Tampilkan postingan dengan label Ruang Kosong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Kosong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2026

Tentang Pesan yang Tak Pernah Terkirim

 Ada ironi yang sering datang diam-diam dalam hidup. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi peringatan, hanya tiba-tiba berdiri di hadapan kita ketika semuanya sudah terlambat. Saya menemukannya saat menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya belajar mengelola komunikasi untuk organisasi, tetapi gagal mengelola komunikasi untuk seseorang yang pernah menjadi rumah.

Di pekerjaan, saya dikenal sebagai orang yang bisa menjembatani banyak kepentingan. Ketika ada kesalahpahaman antar unit kerja, saya membantu merangkai kalimat agar tidak ada yang merasa disalahkan. Ketika publik mulai mempertanyakan sebuah kebijakan, saya menyusun narasi yang mampu menjelaskan tanpa memperkeruh suasana. Ketika krisis datang, saya belajar bahwa kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat bisa menyelamatkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Saya terbiasa mendengarkan, memahami sudut pandang yang berbeda, lalu menemukan titik temu di antara semuanya.

Namun ternyata kemampuan itu tidak otomatis pulang bersama saya ke rumah.

Hubungan pribadi tidak bekerja seperti siaran pers atau strategi komunikasi. Tidak ada pedoman baku, tidak ada tim pendukung, tidak ada ruang rapat untuk menyamakan persepsi. Ada dua manusia yang sama-sama lelah, sama-sama memiliki ego, luka, harapan, dan cara mencintai yang berbeda. Dan di situlah saya kalah.

Saya masih ingat masa ketika percakapan dengannya terasa begitu mudah. Pesan sederhana di pagi hari bisa menjadi alasan tersenyum sepanjang hari. Kami bisa berbicara berjam-jam tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tentang mimpi, rencana masa depan, tempat yang ingin dikunjungi, atau sekadar makanan apa yang akan dimakan malam nanti. Saat itu komunikasi terasa alami, tanpa perlu dipelajari.

Entah sejak kapan semuanya berubah menjadi laporan singkat yang dingin. Percakapan yang dulu penuh rasa ingin tahu perlahan berubah menjadi daftar kewajiban. Saya sibuk memahami kebutuhan publik yang tidak pernah saya temui, tetapi mulai gagal memahami seseorang yang setiap hari ada di dekat saya. Saya mampu membaca sentimen masyarakat dari ribuan komentar, tetapi tidak lagi mampu membaca kesedihan dari tatapan matanya.

Mungkin kesalahan terbesar bukan karena kami sering bertengkar. Semua pasangan bertengkar. Kesalahan terbesar adalah ketika kami mulai merasa tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya kami rasakan. Ketika diam menjadi lebih mudah daripada jujur. Ketika asumsi menggantikan percakapan. Ketika masing-masing mulai yakin bahwa yang lain pasti sudah mengerti, padahal kenyataannya tidak.

Lucunya, saya sering memberikan saran kepada orang lain tentang pentingnya komunikasi dua arah. Tentang pentingnya mendengarkan sebelum merespons. Tentang perlunya membangun kepercayaan sebelum menyampaikan pesan. Semua teori itu terdengar begitu masuk akal di ruang kerja. Tetapi di rumah, saya justru lebih sering menyiapkan jawaban daripada mendengarkan. Lebih sibuk membela diri daripada memahami. Lebih fokus pada siapa yang benar daripada apa yang sebenarnya sedang terluka.

Dan seperti banyak krisis lainnya, keretakan hubungan tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dibiarkan terlalu lama. Dari pesan yang tidak dibalas dengan sungguh-sungguh. Dari permintaan maaf yang ditunda. Dari pelukan yang semakin jarang. Dari kalimat "nanti kita bicarakan" yang ternyata tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Sampai akhirnya ada hari ketika kami duduk berhadapan dan menyadari bahwa yang hilang bukan lagi solusi, melainkan kemampuan untuk saling menjangkau. Kami masih mengenal nama satu sama lain, masih mengingat kebiasaan-kebiasaan kecil yang pernah membuat kami jatuh cinta, tetapi ada jarak yang entah bagaimana tumbuh begitu jauh di antara kami.

Peristiwa itu mengajarkan saya sesuatu yang tidak pernah saya temukan dalam pelatihan kehumasan mana pun. Bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan dengan efektif. Komunikasi adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain. Mendengar tanpa sibuk menyiapkan sanggahan. Memahami tanpa harus selalu menyetujui. Dan yang paling sulit, mengakui bahwa kadang-kadang kita ikut menjadi bagian dari masalah yang sedang kita coba selesaikan.

Ada masa-masa ketika saya pulang dari kantor setelah berhasil menangani persoalan yang rumit, lalu duduk sendirian di ruang yang terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi cerita yang menunggu untuk didengar. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya bagaimana hari saya berjalan. Pada saat-saat seperti itu, penghargaan, capaian, dan pujian profesional terasa kehilangan sebagian maknanya. Saya menyadari bahwa reputasi kelembagaan yang berhasil saya jaga tidak mampu menggantikan kehilangan satu hubungan yang gagal saya rawat.

Saya tidak menulis ini sebagai upaya mencari siapa yang salah. Waktu sudah berlalu terlalu jauh untuk itu. Saya juga tidak menulis ini sebagai kisah tentang seseorang yang berhasil mengambil hikmah lalu melanjutkan hidup dengan ringan. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Karena ada kehilangan yang tidak selesai hanya dengan berjalannya waktu.

Banyak orang berkata bahwa waktu akan menyembuhkan. Bahwa suatu hari nanti semua akan terasa biasa saja. Namun hingga hari ini, saya belum benar-benar memahami kalimat itu. Ada nama yang masih membuat hati bergetar ketika tanpa sengaja disebut. Ada kenangan yang tetap hidup meski sudah berkali-kali berusaha saya letakkan di tempat yang jauh. Ada percakapan-percakapan lama yang masih sesekali saya ulang dalam kepala, seolah mencari bagian mana yang seharusnya saya ucapkan berbeda.

Ironisnya, sebagai humas saya tahu bahwa setiap krisis membutuhkan evaluasi pascakejadian. Kita mempelajari apa yang salah agar tidak terulang kembali. Tetapi dalam urusan hati, tidak semua evaluasi menghasilkan jawaban. Kadang yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan yang terus hidup tanpa pernah menemukan penutupnya.

Mungkin itu sebabnya tulisan ini ada.

Bukan untuk menutup cerita. Bukan untuk menyatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Justru karena ada bagian dari diri saya yang masih tinggal di masa ketika ia masih ada. Masih tinggal pada tawa yang dulu memenuhi hari-hari biasa. Masih tinggal pada rencana-rencana sederhana yang tidak pernah sempat menjadi kenyataan.

Dan sampai hari ini, di tengah berbagai keberhasilan menjaga komunikasi organisasi, membangun hubungan dengan publik, serta meredakan berbagai krisis yang datang silih berganti, ada satu hal yang masih belum berhasil saya lakukan:

berdamai dengan kehilangan seseorang yang pernah saya anggap sebagai rumah.

Rabu, 15 Juli 2015

Bunga


Tiap orang memiliki kekaguman,
Ada yang hanya disimpan di tempat terdalam,
Ada yang disampaikan untuk berusaha mendapatkan,
Ada yang hanya sebatas menjadi sosok pembentuk semangat,
Hingga ada yang menjadikan sebagai standar idaman.

Tiap orang punya cara mengungkapkan kekaguman,
Ada yang mencoba menapaki jejak sang pujaan,
ada yang mencari cari jati diri sesungguhnya dari sosok impian,
Di ujung jalan kekaguman, terkadang berubah menjadi jalan cinta kecemburuan,
Berbunga bunga jika ternyata yang dikagumi memberi respon,
Hingga cemberut dan bete kala yang dikagumi merespon yang lainnya.

Tiap orang memiliki kekagumannya,
ada yang menjadi baik karenanya,
pula ada yang jatuh ke jurang bersamanya,
Maka berdoalah agar kekaguman anda membawa kebaikan di dunia dan akhirat.

Terinspirasi dari obrolan ringan bersama beberapa kawan
Ditulis di Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Senin, 23 Maret 2015

Menerima Diri Sendiri

Sebagian dari mereka bilang, salah satu hal yang sulit dilakukan adalah mau menerima diri sendiri. Segala yang kita miliki, kelebihan hingga kekurangan. Memang bukan sesuatu yang mudah, terutama ketika kita selalu merasa kurang dan kurang.

Rumput tetangga, selalu terlihat lebih hijau. Katanya. Seandainya saya bisa seperti dia. Seandainya saya ini. Seandainya saya itu. Seandainya dan seandainya lainnya.

Sekarang, saya mengerti maksud mereka, tentang mau menerima diri sendiri. Segala keadaan yang kita rasakan sekarang, adalah hasil dari usaha kita. Allah tidak pernah menyulitkan makhluknya. Saya percaya itu. Dan, apapun yang ada sekarang,itu adalah yang terbaik dari usaha yang telah kita lakukan. Jika ingin keadaan yang lebih baik, maka berusahalah lebih baik lagi. Fair kan?

Jika orang lain bisa melebihi kita, itu hanya pandangan dari satu sisi kita saja. Sebenarnya, masih banyak sisi lain dari mereka yang tidak pernah kita lihat. Kalau saya jadi mereka, tentu saja saya tidak akan menunjukkan betapa susahnya bisa berada di titik sekarang ini. Makanya, kata orang Jawa, orang itu cuma bisa sawang sinawang. Yang kelihatan aja yang enak, tapi dibalik itu ada banyak rintangan yang harus dilewati. Jadi kesimpulannya? Semua orang pasti melewati suatu proses “nggak enak” untuk mencapai hidupnya yang sekarang. Jadi? Nggak perlu iri, dengki, hasad!

(Pantai Utara Karangampel, Indramayu)
Seterjal apapun jalannya, tetap hadapi!

Dan, lihat betapa Allah sudah memberikan kesempurnaan yang seimbang dalam diri kita. Melihat ke bawah sesekali, juga tidak ada salahnya. Malah, lebih seringlah melihat ke bawah ketika kita merasa kurang. Karena, masih banyak di luar sana yang hidupnya lebih kekurangan dari kita. Proses pembelajaran itulah yang terus ditempa agar kita mau menerima diri sendiri. 

Kadang, waktu mendewasakan kita terlalu cepat tentang pelajaran bersyukur. Kata Ustadz Arifin Badri -hafidzahullah-, "Jadilah orang yang selalu cerdas dalam menyikapi setiap keadaan. Di saat mendapat kenikmatan, lihatlah orang yang ada dibawah Anda, agar nikmat tersebut semakin terasa nikmat. Di saat ditimpa kesusahan, lihatlah orang yang lebih susah dibanding Anda, agar kesusahan itu berubah dan terasa nikmat. Inilah kunci hidup bahagia. Sederhana, bukan?"

Tambahan dari saya, terimalah keadaannya. Nikmati, sabar, syukur, dan semangat dalam menjalani hidup!

Sabtu, 14 Februari 2015

Skenario Anak Jalanan

Beberapa minggu yang lalu, di perjalanan dari sebuah kompleks pertokoan di pinggiran Ibu Kota menuju kos, saya melihat pemandangan yang kelu. Sebenarnya, bukan kali pertama atau kedua saya melihat ini, mungkin karena jarum jam sudah menunjuk pukul 23.00, skenario seperti itu jadi terlihat tidak biasa

Apa yaa..

Saya melihat dua remaja perempuan, masing-masing membawa anak kecil. Anak kecil yang satu digendong dengan pose yang asal-asalan, dan anak kecil yang satu lagi dituntun sambil ditarik-tarik. Saya yakin, dua anak kecil itu, umurnya belum lebih dari 2 tahun. Dan, perlakuan seperti itu pasti sangat tidak mengenakkan.

Saat itu, taksi yang saya naiki sedang berhenti karena traffic light dalam kondisi merah. Dan, dua remaja itu bergantian menghampiri taksi ini berharap mendapat belas kasih. Ya, sudah jadi rahasia umum, skenario menarik simpati orang lain dengan membawa anak kecil itu dijadikan ajang untuk mendapatkan uang. Bahasa kasarnya, ngemis.

Hngg..

“Biarkan aja mas, udah biasa kok anak-anak itu. Itu, orang tuanya ada di pojok sana tuh. Ngeliatin mereka dari jauh. Enak kan, orang tua nya duduk-duduk di pinggir, anak-anaknya disuruh ngemis. Orang tua nggak bener tuh.”, kata supir taksi dengan sedikit logat Bataknya.

Saya lihat ke arah yang ditunjuk oleh Bapak supir taksi itu, dan memang disana banyak gerombolan orang-orang dewasa. Tapi, saya sendiri juga tidak tahu apakah mereka itu orang tua sungguhan atau tidak.

Sementara itu, anak kecil itu, yang berjalannya saja masih belum benar. Kadang sempoyongan kesana, kesini, dan mau jatuh. Tiap kali anak kecil itu, berjalan miring ke kiri, oleh remaja itu langsung ditarik dan dijendul kepalanya. Sekali dua kali, anak kecil itu tertawa nggak bersalah. Tapi, lama-lama, dia nangis. Ya, benar saja nangis. Diperlakukan kasar kayak gitu. Pasti kepalanya sakit kan.

Sedangkan, anak kecil yang digendong oleh remaja satunya, tiap kali gerak sedikit langsung dicubit. Mungkin si remaja itu sudah lelah, menggendong anak kecil itu berat, sendirian lagi.

Dan, ini sudah jam berapa?

Jam 11 malam, di saat balita harusnya sudah tidur lelap di rumah. Tapi balita-balita itu masih berkeliaran di jalanan, dengan baju yang lusuh dan tanpa alas kaki! Di luar itu, hujan baru saja reda, dan dengan kaos tipis lusuh itu tidak meyakinkan sekali bisa memberi mereka rasa hangat.

Dalam skenario ini ada tiga subjek: anak kecil, remaja, dan orang tua. Jika ingin menyalahkan, setiap orang tentu tidak ingin disalahkan. Jadinya pasti saling menyalahkan satu dengan yang lain dan pada akhirnya semua akan merasa benar. Lah, jadi salah kaprah. Jadi salah siapa?

Ini bukan persoalan benar atau salah, karena putaran roda itu semakin tersistem. Dari himpitan ekonomi, nasib buruk, putus asa, sampai budaya malas. Dan ujung tombaknya adalah pola pikir yang merusak semuanya. Mungkin, ada yang merasa “toh hidup di dunia ini cuma numpang lewat saja, cepatlah berlalu dan berganti dengan kehidupan yang baru.”

Biar saja, perasaan bersalah itu muncul di masing-masing orang. Saya pun jadi ikut merasa bersalah, karena saya belum bisa melakukan apapun untuk menghentikan kesalahan yang tersistem itu.

Hanya saja, terpikir bagaimana rasanya jadi balita itu?

“Seandainya ada kesempatan untuk hidup sekali lagi, bolehkan kami memilih?” :'

Jumat, 14 November 2014

Sederhana Saja

Tiba-tiba hujan turun tanpa intro. Genangan air menghalau langkahku untuk melangkah ke warung makan di seberang jalan. Tapi perut ini lapar. Dan makanan tak kunjung datang hari itu. Nekat adalah solusi terakhir mengakhiri penderitaan. Berkecipak, berjingkat dan melompat kecil akhirnya bisa juga lolos. Yah, walaupun sedikit basah celanaku, tapi tak mengurungkan niatku untuk memanjakan perut.

Sederhana saja yang saya pesan untuk perut saya. Nasi, sayur dan tempe goreng lengkapi dengan segelas teh manis hangat. Tak ingin muluk-muluk saya memanjakan perut. Ala kadarnya saja asal kenyang di akhir cerita. Sebentar saja lamunanku terjebak pada bayangan yang terpantul di gelas teh didepanku.

'Bahagia', kata dasar yang sederhana terucap namun mampu meledakkan hati menjadi kepingan-kepingan senyum yang tak bisa dilunasi hanya dengan berjanji. Entah petir apa yang memaksaku melangkah menjauh dari kotaku hanya untuk mengkalkulasi sebuah kemungkinan-kemungkinan. Tapi apa salahnya, tak ada salahnya mengejar kemungkinan-kemungkinan itu dan mewujudkannya menjadi sesuatu yang bisa dikenang ketika duduk dibangku taman, kelak ketika menjadi tua. Mungkin..

Ahh.. tehku tak hangat lagi. Terlalu lama saya melamun. Yang saya sadari saya sudah kenyang dan saya tutup dengan delapan ribu perak. Dan siang itu saya masih di kota ini, ketika saya menyambut setiap momen dengan sepotong senyuman. Saya hanya melihat kesederhanaan menikmati kebahagiaan atas semua yang telah saya lakukan.

Hai..

Rabu, 29 Oktober 2014

Observasi

Saya suka mengamati hal-hal yang ada di sekelililng saya, tapi jangan bayangkan saya adalah peneliti yang mendefinisikan berbagai fenomena melalui metodologi yang ilmiah. Saya hanya suka melihat, mengamati, dan mengambil kesimpulan saya sendiri tanpa ada kesan ilmiah sama sekali. Kebanyakan adalah hal yang kecil dan sepele. Saya suka mengamati bagaimana sekelompok preman di salah satu fasilitasi publik yang mengekspresikan rasa ingin tahu mereka mengenai kondisi sosial di sekitar mereka dengan antusias, saya suka mengamati bapak-bapak pemulung di sekitar sungai di sudut-sudut ibu kota (lihat tulisan sebelumnya), saya suka mengamati jalanan dan gang-gang sempit di sela-sela gedung dan bangunan di ibu kota, saya suka mengamati gaya hidup penduduk desa atau suku pedalaman yang selalu terlihat ramah dan kadang memunculkan kesan misterius (seperti Sangiang, Baduy, Dayak, Jawa, dll), saya suka mengamati gerak-gerik dan karakter teman-teman saya, dan hal kecil dan sepele yang lainnya.

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi saya belajar banyak dari hal-hal yang saya amati di atas. Dan prosesnya jauh lebih menyenangkan daripada hanya mendengarkan dosen di dalam kelas. Memang apa yang saya dapatkan bukanlah teori-teori seperti yang bisa saya dapatkan dari buku sosial research atau buku teori sejenis lainnya, akan tetapi dari “proses pengamatan” yang saya lakukan, saya dapat langsung membandingkan antara teori yang biasanya sangat ideal dengan realita yang sifatnya lebih relatif.

Namun, memang begitulah adanya, tak jauh berbeda seperti apa yang disampaikan oleh dosen Metode Penelitian saya di kampus di Otista No 64C, Jakarta Timur, pak Waris Marsisno. "Penelitian ilmiah dapat dimulai dari mengamati dan peka terhadap hal-hal kecil dan sepele di sekitar Anda"

Sependek pengalaman saya, ada beberapa hal yang terus ditekankan berulang-ulang. Salah satunya adalah bahwa tugas seumur hidup manusia adalah belajar, dan proses pembelajaran dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Definisi belajar tidak dapat dibatasi oleh dinding-dinding sekolah dengan deretan meja dan kursinya. Pun tidak terbatas oleh lembaran-lembaran kertas rangkuman maupun modul.

Belajar tidak terbatas oleh mata pelajaran, mata kuliah, maupun silabus-silabus pendidikan. Memaknai kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran, merenung tentang kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Dari proses tersebut kita akan mendapatkan pelajaran berharga yang tidak kita dapatkan selama di ruang kelas.

Belajar bukan hanya dominasi mata, telinga, otak dan “indera-indera fisik” yang lainnya. Belajar juga merupakan pekerjaan hati. Apalagi jika kita sedang belajar mengenai kehidupan, belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai sosial.

Ya, inilah waktunya, di tingkat 3 jurusan Statistika Sosial dan Kependudukan, saatnya 'hobi' mengamati yang hanya iseng-iseng sudah saatnya diaplikasikan secara ilmiah berdasarkan metode ilmiah yang sistematik, terorganisir, berbasis data, dan dengan pendekatan-pendekatan ilmiah yang lain.

Selamat mengamati, selamat meneliti!

Minggu, 19 Oktober 2014

Galian Tanah

Banyak orang pasti pernah melihat ketika orang menggali tanah. Pada saat menggali lubang orang mengeluarkan sesuatu dari dalam. Untuk mendapat ruang yang kosong harus ada yang dikeluarkan atau dipindahkan. Hasil dari kegiatan gali adalah lubang atau ruang yang terbuka dan tumpukan hasil dari galian. Jumlah tumpukan tanah tergantung dari berapa besarnya lubang yang kita inginkan. Isi yang kita keluarkan sama seperti ruang yang kita hasilkan.

Pernahkan Anda menimbuni kembali lubang yang sama dengan hasil galiannya. Peristiwa ini biasa kita lihat kalau orang menguburkan jenazah. Lubang makam yang kosong setelah disemayamkan jenazah akan ditutupi tanah. Ketika seluruh lubang makam ditutup maka ada sisa tanah yang tidak bisa kita masukkan ke dalam makam. Sisanya biasa ditimbun diatas makam menjadi gundukan.

Gundukan tanah akan selalu ada juga pada saat kita menutup lubang yang sama dengan tanah yang sama tanpa kemasukan sesuatu. Selalu ada sisa diatasnya. Artinya lubang yang kita gali menjadi tidak cukup untuk menampung seluruh galiannya.

Dalam kehidupan, banyak hal terjadi demikian. Kita mengeluarkan ide-ide kita. Ide kita mungkin dianggap biasa saja. Pada saatnya hasil galian ide kita terkadang tak terserap lagi oleh tempat dalam kepala kita. Pikiran yang sama tidak lagi menampung hasil gagasan itu. Syukur kalau galian ide kita baik. Tetapi kalau galian kita jelek akan berakibat lebih parah bagi daya tampung otak dan nalar kita.

Jumat, 26 September 2014

Gelas Plastik

gambar di atas hanya ilustrasi

Tak putus mesin paru-parumu menjaring oksigen di antara tumpukan tiang-tiang beton beralas aspal panas. Dan melepasnya dengan segumpal peluh di lengan, leher, kepala. Sekilo dua kilometer itu luar biasa, yang biasa adalah karung kosong tak terisi sampah.

Gigi depan rahang atasmu telah punah oleh bogem mentah. Untung yang bawah masih rapi berjajar. Lumayan untuk olah raga pagi menggiling pisang goreng dan secangkir teh tawar.

Kulitmu mengkisut. Tak lagi mencengkram kuat daging-dagingnya. Selang-selang otot saling bertaut dibawahnya. Dengan aliran darah menggemukkan selang-selang itu. 

Memproses dengan gerak mencoba mencekik nasib yang terlalu banyak menelan waktu.

Terlalu lanjut untuk dirimu menghidupi hidupmu yang kurang dari sejengkal saja liang kubur. Daging beradu dengan aspal. Tangan menghantam hamburan sampah. Mengoyak mencari sisa dan menyelipkan doa 

"semoga hari ini 4 kilo aku bawa"

Peluh menjadi juruh. Air liur menjadi mineral pertama menghanyutkan dahaga. Lalu kenapa kamu masih bisa tersenyum wahai orang susah?

Karena "ini jatah saya sebagai pelengkap yang sudah ada..." 

Bukan kah masih ada sekawanan Mario Teguh yang masih mau menggelontorkan motivasi? Masih mau banyak mulut memicu setiap insan berdarah dan berdaging susah untuk mau maju? 

"Ini sudah terlalu banyak yang saya terima, sudah terlalu banyak yang saya sia-siakan.."

Jakarta, 26 September 2014
Pagi tadi, di sekitar kali Cideng, Jakarta Pusat

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Sudahkah kita bersyukur?

Senin, 22 September 2014

Suatu Malam

Butuh krayon warna-warna surga untuk melukis tentang suatu malam. Butuh berlembar-lembar lontar untuk menjabarkan suatu malam kedalam sketsa-sketsa sederhana nan rumit. Dan butuh membalik hati dan otak untuk bermultifungsi mempolakan peran dan pengadeganan tentang suatu malam.

Suatu malam. Hanya suaranya yang berkicau tentang dedaunan yang jatuh dari rindangnya pepohonan. Membentuk hamparan yang lembut ketika melontarkan tubuh dan terhempas di atasnya. Ini bukan perkara berkhianat kepada indahnya pagi hari. Tapi mengilustrasi sederhananya suatu malam.

Inilah laju percepatan dari suatu rasa. Melibas, berkelok dan membentuk pola-pola yang tak terdeskripsi oleh mata. Karena bukan lagi bahasan imajiner, tapi inilah fusi yang terbungkus dalam suatu malam.

Hoo..

Jumat, 12 September 2014

Dan Kau Tak Akan Tahu, Kapan Kau Berumur

Tidak pernah ingat pasti, kapan kata umur itu ada. Pohon dan hutan, manusia dan masyarakat. Semua bertumbuh dan bertambah. Mungkin, karena manusia kerap melupakan sehingga sesuatu itu diberi label, punya namanya masing-masing. Dari yang nampak hingga yang nisbi. Leluhur kita lebih pintar mengakali waktu. Agar ia tahu bertumbuh itu tak hanya dari kecil menjadi besar. Agar ia tahu bertambah itu tak hanya dari satu menjadi tak terhingga. Tetapi sesuatu yang terjadi secara simultan punya tempa. Satu dari kita pasti ada dalam jumlah, tetapi mungkin kita tak bisa di-sama-dengan-kan. Satu satu kita tumbuh melengkapi yang banyak. Setiap satu yang tumbuh punya ciri. Setiap ciri men-sejati-kan manusianya. Supaya teringat. Karena kala umur telah di ujung senja, sang diri hanya bisa berkata “apa saya sudah siap dengan bekal-bekal perjalanan meninggalkan jagat ini?”.

Tidak pernah ingat pasti, kapan umur itu ada. Mengulang tahun justru aku bertumbuh. Hidup memang telah berubah. Celoteh kini hanya untuk tertawa. Tertawa pada kini. Semua itu kini menjelma mitos. Masa kecil memang kadang dimanipulasi. Agar kau senang. Saat nanti menjelang siang, tak perlu terik menyengat, ada sadarmu jadi pelindung yang rindang. Ingatlah kini, ingatlah nanti, meski sesaat, cuma sesaat. Hiduplah penuh dengan kini, saat ini. Dalam Iman dan Islam, dalam jiwamu, dalam kata, dalam tubuh, dalam niat, dalam sekitarmu. Dan kau tak akan tahu, kapan kau 'berumur'.

Selamat, masih bisa hidup~

Rabu, 27 Agustus 2014

Jalanan di Kota Itu

Menyusuri tiap jalan di berbagai kota, yang pernah kita lewati. Saya tak tahu apa yang saya rasakan. Campuran antara bahagia mengingat peristiwa, tapi perih mengingat betapa sulitnya terulang lagi. Mungkin ini yang disebut kenangan; waktu, takdir, perih dan bahagia diaduk menjadi segumpal perasaan saja.

Menyusuri jalan yang belum kita lalui. Lalu menerka-nerka apakah sang waktu punya rencana menggariskan satu atau dua buah kenangan disana. Mereka-reka, kira-kira apa yang akan kita lakukan. Pastinya menancapkan adonan kenangan.

Entahlah

Senin, 11 Agustus 2014

Sekali Lagi


Sekali lagi kaki ini memijak ke bumi dengan permulaan yang tidak saya duga. Ini salah satu yang saya cita-citakan. Memberikan yang terbaik. Mempersembahkan yang teraduhai. Untuk mereka yang saya cintai. Saya seorang lelaki. Saya bisa. Dan inilah saatnya untuk bicara melalui gerak ritmis dinamik momentum. Pengupayaan kebaikan, menuangkan bahagia setara dengan senyum terlucu menjelang pagi hari.

Dalam perjalanan berikhtiar. Memberikan banyak waktu untuk diriku, berpikir dan tercenung. Setiap bongkahan kegagalan pembangunan dan tiap kilometernya memberikan ruang sepersekian detik untuk otak dan hati berkolaborasi, introspeksi. Apakah pantas ini yang saya retas? Entah, bertanya adalah hakiki manusia. Menjawab itu bisa milik Penguasa.

Bangil, 11 Agustus 2014
di bawah temaram cahaya bulan purnama

Rabu, 30 Juli 2014

Sepenggal Waktu di Papuma

Pantai Tanjung Papuma (foto diambil dari sini)

Kaki ini terpaku, pasir menenggelamkan sebatas tumit. Air laut bergulung menepi. Lembut menyentuh jemari kaki. Lalu pergi membawa kembali apa yang diberikannya. Menyisakan jejak-jejak yang tak ada. 

Sisa waktu jatuh berdegum di bulir-bulir pasir. Pingsan dan tak bicara lagi. Dongeng akan kehebatan sebuah persahabatan dan cerita-cerita di lontar-lontar rapuh, hari ini aku baca kembali. 

Angin telah memaksa air bergemuruh membantai tepian pasir. Senja tak lagi berpantun dengan malam. Mungkin separuh bulan yang terlahap batara kala terpasung di balik sepasukkan awan. 

Dan aku, serta mitos sebuah kenangan adalah nyata, berdiri sendiri, disini bersama sapuan ombak yang terburu-buru pulang ke lautan.

Selasa, 08 Juli 2014

Syukur

Menelisik cerita seorang kawan. Ada satu dua dan tiga hal yang bisa saya serap. Menurut saya itu baik. Menurut saya juga itu sebuah pembenahan. Berbenah diri mungkin itu benang merah. Lalu kenapa saya harus berbenah diri. Apa ada yang salah selama ini dari diri saya? Mungkin ada mungkin tidak. Toh saya hanya sesuatu yang disebut manusia. 

Tidak ada yang bisa disempurnakan hanya karena teranggap makhluk yang paling tinggi derajatnya. Bukan jaminan untuk mengisi kuota makhluk calon penghuni surga.

Seorang kawan, setengah jalan lolos dari cobaan terberat dalam hidupnya. Bisa hidup selamanya namun bisa saja terbaring selamanya. Tapi nasib bicara lain. Dia masih bisa bertutur tentang apa yang dinamakan bersyukur. 

Mengubah dirinya menjadi sesuatu yang disebut manusia untuk lebih menghargai nyawa dan hidup. Saya paksa lepas dari percobaan membayangkan nasib itu jatuh ke hidup saya. 

Tapi tidak percobaan itu selalu datang dan menggumpal di otak dan di hati. Menciptakan tatanan alur cerita yang belum tentu saya sanggup menopangnya. Benar bahwa Allah takkan memberikan cobaan di luar kemampuan makhluk-Nya. Hal itu yang saya cekal sebagai acuan untuk menentukan nasib hidup saya sendiri.

Lalu apa yang bisa saya timba dari cerita seorang kawan tersebut. Yaitu bersyukur, bersyukur untuk apa-apa yang sudah saya terima. Namun persoalan memberi itu yang jarang sekali saya lakukan. 

Bukan tidak ada kesempatan, tapi mengabaikkan kesempatan itu hanya karena atas nama rutinitas. Mungkin kelak suatu hari, saya ingin sekali menaikkan grafik kualitas hidup saya. Setidaknya walau sedikit, tapi bisa mengobati rindu akan hidup yang memiliki kualitas.

Senin, 07 Juli 2014

Perubahan?

Tidak semua, yang ikut membelok. Ada yang bertahan atas nama kesederhanaan dan percaya diri. Namun konsekuensi mesti dihadapi, menemukan ruang kosong tanpa isi. Tapi ini bukan kesendirian. Hanya belum ada keinginan untuk terlibat dan menstruktur dengan balok-balok pola hidup. Belum waktunya, mungkin. Atau memang tidak ingin ada waktu untuk itu. 

Entahlah semua jatuh pada seucap kata "pilihan". Yah, benar "pilihan" adalah mesin penjawab ketika tidak ada lagi pilihan. Sangat efektif, sedikit persuasif namun efektif pengaruhnya terhadap kualitas keputusan.

Mungkin inilah yang disebut perubahan. Ada kalanya dipaksa maju. Namun ada kalanya maju itu menjadi kemunduran. Dan bisa jadi membawa sesuatu yang jauh lebih maju dan memberi ilmu, tinggal bagaimana cara memegang kemudinya. Tapi apapun bentuk narasi, deskripsi logiknya pasti ada sisi terbaik yang nyaman untuk sekadar telanjang bulat.

Karena kita manusia..

Selasa, 01 Juli 2014

Selamat Malam Pagi Hari...

Di dalam ruangan itu kamu hanya mampu terpekur diam. Entah apa yang menghujam hatimu, otakmu dan jiwamu. Semuanya datang dan enggan hengkang. Berjejal memaksa untuk melelahkan logika. Udara yang masuk ke rongga-rongga itu menyesakkan. Tarik nafas dalam tak juga melenyapkan aral. Inilah sebuah Ruang, Waktu dan Alur yang kamu tetapkan sebagai titik tolak melambai masa depan.

Ruang..
Saya hanya bisa terdiam ketika beberapa mata itu menelanjangi umurku. Memang saya masih muda. Jalanku pernah saya ukur, dan tidak berubah masih panjang. Masih ada ujung dimana saya akan berteriak ke belakang dan mengumpat kalo saya takkan pernah kalah. 

Namun inilah saya disini. Di sebuah pelataran realitas yang mau tidak mau harus saya lakoni perannya. Dan mereka, yah mereka boleh berujar apapun berbicara apapun dan mungkin kalo bisa mengumpat apapun. 

Tapi perlu saya ingatkan ke dua kaki ini masih kokoh meminggul beban ini. Ke dua tangan ini masih kuat mengepal dan mampu membuat pingsan semua persoalan. Hati dan keyakinanku masih terpatri hebat hanya untuk menatap kembali mata kalian yang dijejali berjuta pertanyaan. Dan Perut ini biarkan dia hidup. Karena saya memang inginkan ini.

Saya bukan korban. Saya seorang pemenang. Saya masih mampu tuk melangkah, sekalipun plakat kesalahan sekali-kali datang dan menampar, tapi saya tetap bertahan. Ingat saya masih mampu bertahan. 

Waktu..
Silih berganti jalinan detik dan frame bergelayut melatari hari-hariku. Berbagai pilihan datang dan pergi. Semua menghendaki keputusan. Semua bicara tentang kepentingan. Semua berkelakar tentang pengharapan.

Namun bisa kan membiarkan saya tuli sejenak? Biarkan saya diam dan berpikir, kemana harus saya bobol kebodohan dan logika yang saling bertumbukan di otakku.

Di waktu kala itu. Mungkin saya hanyalah tubuh. Yah, hanyalah tubuh. Menjelma menjadi tubuh. Jiwaku saya biarkan bersenggama dengan keadaan. 

Dan tak jauh dari sepersekian detik cahaya. Akhirnya saya berada di tepian. Sendiri tanpa gandeng tangan. Memilih melihatmu tunggang langgang tergopoh-gopoh menyandang cacat kemanusiaan. 

Yah, jemari-jemari ini mencoba meranggai ujung tebing. Sekuat tenaga menarik tubuhku yang terpelanting keras divubin-ubin jelaga. Jemariku, saya percayakan tekadku kepadamu. Entah esok pagi itu indah atau kelam, saya masih percaya embun itu masih cerah oleh rinai udara pagi. Saya percaya saya mampu.. 

Alur..
Biarkan ini menjadi pertanyaanku esok hari...
selamat malam pagi hari...

Senin, 30 Juni 2014

Hngg..

Kian menjauh dari hingar bingar kota. Menelisik sejenak tentang hura-hura, huru-hara, selubung cerita dan warta yang berterbangan lewat udara. 

Ini dunia berjejaring, semua orang bisa terbelit kabel-kabel maya. Entah itu mencekik atau mengurai gelak tawa. Muntah pujian, supremasi pendapat, perang kredibilitas atau cukup bercita-cita menebar dan mengajarkan pengetahuan. Semua menarik, itu candu. Menjemukan tapi asik. Asik lalu mari pipis. 

Dan malam kian meransuk, membiaskan awan yang bertengger di ubun-ubun langit. Menipisnya udara di paru-paru dan hidung yang tersumpal lendir. Kesempurnaan ini berpoligami membentuk elegi lelah di tepian kertas tipis yang dibanjiri tumpahan tinta hitam mencipta keabstrakan dunia.

Ini adalah posting tentang aku, jalanan sepi, lelah dan rumus nonpar seadanya..

Minggu, 22 Juni 2014

Bertahan

Sungguh, sampai saat ini saya tetap bertahan…

Tak ada dalam hidupku mengajarkan saya untuk berhenti, tak pernah ada.
Satu hal yang hidup beri kepada saya tentang kesejatian adalah bertahan. Bagaimana kreatifitas bekerja untuk selalu belajar mecintai hal yang sama setiap hari. Entah itu pekerjaan atau orang-orang yang sama. Sungguh tak ada yang berbeda, tak ada yang sama, waktu membawa kita pada konsistensi. 

Selamat menjalankan hidup, meski tak banyak yang telah dan akan kau lakukan…

Kamis, 19 Juni 2014

Menjadi Kamu.. Iya Kamu..

"Kamu... iya kamuuu..." (Dodit SUCI4 style)

Ya! Kamu.. sebatas manusia. Tak ada yang lebih atau menonjol darimu. Tapi kamu punya hak untuk menentukan sendiri jalan mana yang patut untuk kamu perjuangkan. Itu yang membuatmu tetap eksis. 

Jati diri itu adalah benda mahal. Mungkin datangnya bisa sewaktu-waktu selepas lelah dalam pencariannya. Kerterjebakkan dan sejenisnya adalah perihal pembelajaran diri. Bagaimana untuk bisa lolos dari itu semua. Dan menciptakan sendiri kemerdekaan berpikir, berpolah dan berkreativitas menghadapi hidup.

Masa lalu bukan perihal hitam yang harus hangus di ujung paling akhir masa depan. Namun masa lalu bisa jadi pistol berpeluru untuk membela diri ketika tuntutan terjerembab dalam stagnansi dijatuhkan.

Menjadi kamu..iya kamu.. 
Siapa kamu sebenarnya dan bagaimana kamu sesungguhnya. Hanyalah hati dan pikiranmu yang tau. Asalkan kamu yakin menjadi kamu yang sekamu-kamunyalah adalah sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan. Selamat berproses. Kelak hasil akhir itu akan ada juga.

Dan jangan tanyakan keindahannya... Karena memang itu adanya.

Sabtu, 07 Juni 2014

Hari Ini dan Berikutnya...

Pagi ini serasa penuh dengan sampah kemarin. Ingin membuang semua sampah itu hari ini. Melunasi kewajiban yang tertunda dan tak lagi menjadi batu di pikiran yang selalu menghambat jalannya air pikirku. Oh, betapa manusia mencintai yang namanya ‘melunasi kewajiban’. Kerap kali jadi benalu di otak dan menggerogoti saraf. Melunasi kewajiban untuk melunasi hidup saat ini. Untuk apa? untuk hidup.

Sekarang aku berada di ruang yang tenang. Mencoba mengulang kembali yang telah aku lunasi, dengan meninggalkan sedikit rasa bersalah. Dalam benak tanya tertahan, apakah sudah maksimal hasilku? cukup sudah. Telah aku mencoba dengan caraku. Mulai kasihan dengan otakku yang berat sebelah, beberapa jalan mulai menjadi telusur waktuku hingga malam menjemput. Sudut-sudut kota menampilkan aktivitas yang bersahaja; terulang meski kadang membosankan. Tetapi bosan itu perkara rasa dan waktu. Saat ini rasaku tersenyum menatapnya, waktu juga tak lekang mengulangnya. Melintasi depan pasar tradisional yang menyimpan sejarah. Ada masa lalu yang begitu lekat didalamnya. Entah sisinya yang kelam akan ruang yang berbeda dari sekitarnya yang penuh dengan bangunan megah yang menohok langit. Entah karena orang selalu mengunjunginya tanpa harus merasa bahwa masa lalu itu lekat. Dimensi yang berbeda menurutku; bisa berada dalam waktu yang berdekatan dengan masa lalu dan masa sekarang. Tanpa mempermasalahkan usang dan kumuhnya tempat itu, toh masa sekarang sajalah yang dinikmati pembelinya. Meski rubuhnya entah kapan, tak ada yang peduli. Entah kapan itu terbakar, semua berjalan kedepan.

Melihat-mengamati semua yang ada-meresapi semua bentuknya dalam aliran pikirku, melahirkan senyumku yang tak henti. Jalan yang panjang dan bersisian ini mengungkapkan bentuk lain pula. Betapa semrawutnya jalan aspal ini, meski lorong kecil, tempat tikus sekalipun, semua arah itu menuju kepada siapa dirimu akan pulang. Semampet-mampetnya jalan itu, betapapun kau tersesat, jalan itu penunjuk arahmu pulang. Ingat, jalan tak akan membuatmu tersesat. Jalan hanya kadang membawamu menuju tempat yang asing. Setelah itu akan selalu ada jalan bertemu tujuan.

Mengukur kota selesai, saatnya bertemu teman yang menunggu tuk berbagi tawa. Tetapi aku juga merindukan rumah. Apa gerangan yang dilakukannya saat ini..