Anda malah melaknat?

Teringat sebuah nasehat:
Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya. Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam, jauh dari sunnah, jauh dari hidayah, tenggelam dalam dunia yang menipu, terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista.
Bukankah banyak sahabat radhiallahu 'anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khomr, bahkan pelaku kesyirikan? Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.
Bisa jadi anda salah satu dari mereka para ikhwan/akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam. Yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam Anda. Sebagaimana Anda tidak ingin orang lain menilai Anda dengan melihat masa lalu kelam Anda. Maka janganlah Anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk.
Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang. Kondisinya tatkala akan meninggal. Bukan masa lalunya. Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda "Amalan-amalan itu tergantung akhirnya"
(Ustadz Firanda Andirja)
Ada seorang muslimah dikenal, yang dulunya tidak berjilbab, lalu perlahan berjilbab 'biasa', lalu perlahan menjadi berjilbab lebar syar'i, dan sekarang berjilbab syar'i plus bercadar.

Ada seorang muslim dikenal, yang dulunya isbal, lalu beberapa lama perlahan melipat kain celananya, dan sekarang sudah memotong bagian bawah celananya hingga tidak isbal lagi.

Ada seorang muslimah dikenal, yang dulunya masih suka joget-jogetan, celana panjang ketat dan jilbab modis, tapi semakin kesini, semakin berpakaian longgar sopan, jilbab semakin syar'i, lagu-lagu ditinggalkan dan makin gemar membersamai Qur'an.

Ada seorang muslim dikenal, yang dulunya suka jepret jepret jelalatan, juga pacaran, namun semakin kesini, meninggalkan, menggantinya dengan kitab dan Quran, dan semakin rajin mempelajari peninggalan-peninggalan ulama-ulama luar biasa sepanjang zaman.

dsb.

Luarnya saja?

Alhamdulillah, tidak.

Semakin kesini, mereka semakin baik dari penampilan, ilmu, dan akhlak.

Yang dulunya mungkin dikenal dengan ahli maksiat, perlahan memperbaiki menjadi insan yang menyejukkan bila dipandang.

Saya percaya adanya proses menuju kebaikan.

Sedikit demi sedikit, namun kontinu, itu lebih menenangkan.
Mulailah dari diri sendiri, dari yang kecil, dari sekarang.

Semoga engkau akan menjadi lebih baik, saat kita bertemu lagi kelak.

Kamu berproses kan?

Selama kita masih hidup, pintu taubat masih terbuka, dan Allah Ta'ala akan mengampuni segala dosa, meski dosa kita bagai buih di lautan.

Syaratnya? Hanya perlu taubatan nasuha. Taubat dengan sesungguh-sungguhnya taubat. Taubat dengan kesungguhan hati.

Bertaubat, selagi masih belum terlambat.

Dan bantulah mereka-mereka yang ingin menjadi lebih baik. Siapa tau, darinya Anda akan mendapat hujan pahala yang tak pernah terputus.

Semoga Allah Ta'ala berikan taufik dan hidayahNya.
Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Bunga


Tiap orang memiliki kekaguman,
Ada yang hanya disimpan di tempat terdalam,
Ada yang disampaikan untuk berusaha mendapatkan,
Ada yang hanya sebatas menjadi sosok pembentuk semangat,
Hingga ada yang menjadikan sebagai standar idaman.

Tiap orang punya cara mengungkapkan kekaguman,
Ada yang mencoba menapaki jejak sang pujaan,
ada yang mencari cari jati diri sesungguhnya dari sosok impian,
Di ujung jalan kekaguman, terkadang berubah menjadi jalan cinta kecemburuan,
Berbunga bunga jika ternyata yang dikagumi memberi respon,
Hingga cemberut dan bete kala yang dikagumi merespon yang lainnya.

Tiap orang memiliki kekagumannya,
ada yang menjadi baik karenanya,
pula ada yang jatuh ke jurang bersamanya,
Maka berdoalah agar kekaguman anda membawa kebaikan di dunia dan akhirat.

Terinspirasi dari obrolan ringan bersama beberapa kawan
Ditulis di Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Minggu, 12 Juli 2015

Hidup Normal

Saking bingungnya mau nulis apa, di saat lagi mau nulis, akhirnya muncul-lah sebuah ide untuk menuliskan tentang hidup saya yang sangat-sangat normal akhir-akhir ini. Ya, Hidup Normal. Well, memang nggak menarik sih. Hidup normal? 

Buat kalian, mungkin nggak ada yang menarik dari Hidup Normal. Tapi, Hidup Normal adalah momen yang sudah lama sangat saya rindukan.

Alhamdulillah, saya sedang menikmati tinggal bersama keluarga. Setiap hari istirahat di rumah. Benar-benar menyenangkan. Alhamdulillah. Entah berapa kali, saya akan terus mengucapkan Alhamdulillah dan Alhamdulillah.

Emang, sebelum-sebelumnya kemana Ryan?

Saya nggak kemana-mana. Di sini-sini aja

Kalau dihitung-hitung, seperti sudah 3 tahun nggak tidur di rumah setiap hari (Saya yakin, banyak temen-temen lain yang lebih lama tidak tidur di rumah)

Di hari terakhir kuliah, saya langsung lepas landas ke Bangil. Dan, sejak itu saya semakin merindukan saat-saat tidur di rumah. Ya.. kuliah selesai, saya memang mendapatkan waktu normal selama di Bangil, tidur malam dan pagi bangun. Waktu normal yang tidak saya dapatkan di masa-masa kuliah. Meskipun beberapa hari lalu, saya masih membawa kebiasaan buruk selama di Jakarta, malam bangun, pagi juga bangun, singkatnya nggak tidur seharian.

Hidup Normal seperti ini, bagi saya adalah nikmat yang luar biasa. Saya menikmati masakan mama saat sahur dan berbuka. Menyapa dan disapa tetangga, mengantarkan makanan ke rumah-rumah tetangga, dapet makanan dari tetangga, dikatain ganteng sama tetangga, mau dijodohin sama tetangga (yang terakhir cuma bercandaan kayaknya, haha). Shalat berjamaah dengan Mama, Papa, dan Adik. Cerita banyak hal dan tertawa dengan mereka, sampai akhirnya tidur lelap. Setiap hari... Setiap hari... Setiap hariiiii...

Saya juga punya adik laki-laki (sekarang). Kemarin dia lagi galau mau kuliah dimana, dia diterima di Politeknik Negeri Malang dan Sekolah Tinggi Teknik Nuklir-BATAN Yogyakarta (ga kebayang kalo dia sampai nyiptain senjata nuklir :v), sempat gagal di SBMPTN juga. Tapi sekarang dia sudah mantap kuliah di STTN-BATAN di Yogyakarta. Artinya, Mama dan Papa di rumah akan kesepian lagi, ditinggal dua anaknya yang merantau ke tanah orang. Setelah liburan berakhir, rasa rindu ke rumah sepertinya akan meningkat berkali-kali lipat dari biasanya :'

Saya juga bersenang-senang dengan sahabat-sahabat saya. Ahh.. membicarakan dan menertawakan banyak hal. Saya kembali bisa tertawa yang membuat saya tidak ingin berhenti. Bebas ngobrol apa saja. Menertawakan apapun. Mengalir begitu saja. Melepaskan semua masalah.

Ahh iya satu lagi. Makanan. Haha, tentu saja, dengan harga lebih murah dan rasa lebih enak. Wah, saya gendut? Well, belum ada perubahan, masih langsing-langsing aja, meski udah makan banyaaaaak di sini, mungkin gara-gara kurang tidur teratur kali ya. Ahh, semua serba enak disini. Saya masih punya banyak waktu untuk kuliner, jadi tidak perlu terburu-buru.

Macet? Apa itu macet? Alhamdulillah di sini tidak pernah macet. Ya mungkin karena Bangil adalah kota yang lurus-lurus saja (1 jalan utama). Tapi yang perlu diwaspadai di jalanan sini adalah kendaraan-kendaraan besar yang buas dan siap menerkam mangsanya apabila kita tidak berhati-hati dalam berkendara. Namun, saya bersyukur karena masyarakat disini cukup sadar diri untuk tertib berlalu lintas.

Apa semua berjalan lancar? Yang tidak lancar pun juga ada. Tidak enak juga ada. Saya nggak perlu menulis sesuatu yang nggak enak. Karena yang nggak enak di sinipun, saya rasakan juga di tempat lain. Jadi, kalau bahas yang nggak enak aja, nanti yang enak-enak jadi nggak berasa enak, hehe.

Inilah, Hidup Normal bagi saya.  Ketika saya bisa bersama dengan keluarga, sahabat dan orang yang kita sayangi. Menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang. Yakin, tidak ada apapun yang tidak bisa dihadapi karena kita tidak sendiri. Bagian dari hidup normal saya bukan berarti tidak ada masalah loh ya. Tapi apapun masalah itu, ya dinikmati saja. Enjoy~

Jadi, ketahuan deh ya, kenapa saya jadi jarang nulis akhir-akhir ini? Yaa, karena saya sedang sangat menikmati hidup normal ini. Saya baik-baik saja, dan bahagia. Bahagia itu sederhana, bukan? Semoga Kalian juga bahagia dengan apapun yang kalian jalani saat ini ya.

Selamat Hidup Normal! Dan.. jangan lupa bahagia! :)

Senin, 23 Maret 2015

Menerima Diri Sendiri

Sebagian dari mereka bilang, salah satu hal yang sulit dilakukan adalah mau menerima diri sendiri. Segala yang kita miliki, kelebihan hingga kekurangan. Memang bukan sesuatu yang mudah, terutama ketika kita selalu merasa kurang dan kurang.

Rumput tetangga, selalu terlihat lebih hijau. Katanya. Seandainya saya bisa seperti dia. Seandainya saya ini. Seandainya saya itu. Seandainya dan seandainya lainnya.

Sekarang, saya mengerti maksud mereka, tentang mau menerima diri sendiri. Segala keadaan yang kita rasakan sekarang, adalah hasil dari usaha kita. Allah tidak pernah menyulitkan makhluknya. Saya percaya itu. Dan, apapun yang ada sekarang,itu adalah yang terbaik dari usaha yang telah kita lakukan. Jika ingin keadaan yang lebih baik, maka berusahalah lebih baik lagi. Fair kan?

Jika orang lain bisa melebihi kita, itu hanya pandangan dari satu sisi kita saja. Sebenarnya, masih banyak sisi lain dari mereka yang tidak pernah kita lihat. Kalau saya jadi mereka, tentu saja saya tidak akan menunjukkan betapa susahnya bisa berada di titik sekarang ini. Makanya, kata orang Jawa, orang itu cuma bisa sawang sinawang. Yang kelihatan aja yang enak, tapi dibalik itu ada banyak rintangan yang harus dilewati. Jadi kesimpulannya? Semua orang pasti melewati suatu proses “nggak enak” untuk mencapai hidupnya yang sekarang. Jadi? Nggak perlu iri, dengki, hasad!

(Pantai Utara Karangampel, Indramayu)
Seterjal apapun jalannya, tetap hadapi!

Dan, lihat betapa Allah sudah memberikan kesempurnaan yang seimbang dalam diri kita. Melihat ke bawah sesekali, juga tidak ada salahnya. Malah, lebih seringlah melihat ke bawah ketika kita merasa kurang. Karena, masih banyak di luar sana yang hidupnya lebih kekurangan dari kita. Proses pembelajaran itulah yang terus ditempa agar kita mau menerima diri sendiri. 

Kadang, waktu mendewasakan kita terlalu cepat tentang pelajaran bersyukur. Kata Ustadz Arifin Badri -hafidzahullah-, "Jadilah orang yang selalu cerdas dalam menyikapi setiap keadaan. Di saat mendapat kenikmatan, lihatlah orang yang ada dibawah Anda, agar nikmat tersebut semakin terasa nikmat. Di saat ditimpa kesusahan, lihatlah orang yang lebih susah dibanding Anda, agar kesusahan itu berubah dan terasa nikmat. Inilah kunci hidup bahagia. Sederhana, bukan?"

Tambahan dari saya, terimalah keadaannya. Nikmati, sabar, syukur, dan semangat dalam menjalani hidup!

Rabu, 11 Februari 2015

Menjadi Pendengar yang Baik

“Seorang penulis yang baik itu biasanya pendengar yang baik juga” - seorang teman

Oh iya. Saya bukan penulis yang baik, tapi saya ingin terus belajar menjadi pendengar yang baik. Saya juga lebih suka memulai percakapan dengan mendengarkan terlebih dahulu daripada memulai untuk membicarakan sesuatu. Kenapa? Karena mendengarkan itu sebagian dari proses mendapatkan informasi. Semakin kita menjadi pendengar yang baik, maka informasi yang kita dapatkan akan semakin banyak. Semakin banyak informasi, maka referensi tulisan pun akan bertambah. Untungnya di kita dong? hehe. Orang yang terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengarkan, biasanya ilmu yang dia punya cuma sedikit. Contohnya saya, waktu mata kuliah Survei Contoh terlalu banyak bermain sendiri daripada mendengarkan bapaknya ngejelasin, jadi bingung sendiri sekarang ._.

Pernah suatu ketika, dalam sebuah kelompok, saya melihat suatu interaksi dimana semua orang ingin berbicara dan ingin didengarkan. Lalu apa yang terjadi? Obrolannya jadi ngalor ngidul muter-muter tidak jelas. Semuanya bicara! Dan semua ingin didengarkan. Seharusnya, kalau ada transmitter mesti ada receivernya. Apa jadinya kalau banyak orang bicara tapi tidak ada yang mendengarkan? Ya jadinya seperti itu. Tidak ada informasi yang bisa masuk.

Yah, every good conversation starts with good listening. *simple but complicated*

Dan satu lagi, saya sebenarnya (jujur) merasa sangat dan sangat terganggu dengan kasus, “memotong pembicaraan”. Simpel kan? Sesimpel itu tapi bisa bikin kesel. Awalnya saya berpikir, mungkin ini masalah pribadi sendiri saja. Tapi ternyata, memotong pembicaraan orang lain bisa dimasukkan ke dalam etika yang buruk. Untuk berinteraksi dengan banyak orang, kita harus tahu cara memainkan etika yang baik supaya kita lebih dihargai. *efek habis baca jurnal tentang kepribadian dan hubungan sosial buat PKL*

Kadang kita yang malah tidak merasa, karena sudah terbiasa. Maka dari itu jangan pernah membiasakan sesuatu yang awalnya cuma dirasa-rasa. Dengarkan dulu mereka ngomong apa, baru nyahut. Semoga saya nggak termasuk ke dalam kategori orang-orang yang suka memotong pembicaraan. Kalau dengerin orang ngomong sampe ketiduran, sering. *eihh..

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya ia berkata :

وَلَا أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي الْقَوْمَ وَهُمْ فِيْ حَدِيْثٍ مِنْ حَدِيْثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيْثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوْكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُوْنَهُ

“Janganlah aku mendapatkan kamu mendatangi suatu kaum sedang mereka dalam pembicaraannya, lalu kamu memberikan kisahmu pada mereka dan memotong pembicaraan mereka dengannya, maka kamu telah membuat mereka bosan. Tapi, duduk dan diamlah. Apabila mereka memintamu untuk berbicara, maka berbicaralah kepada mereka sedang mereka mendengarkannya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6337)

Yang pasti, Ini merupakan salah satu pembelajaran untuk bisa menjadi pendengar yang baik, bro. Mari belajar bareng menjadi pendengar yang baik!

Minggu, 08 Februari 2015

Segitiga


Jika kita punya dua titik terpisah satu sama lain, maka jarak tempuh terdekat dari satu titik menuju titik lainnya adalah dengan menarik garis lurus diantara keduanya. Sedangkan kita semua pasti tahu, bahwa semakin pendek jarak tempuh, maka akan semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir, titik tujuan yang kita inginkan.

Bayangkan, jika ada dua kendaraan diletakkan di posisi awal yang sama, lalu para pengemudi diinstruksikan untuk memacu kendaraan masing-masing dengan kecepatan yang sama, menuju pos pemberhentian yang sama pula, namun diharuskan menempuh jalur berbeda, misalkan satu jalur merupakan garis lurus dan jalur lainnya memiliki beberapa belokan dan tikungan tajam. Semua juga akan mampu memastikan, bahwa mobil dengan jalur lurus akan tiba lebih dahulu di titik pemberhentian terakhir.

Kunci lekas sampai adalah, tetaplah berjalan pada garis lurus. Itu saja.

Saya ingin meminjam kaidah ketaksamaan segitiga yang sering digunakan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan matematis, bahwa jika ada tiga titik berbeda, A, B, dan C yang tak segaris, maka secara sederhana, garis (AC) akan selalu kurang dari atau sama dengan garis (AB + BC). Artinya, untuk mencapai Surabaya, dari Jakarta, kita tak perlu iseng melewati Pontianak lebih dulu, berlayar dua kali, baru kemudian berlabuh di Tanjung Perak. Kecuali, kita sedang mengalami gangguan rasionalitas pikir.

Namun tampaknya, hidup tak sesederhana ketaksamaan segitiga.

Andaikan saja dua titik yang saya sebutkan di awal tulisan dikonversikan pada ‘satuan momentum awal dan akhir kehidupan’ maka saya sudah tidak mampu lagi menjelaskan secara presisi, garis macam apa yang telah saya bentangkan selama ini, di antara kedua titik tadi. Beberapa hari lalu, disuatu malam, ketika saya berkesempatan merunut kembali setiap fase hidup yang telah dilewati, akhirnya saya sadar, telah ‘ratusan’ belokan dan ‘puluhan’ tikungan tajam yang sengaja atau tak sengaja dilintasi. Benar bahwa saya turut ‘berkendara’ bersama mereka lainnya, tapi seringkali tiba-tiba tuas kemudi terdistraksi oleh persimpangan yang tiba-tiba muncul di tengah perjalanan.

Memang, memisalkan akhir kehidupan sebagai titik tujuan akhir adalah sebuah ketepatan.

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, penyadar dari kelalaian kita.  Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

Saya belum tahu persis bagaimana kira-kira wajah titik akhir saya. 

Ada sepotong kisah tentang seorang sahabat tercinta, dulunya adalah orang yang menuntun saya untuk mengenal ajaran islam yang haq (yang benar). Awalnya, ia begitu gigih menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun selalu memberikan wejangan dan memberikan beberapa bacaan tentang Islam kepada saya. Namun beberapa tahun kemudian, kami melihatnya begitu berubah. Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah suatu yang wajib bagi seorang pria, lambat laun menjadi pudar dari dirinya. Ajaran tersebut tertanggal satu demi satu. Dan setelah lepas dari dunia kampus, kabarnya pun sudah semakin tidak jelas. Saya hanya berdo’a semoga ia diberi petunjuk oleh Allah. 

Saya beranggapan, tidak pernah ada konsep jarak pada hidup sesungguhnya. Kejam rasanya ketika kita menyebutkan bahwa si ini sedang berposisi di belakang si itu, si Fulan telah mendahului si Falan, atau beragam justifikasi posisi lainnya. Bukankah kita ini adalah para individu unik dengan titik destinasi yang bisa jadi sama namun cenderung memiliki beribu cara yang berbeda? Kita mungkin memang sedang berkendara bersama-sama, tapi tampaknya kita tidak sedang beradu kecepatan lalu mendasarkan keberhasilan pada seberapa sering kita mendahului kendaraan lain dan seberapa cepat kita sampai di garis finish. Tidak, hidup akan terasa demikian tergesa jika kita menjalaninya dengan cara seperti itu.

Hingga kini, saya masih sangat menikmati jalur yang telah dan akan saya lalui. Sepanjang perjalanan, saya terus belajar bagaimana saling berbagi bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, ketika mendadak harus kekurangan bahan bakar. Saya menyadari sepenuhnya kebodohan diri sendiri ketika ternyata kendaraan saya hanya berputar tanpa kejelasan. Saya belajar menemukan titik balik, berusaha menggenggam erat 'bara api', lalu berusaha kembali menuju destinasi. Kadang saya kelelahan, tapi tidak akan ada yang mampu mengalahkan kepuasan ketika ada sesuatu berharga yang ditemukan secara sadar dalam satu rentang perjalanan.

Ketika kita ingin berjalan di jalan yang lurus dan memenuhi tuntutan istiqomah, terkadang kita tergelincir dan tidak bisa istiqomah secara utuh. Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini? Jawabnnya adalah pada firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6). 

Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah).

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 246)

Ada konsep solusi kuadrat terkecil, berakar dari konsep ketaksamaan segitiga, untuk mendapatkan solusi optimal dari suatu permasalahan model matematis. Tapi hidup, sepertinya bukan lagi sekadar model matematis yang dapat sedemikian rupa disederhanakan dan diasumsikan kondisi awalnya. Hidup, mungkin akan lebih memberi arti jika kita tetap berjalan di atas jalan utama yang lurus (al-Qur'an dan as-Sunnah) sehingga bisa terus kokoh dalam agama.

Allahul musta'an

Selasa, 30 Desember 2014

Surat Cinta untuk Kopmers


"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu otot. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."

Awalnya saya hanya mahasiswa apatis yang tak peduli pada sekitar, awalnya saya hanya mahasiswa yang lebih suka menghabiskan waktu di kost daripada di kampus, awalnya saya hanya mahasiswa statistik yang menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan belajar tanpa mengerti bagaimana berorganisasi.

Sampai pada suatu masa ketika saya dipertemukan dengan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kopma STIS (sekarang Unit Dana Usaha) pada 20 Januari 2013, bersama 9 orang terpilih lainnya. Awalnya kita semua asing, tapi akhirnya bisa bersahabat juga di Kopma. Saya banyak belajar di sini, dari mulai adaptasi, belajar berorganisasi, belajar berwirausaha, belajar berkoordinasi, belajar jadi pemimpin, belajar peduli, belajar peka, belajar memahami orang lain, belajar mengatasi masalah, belajar bekerja sama, belajar bermuamalah, belajar kehidupan, belajar banyak hal. Kami saling berbagi, 'ilmu, cerita, canda, tawa, tangis, getir, dan sebagainya.

Dua tahun ini adalah dua tahun yang sangat berkesan, sangat membanggakan, sangat membahagiakan, dan sangat mengharukan, memiliki adik-adik, teman-teman, dan kakak-kakak yang begitu hangat, begitu peduli, begitu perhatian, begitu luar biasa, melihat kalian begitu kompak, begitu erat ikatan kekeluargaan yang terjalin. Setahun, dua tahun 'bekerja' bersama, sesulit apapun kondisinya, serumit apapun birokrasinya, tak terasa sebagai beban karena komitmen, keikhlasan, ketulusan, kesukarelaan masing-masing individu dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Berlebihan kah saya? ah, biarlah memang begitulah kenyataan dan fakta yang ada :')

Pengurus Kopma 2013/2014 dan alumni Kopma 
pada Seminar PNS Preneurship Kopma STIS 2014

Itulah yang membuat kami, Kopmers (anak-anak Kopma) tak menganggap Kopma sebagai sebuah unit, UKM, ataupun organisasi, melainkan lebih dari itu, kami adalah sebuah keluarga, keluarga Kopma :)

Saat saya bersama kehidupan saya yang lain, tetap saya nyatakan mereka keluarga saya. Keluarga yang memang begitu adanya. 

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya...

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya :)

Jakarta, 30 Desember 2014
akhir masa jabatan kepengurusan

Sabtu, 20 Desember 2014

Mencari Sahabat Dunia Akhirat, Sesosok Penuh Makna

Bismillaah,


Seorang sahabat adalah sosok yang sangat berharga bagi kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang akan terwarnai dengan hadirnya seorang sahabat di sisinya. Jika sahabatnya baik, maka ia akan menjadi baik pula. Namun bila sahabatnya buruk, maka sudah sangat mungkin terjadi ia akan terwarnai olehnya.

Indah sekali apa yang pernah Rasulullah ibaratkan tentang seorang sahabat yang beliau umpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika berteman dengan penjual minyak wangi, minimal akan mendapat dan mencium wanginya. Berteman dengan seorang pandai besi, bisa-bisa percikan apinya mengenai tubuh dan juga kedapatan bau busuknya. Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan sahabat sejati, yang memuji di belakangnya dan mengoreksi di depannya.

Ada sebuah pertanyaan, apakah persahabatanmu sekadar permainan yang bisa ditinggalkan ketika kamu merasa bosan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diyakini bahwa kehidupan yang kita jalani ibarat sebuah perjalanan. Ada pepatah mengatakan, “Carilah teman sebelum melakukan perjalanan.” Sebab teman bagi seorang musafir bagaikan kehidupan dan ruhnya.

Oleh sebab itu jika persahabatan hanya sekadar permainan, maka tak ayal perjalanan ini tidak nyaman hingga tujuan bahkan lebih buruk dari itu.

Timbul lagi sebuah pertanyaan, “Lalu siapakah yang layak menjadi sahabat saya?”

Rasulullah telah bersabda bahwa agama seseorang bisa dilihat dari agama teman dekatnya. Itu artinya bahwa perangai, perilaku, dan tabiat seseorang dapat dilihat kepada siapakah seseorang itu bergaul. Maka hendakalah berhati-hati dalam memilih seorang teman. Karena bisa jadi suatu saat engkau akan menjerit dan menyesali keputusanmu persis sebagaimana firman Allah ;

“Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.“ [Al-Furqan : 28-29]

Maka, relakah engkau akan bernasib demikian??

Alangkah indahnya seorang sahabat, yang ketika kita berbuat salah ia menegur dan menasihati, bukan karena rasa benci, namun karena begitu cintanya ia terhadap kita sehingga tak bosan-bosannya mengingatkan akan sebuah kebenaran. Namun seringkali kita terlupa, termakan oleh egoisme diri, merasa lebih baik, lebih banyak makan asam garam, sehingga menafikan sebuah kebenaran yang sebenarnya datang dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam lewat lidahnya. Alangkah indahnya seorang sahabat yang mau ikut menangis bersama, ketika melihat sahabat lainnya jatuh dalam kubangan nista dan dosa, merasa kasihan, bukan kebencian hingga bergetar bibir menahan tangis dan kesedihan, terluka jiwa yang fitrah oleh tajamnya belati hawa nafsu.

begitulah seorang sahabat sejati itu, 
untuk para sahabatku yang saya cintai,
baarakallaahu fiikum *titik dua tutup kurung*

Jakarta, dalam pekatnya malam

Selasa, 09 Desember 2014

Tips Hemat Nge-Kost di Jakarta (Bukan Pelit)

Apa bedanya hemat sama pelit?

Hemat itu mengatur pengeluaran sebijaksana mungkin, demi kepentingan bersama dan jangka panjang. Kalau uang kita sisa, bisa buat yang lain. Seperti membantu teman, atau membantu orang tau, atau membantu saudara. Masih ada pemikiran untuk menolong sesama.

Kalau pelit? Pelit itu, mengatur pengeluarkan seminimalis mungkin dan memaksimalkan bergantung pada traktiran orang lain. Ehm.. parasit. Pelit itu mikirin diri sendiri aja. Misal, punya uang, tapi bilang nggak punya uang. Semacam itu lah.


Dan tips ini, saya buat akibat efek kenaikan harga kost, harga makan, dan harga-harga yang lain akibat efek kenaikan BBM. Jadi saya putuskan untuk berbagi tips hidup hemat yang sudah saya latih dari SD. Kalau mau biaya hidup tinggi, saya rasa nggak perlu tips ya. Tinggal buang-buang uang aja di jalan, ntar juga habis uangnya. Hehe. Yang perlu tips itu biasanya untuk teman-teman yang mau berhemat. Saya bagi tips yang biasa saya pakai ya (bisa cocok bisa juga enggak). Ingat, ini untuk hemat. Hemat bukan berarti pelit! Di bold ya, HEMAT DAN BUKAN PELIT.

  1. Biasakan hidup sederhana. Masalahnya, standard hidup sederhana tiap orang beda-beda ya. Ada yang sebelumnya biasa naik mobil, coba-coba disini naik motor aja. Selain menghindari macet, juga lebih hemat bensin. Ada juga yang biasanya naik motor, disini milih jalan kaki aja. Selain nggak perlu keluar uang buat beli bensin, juga lebih sehat. Alhamdulillah dari SD hingga sekarang saya naik sepeda manual, tapi sekarang lebih sering jalan kaki sih, soalnya sepedanya lagi rusak dan lagi males untuk memperbaiki
  2. Cari kost-an yang sederhana aja sih. Budget untuk kost-an kantong mahasiswa sih biasanya berkisar antara 300-600 ribu (tiap orang beda-beda sih, biasanya tergantung fasilitasnya). Kalau saya sih yang penting bisa buat tidur. Toh aktivitas kita nggak melulu di kost-an toh? Ngontrak juga oke-oke aja, tapi lebih baik tanggung rame-rame biar jatuhnya lebih murah.
  3. Sedekah. Setelah dapet TID (karena saya kuliah di perguruan tinggi kedinasan, alhamdulillah masih dapat tunjangan) atau kiriman orang tua, langsung sisihkan sedikit untuk disedekahin bro! Tanya kenapa?

    Allah berfirman:
    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”
  4. Investasi di awal. Buat saya, yang suka membuat planning hidup masa depan, berpikir 2-3 langkah ke depan, menyisihkan investasi di awal itu wajib banget. Karena berapapun uang yang dipegang, biasanya nggak bersisa. Tapi untuk teman-teman yang bisa menyisakan uang di akhir, silakan tempatkan poin ini di urutan terakhir. Dan kenapa investasi? Karena investasi membuat uang kita bisa bertambah banyak. Ya nggak tiba-tiba bertambah banyak sih. Tetap ada aktivitas di dalamnya yang bisa membuat uang kita aktif. Ada banyak cara untuk investasi. Cari yang halal bro bro dan jangan niatkan investasi untuk menganakpinakkan uang, tapi benar-benar untuk modal/simpanan kebutuhan masa depan. Sementara ini saya baru investasi emas (lumayan harga emas trendnya naik terus, meskipun fluktuatif banget), dan kata mama sih bisa buat modal nikah atau naik haji, in syaa' Allah, hehe.
  5. Belanja seperlunya. Contoh, mie instan itu perlu, tapi nggak sampe beli sekardus juga kali bro. Jangan berlebihan. Mentang-mentang mau hemat, tiap hari makan mie instan terus. Hemat nya sih iya, tapi badan penyakitan mau?
  6. Butuh atau Ingin? Kalau butuh, langsung beli. Kalau ingin, tunda dulu. Biasanya “ingin” itu cuma sesaat. Dengan menunda keinginan kita, sekaligus membuat kita berpikir panjang. Kalau sudah ditunda, ternyata masih ingin juga, ya baru dibeli. Daripada kena siksa batin. Kalau pas balik ternyata kehabisan, ya berarti bukan rejeki kita. Haha. Take it easy bro. Kalau ada promo, boleh juga tuh. Hehe (promo hunter)
  7. Makan sehat. Ingat! makanan sehat nggak selalu mahal! Makan di warteg deket kost yang tempatnya bersih dengan menu sayur dan tempe juga bisa dibilang sehat. Buat makan siang di kampus, bisa beli di Kopma (masih aja promosi :p) atau di kantin. Kalau masih berasa mahal, bisa beli di warteg di dekat kost untuk makan siang di kampus atau masak sendiri. Yang pasti, Sisakan uang di rekening untuk makan selama sebulan. Kasih target berapa rupiah untuk makan. Kenapa? Karena biasanya, paling banyak menghabiskan uang di makanan. Ingat! Makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan.
  8. Nabung. Nabung disini buat hal-hal yang nggak terduga. Misal kalau kita sakit, atau keluarga butuh uang. Bisa juga sebagai investasi masa depan.
  9. Jadi Jomblo yang banyak teman. Jomblo sih jomblo, tapi jadilah jomblo yang bermartabat dan berwibawa, jangan mau jadi forever alone juga jangan jadi pengemis cinta. Perbanyaklah teman! kalau banyak temen itu enak bro. Susah senang selalu bersama. Banyak info yang didapat kalau kita banyak teman. Mulai dari info kerjaan, info acara-acara seru, sampai info makanan murah meriah. Dan, kalau  ada apa-apa dibantuin. Tuh, bermanfaat kan. Kalau punya pacar itu susah loh. Pacaran itu pake ongkos bro, uang tekor, maksiat jalan terus. Ingat! Jangan sekali-kali mendekati zina! Saya bersyukur sih masih jomblo (lebih bersyukur kalo udah nikah), lebih hemat juga. Nggak pacaran, nggak keluar uang buat hal-hal yang nggak penting dan berujung maksiat. Mending ditabung buat nikah, daripada buat pacaran. *eh
  10. Jalin hubungan baik dengan tetangga. You know lah, apalagi kalau dapat undangan nikahan atau waktu kurban. Hoho
Nah, sedikit-sedikit itulah tips dari saya. Kalau ada salah dan nggak cocok, maaf ya. Mau berbagi tips yang lain? Boleh banget! :D

_______________________
Jakarta, 9 Desember 2014

Jumat, 14 November 2014

Sederhana Saja

Tiba-tiba hujan turun tanpa intro. Genangan air menghalau langkahku untuk melangkah ke warung makan di seberang jalan. Tapi perut ini lapar. Dan makanan tak kunjung datang hari itu. Nekat adalah solusi terakhir mengakhiri penderitaan. Berkecipak, berjingkat dan melompat kecil akhirnya bisa juga lolos. Yah, walaupun sedikit basah celanaku, tapi tak mengurungkan niatku untuk memanjakan perut.

Sederhana saja yang saya pesan untuk perut saya. Nasi, sayur dan tempe goreng lengkapi dengan segelas teh manis hangat. Tak ingin muluk-muluk saya memanjakan perut. Ala kadarnya saja asal kenyang di akhir cerita. Sebentar saja lamunanku terjebak pada bayangan yang terpantul di gelas teh didepanku.

'Bahagia', kata dasar yang sederhana terucap namun mampu meledakkan hati menjadi kepingan-kepingan senyum yang tak bisa dilunasi hanya dengan berjanji. Entah petir apa yang memaksaku melangkah menjauh dari kotaku hanya untuk mengkalkulasi sebuah kemungkinan-kemungkinan. Tapi apa salahnya, tak ada salahnya mengejar kemungkinan-kemungkinan itu dan mewujudkannya menjadi sesuatu yang bisa dikenang ketika duduk dibangku taman, kelak ketika menjadi tua. Mungkin..

Ahh.. tehku tak hangat lagi. Terlalu lama saya melamun. Yang saya sadari saya sudah kenyang dan saya tutup dengan delapan ribu perak. Dan siang itu saya masih di kota ini, ketika saya menyambut setiap momen dengan sepotong senyuman. Saya hanya melihat kesederhanaan menikmati kebahagiaan atas semua yang telah saya lakukan.

Hai..

Rabu, 29 Oktober 2014

Observasi

Saya suka mengamati hal-hal yang ada di sekelililng saya, tapi jangan bayangkan saya adalah peneliti yang mendefinisikan berbagai fenomena melalui metodologi yang ilmiah. Saya hanya suka melihat, mengamati, dan mengambil kesimpulan saya sendiri tanpa ada kesan ilmiah sama sekali. Kebanyakan adalah hal yang kecil dan sepele. Saya suka mengamati bagaimana sekelompok preman di salah satu fasilitasi publik yang mengekspresikan rasa ingin tahu mereka mengenai kondisi sosial di sekitar mereka dengan antusias, saya suka mengamati bapak-bapak pemulung di sekitar sungai di sudut-sudut ibu kota (lihat tulisan sebelumnya), saya suka mengamati jalanan dan gang-gang sempit di sela-sela gedung dan bangunan di ibu kota, saya suka mengamati gaya hidup penduduk desa atau suku pedalaman yang selalu terlihat ramah dan kadang memunculkan kesan misterius (seperti Sangiang, Baduy, Dayak, Jawa, dll), saya suka mengamati gerak-gerik dan karakter teman-teman saya, dan hal kecil dan sepele yang lainnya.

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi saya belajar banyak dari hal-hal yang saya amati di atas. Dan prosesnya jauh lebih menyenangkan daripada hanya mendengarkan dosen di dalam kelas. Memang apa yang saya dapatkan bukanlah teori-teori seperti yang bisa saya dapatkan dari buku sosial research atau buku teori sejenis lainnya, akan tetapi dari “proses pengamatan” yang saya lakukan, saya dapat langsung membandingkan antara teori yang biasanya sangat ideal dengan realita yang sifatnya lebih relatif.

Namun, memang begitulah adanya, tak jauh berbeda seperti apa yang disampaikan oleh dosen Metode Penelitian saya di kampus di Otista No 64C, Jakarta Timur, pak Waris Marsisno. "Penelitian ilmiah dapat dimulai dari mengamati dan peka terhadap hal-hal kecil dan sepele di sekitar Anda"

Sependek pengalaman saya, ada beberapa hal yang terus ditekankan berulang-ulang. Salah satunya adalah bahwa tugas seumur hidup manusia adalah belajar, dan proses pembelajaran dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Definisi belajar tidak dapat dibatasi oleh dinding-dinding sekolah dengan deretan meja dan kursinya. Pun tidak terbatas oleh lembaran-lembaran kertas rangkuman maupun modul.

Belajar tidak terbatas oleh mata pelajaran, mata kuliah, maupun silabus-silabus pendidikan. Memaknai kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran, merenung tentang kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Dari proses tersebut kita akan mendapatkan pelajaran berharga yang tidak kita dapatkan selama di ruang kelas.

Belajar bukan hanya dominasi mata, telinga, otak dan “indera-indera fisik” yang lainnya. Belajar juga merupakan pekerjaan hati. Apalagi jika kita sedang belajar mengenai kehidupan, belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai sosial.

Ya, inilah waktunya, di tingkat 3 jurusan Statistika Sosial dan Kependudukan, saatnya 'hobi' mengamati yang hanya iseng-iseng sudah saatnya diaplikasikan secara ilmiah berdasarkan metode ilmiah yang sistematik, terorganisir, berbasis data, dan dengan pendekatan-pendekatan ilmiah yang lain.

Selamat mengamati, selamat meneliti!