Tampilkan postingan dengan label Ngampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngampus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2015

Dari Tulisan Aku Mengenalmu

Bismillaah,

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang berhasil membuat sebuah karya, ataupun kajian besar bersama kawan-kawan pembacanya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat hidayah, dan mengetahui jalan yang haq dari yang selama ini dijalaninya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat tawaran pernikahan dari seseorang.

Semua berawal dari tulisan, maa syaa' Allah.

Begitu pula warisan-warisan terdahulu. Bukanlah yang diwariskan itu harta, atau sekadar bangunan dan budaya, namun ilmu yang tertuangkan dalam tulisan.

Maka bersiaplah engkau, wahai para penulis yang ikhlas.

Kelak kau bahkan mungkin akan mendapatkan aliran pahala dikala engkau tidur, karena tulisanmu yang bermanfaat. in syaa' Allah.

Maka jika Anda punya ilmu atau hikmah bermanfaat, jangan ragu tuk berbagi, tuliskanlah!

Selagi nama anda belum dituliskan di atas nisan.

***
Catatan: 
sang penulis di blog ini, melalui tes kemampuan dan potensi akademik baik tes tulis maupun tes online, diketahui memiliki keterbatasan di bagian linguistiknya. Dia saja berani mencoba menulis, Anda harusnya lebih mampu melampaui dia dong?

Bismillaah, in syaa' Allah sebentar lagi menulis skripsi! Semoga Allah mudahkan jalan saya dan jalan teman-teman saya untuk menempuh sisa-sisa waktu tingkat 3 tahun ini untuk menuju tingkat 4 sehingga kami semua bisa lulus dan wisuda tahun 2016. Aamiin

Bangil, 2 Syawal 1436 H

Selasa, 30 Desember 2014

Surat Cinta untuk Kopmers


"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu otot. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."

Awalnya saya hanya mahasiswa apatis yang tak peduli pada sekitar, awalnya saya hanya mahasiswa yang lebih suka menghabiskan waktu di kost daripada di kampus, awalnya saya hanya mahasiswa statistik yang menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan belajar tanpa mengerti bagaimana berorganisasi.

Sampai pada suatu masa ketika saya dipertemukan dengan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kopma STIS (sekarang Unit Dana Usaha) pada 20 Januari 2013, bersama 9 orang terpilih lainnya. Awalnya kita semua asing, tapi akhirnya bisa bersahabat juga di Kopma. Saya banyak belajar di sini, dari mulai adaptasi, belajar berorganisasi, belajar berwirausaha, belajar berkoordinasi, belajar jadi pemimpin, belajar peduli, belajar peka, belajar memahami orang lain, belajar mengatasi masalah, belajar bekerja sama, belajar bermuamalah, belajar kehidupan, belajar banyak hal. Kami saling berbagi, 'ilmu, cerita, canda, tawa, tangis, getir, dan sebagainya.

Dua tahun ini adalah dua tahun yang sangat berkesan, sangat membanggakan, sangat membahagiakan, dan sangat mengharukan, memiliki adik-adik, teman-teman, dan kakak-kakak yang begitu hangat, begitu peduli, begitu perhatian, begitu luar biasa, melihat kalian begitu kompak, begitu erat ikatan kekeluargaan yang terjalin. Setahun, dua tahun 'bekerja' bersama, sesulit apapun kondisinya, serumit apapun birokrasinya, tak terasa sebagai beban karena komitmen, keikhlasan, ketulusan, kesukarelaan masing-masing individu dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Berlebihan kah saya? ah, biarlah memang begitulah kenyataan dan fakta yang ada :')

Pengurus Kopma 2013/2014 dan alumni Kopma 
pada Seminar PNS Preneurship Kopma STIS 2014

Itulah yang membuat kami, Kopmers (anak-anak Kopma) tak menganggap Kopma sebagai sebuah unit, UKM, ataupun organisasi, melainkan lebih dari itu, kami adalah sebuah keluarga, keluarga Kopma :)

Saat saya bersama kehidupan saya yang lain, tetap saya nyatakan mereka keluarga saya. Keluarga yang memang begitu adanya. 

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya...

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya :)

Jakarta, 30 Desember 2014
akhir masa jabatan kepengurusan

Selasa, 09 Desember 2014

Tips Hemat Nge-Kost di Jakarta (Bukan Pelit)

Apa bedanya hemat sama pelit?

Hemat itu mengatur pengeluaran sebijaksana mungkin, demi kepentingan bersama dan jangka panjang. Kalau uang kita sisa, bisa buat yang lain. Seperti membantu teman, atau membantu orang tau, atau membantu saudara. Masih ada pemikiran untuk menolong sesama.

Kalau pelit? Pelit itu, mengatur pengeluarkan seminimalis mungkin dan memaksimalkan bergantung pada traktiran orang lain. Ehm.. parasit. Pelit itu mikirin diri sendiri aja. Misal, punya uang, tapi bilang nggak punya uang. Semacam itu lah.


Dan tips ini, saya buat akibat efek kenaikan harga kost, harga makan, dan harga-harga yang lain akibat efek kenaikan BBM. Jadi saya putuskan untuk berbagi tips hidup hemat yang sudah saya latih dari SD. Kalau mau biaya hidup tinggi, saya rasa nggak perlu tips ya. Tinggal buang-buang uang aja di jalan, ntar juga habis uangnya. Hehe. Yang perlu tips itu biasanya untuk teman-teman yang mau berhemat. Saya bagi tips yang biasa saya pakai ya (bisa cocok bisa juga enggak). Ingat, ini untuk hemat. Hemat bukan berarti pelit! Di bold ya, HEMAT DAN BUKAN PELIT.

  1. Biasakan hidup sederhana. Masalahnya, standard hidup sederhana tiap orang beda-beda ya. Ada yang sebelumnya biasa naik mobil, coba-coba disini naik motor aja. Selain menghindari macet, juga lebih hemat bensin. Ada juga yang biasanya naik motor, disini milih jalan kaki aja. Selain nggak perlu keluar uang buat beli bensin, juga lebih sehat. Alhamdulillah dari SD hingga sekarang saya naik sepeda manual, tapi sekarang lebih sering jalan kaki sih, soalnya sepedanya lagi rusak dan lagi males untuk memperbaiki
  2. Cari kost-an yang sederhana aja sih. Budget untuk kost-an kantong mahasiswa sih biasanya berkisar antara 300-600 ribu (tiap orang beda-beda sih, biasanya tergantung fasilitasnya). Kalau saya sih yang penting bisa buat tidur. Toh aktivitas kita nggak melulu di kost-an toh? Ngontrak juga oke-oke aja, tapi lebih baik tanggung rame-rame biar jatuhnya lebih murah.
  3. Sedekah. Setelah dapet TID (karena saya kuliah di perguruan tinggi kedinasan, alhamdulillah masih dapat tunjangan) atau kiriman orang tua, langsung sisihkan sedikit untuk disedekahin bro! Tanya kenapa?

    Allah berfirman:
    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”
  4. Investasi di awal. Buat saya, yang suka membuat planning hidup masa depan, berpikir 2-3 langkah ke depan, menyisihkan investasi di awal itu wajib banget. Karena berapapun uang yang dipegang, biasanya nggak bersisa. Tapi untuk teman-teman yang bisa menyisakan uang di akhir, silakan tempatkan poin ini di urutan terakhir. Dan kenapa investasi? Karena investasi membuat uang kita bisa bertambah banyak. Ya nggak tiba-tiba bertambah banyak sih. Tetap ada aktivitas di dalamnya yang bisa membuat uang kita aktif. Ada banyak cara untuk investasi. Cari yang halal bro bro dan jangan niatkan investasi untuk menganakpinakkan uang, tapi benar-benar untuk modal/simpanan kebutuhan masa depan. Sementara ini saya baru investasi emas (lumayan harga emas trendnya naik terus, meskipun fluktuatif banget), dan kata mama sih bisa buat modal nikah atau naik haji, in syaa' Allah, hehe.
  5. Belanja seperlunya. Contoh, mie instan itu perlu, tapi nggak sampe beli sekardus juga kali bro. Jangan berlebihan. Mentang-mentang mau hemat, tiap hari makan mie instan terus. Hemat nya sih iya, tapi badan penyakitan mau?
  6. Butuh atau Ingin? Kalau butuh, langsung beli. Kalau ingin, tunda dulu. Biasanya “ingin” itu cuma sesaat. Dengan menunda keinginan kita, sekaligus membuat kita berpikir panjang. Kalau sudah ditunda, ternyata masih ingin juga, ya baru dibeli. Daripada kena siksa batin. Kalau pas balik ternyata kehabisan, ya berarti bukan rejeki kita. Haha. Take it easy bro. Kalau ada promo, boleh juga tuh. Hehe (promo hunter)
  7. Makan sehat. Ingat! makanan sehat nggak selalu mahal! Makan di warteg deket kost yang tempatnya bersih dengan menu sayur dan tempe juga bisa dibilang sehat. Buat makan siang di kampus, bisa beli di Kopma (masih aja promosi :p) atau di kantin. Kalau masih berasa mahal, bisa beli di warteg di dekat kost untuk makan siang di kampus atau masak sendiri. Yang pasti, Sisakan uang di rekening untuk makan selama sebulan. Kasih target berapa rupiah untuk makan. Kenapa? Karena biasanya, paling banyak menghabiskan uang di makanan. Ingat! Makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan.
  8. Nabung. Nabung disini buat hal-hal yang nggak terduga. Misal kalau kita sakit, atau keluarga butuh uang. Bisa juga sebagai investasi masa depan.
  9. Jadi Jomblo yang banyak teman. Jomblo sih jomblo, tapi jadilah jomblo yang bermartabat dan berwibawa, jangan mau jadi forever alone juga jangan jadi pengemis cinta. Perbanyaklah teman! kalau banyak temen itu enak bro. Susah senang selalu bersama. Banyak info yang didapat kalau kita banyak teman. Mulai dari info kerjaan, info acara-acara seru, sampai info makanan murah meriah. Dan, kalau  ada apa-apa dibantuin. Tuh, bermanfaat kan. Kalau punya pacar itu susah loh. Pacaran itu pake ongkos bro, uang tekor, maksiat jalan terus. Ingat! Jangan sekali-kali mendekati zina! Saya bersyukur sih masih jomblo (lebih bersyukur kalo udah nikah), lebih hemat juga. Nggak pacaran, nggak keluar uang buat hal-hal yang nggak penting dan berujung maksiat. Mending ditabung buat nikah, daripada buat pacaran. *eh
  10. Jalin hubungan baik dengan tetangga. You know lah, apalagi kalau dapat undangan nikahan atau waktu kurban. Hoho
Nah, sedikit-sedikit itulah tips dari saya. Kalau ada salah dan nggak cocok, maaf ya. Mau berbagi tips yang lain? Boleh banget! :D

_______________________
Jakarta, 9 Desember 2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Observasi

Saya suka mengamati hal-hal yang ada di sekelililng saya, tapi jangan bayangkan saya adalah peneliti yang mendefinisikan berbagai fenomena melalui metodologi yang ilmiah. Saya hanya suka melihat, mengamati, dan mengambil kesimpulan saya sendiri tanpa ada kesan ilmiah sama sekali. Kebanyakan adalah hal yang kecil dan sepele. Saya suka mengamati bagaimana sekelompok preman di salah satu fasilitasi publik yang mengekspresikan rasa ingin tahu mereka mengenai kondisi sosial di sekitar mereka dengan antusias, saya suka mengamati bapak-bapak pemulung di sekitar sungai di sudut-sudut ibu kota (lihat tulisan sebelumnya), saya suka mengamati jalanan dan gang-gang sempit di sela-sela gedung dan bangunan di ibu kota, saya suka mengamati gaya hidup penduduk desa atau suku pedalaman yang selalu terlihat ramah dan kadang memunculkan kesan misterius (seperti Sangiang, Baduy, Dayak, Jawa, dll), saya suka mengamati gerak-gerik dan karakter teman-teman saya, dan hal kecil dan sepele yang lainnya.

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi saya belajar banyak dari hal-hal yang saya amati di atas. Dan prosesnya jauh lebih menyenangkan daripada hanya mendengarkan dosen di dalam kelas. Memang apa yang saya dapatkan bukanlah teori-teori seperti yang bisa saya dapatkan dari buku sosial research atau buku teori sejenis lainnya, akan tetapi dari “proses pengamatan” yang saya lakukan, saya dapat langsung membandingkan antara teori yang biasanya sangat ideal dengan realita yang sifatnya lebih relatif.

Namun, memang begitulah adanya, tak jauh berbeda seperti apa yang disampaikan oleh dosen Metode Penelitian saya di kampus di Otista No 64C, Jakarta Timur, pak Waris Marsisno. "Penelitian ilmiah dapat dimulai dari mengamati dan peka terhadap hal-hal kecil dan sepele di sekitar Anda"

Sependek pengalaman saya, ada beberapa hal yang terus ditekankan berulang-ulang. Salah satunya adalah bahwa tugas seumur hidup manusia adalah belajar, dan proses pembelajaran dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Definisi belajar tidak dapat dibatasi oleh dinding-dinding sekolah dengan deretan meja dan kursinya. Pun tidak terbatas oleh lembaran-lembaran kertas rangkuman maupun modul.

Belajar tidak terbatas oleh mata pelajaran, mata kuliah, maupun silabus-silabus pendidikan. Memaknai kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran, merenung tentang kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Dari proses tersebut kita akan mendapatkan pelajaran berharga yang tidak kita dapatkan selama di ruang kelas.

Belajar bukan hanya dominasi mata, telinga, otak dan “indera-indera fisik” yang lainnya. Belajar juga merupakan pekerjaan hati. Apalagi jika kita sedang belajar mengenai kehidupan, belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai sosial.

Ya, inilah waktunya, di tingkat 3 jurusan Statistika Sosial dan Kependudukan, saatnya 'hobi' mengamati yang hanya iseng-iseng sudah saatnya diaplikasikan secara ilmiah berdasarkan metode ilmiah yang sistematik, terorganisir, berbasis data, dan dengan pendekatan-pendekatan ilmiah yang lain.

Selamat mengamati, selamat meneliti!

Selasa, 28 Oktober 2014

Evaluasi

Evaluasi bukanlah barang baru, karena evaluasi bisa masuk ke dalam beragam dimensi baik dalam dimensi pribadi maupun dalam dimensi organisasi bahkan kehidupan sosial, meski begitu tidak begitu banyak orang memahami cara melakukan evaluasi, saya akui sendiri evaluasi merupakan kegiatan yang kompleks, harus punya bangunan pikiran yang lengkap yang disusun atas beragam data.

Berdasarkan pengalaman yang saya alami, seringkali melakukan evaluasi yang serampangan, akibatnya hasil dari evaluasi itu minimalis sekali dan yang pasti kesalahan yang telah dilakukan mesti akan terulang lagi dan lagi. 

Tanpa menyepelekan kompleksitas yang ada dalam aktivitas evaluasi, sejatinya evaluasi itu dilakukan dengan cara membandingkan antara perencanaan dengan implementasi rencana. Dari perbandingan itu kemudian keluar dua hal yang dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi pertama apakah implementasi itu sudah sesuai dengan rencana yang telah dibuat atau tidak, tentu saja jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak, bila jawabannya iya, tentu saja selain memberi kepuasan kepada atasan, juga memberi kepuasan kepada tim yang bertanggung jawab dalam mengimplementasikan rencana tersebut, namun bila jawabannya tidak sesuai barangkali siap-siap saja menerima kata-kata pedas dari sang evaluator. Tidak adil bila yang diukur hanya pada implementasinya, maka planning yang menjadi acuan dalam implementasi juga harus menjadi sasaran evaluasi juga, apakah evaluasi tersebut fleksibel dalam menghadapi perubahan? atau sudah realistis dengan kekuatan SDM? sebab ada kalanya, perencanaan itu dibuat secara serampangan yang tidak realistis, sehingga susah sekali dalam mengimplementasikannya.

Itu gambaran umumnya, detailnya silakan Anda kembangkan sendiri.

Mari mengevaluasi, dan dievaluasi! *sigh*

Sabtu, 19 Juli 2014

Kita Pernah Tertawa Sahabat...

Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami telah saling menyemangati.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan.

Saat saya jauh, tidak pernah saya sebut mereka bukan temanku lagi. Saat saya bersama kehidupan saya yang lain, tetap saya nyatakan mereka temanku. Teman yang memang begitu adanya. Tak kucela dia karena memang dia telah begitu. Tak kuhina dia karena memang dia begitu. Terkadang perkataannya menyakiti tapi kubiarkan karena kusebut dia teman. Terkadang polah tingkahnya mengganggu dan mengusik, tapi kubiarkan karena aku tak ingin mengubah dia. Kubiarkan mereka terbang kesana kemari dalam kehidupan pertemananku. Kubiarkan mereka menjadi dirinya dihadapanku. Tak ada sedikitpun niat untuk menggantikan sosok mereka dengan teman yang lain. Tak ada sedikitpun niat untuk mengubah mereka dengan sifat yang baru.

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya...

Teman...
Raih impianmu, jadilah yang terbaik bagi dirimu sendiri, keluarga, kerabat, lingkungan sekitar, serta bangsa dan negara

Uraikan senyummu dari hati, geraikan tawamu dengan makna, bahwa kau sedang bahagia.

Teman...
Ingatlah selalu aku disini..

Semangat dan Sukses! Semoga mendapatkan hasil terbaik untuk UAS nya, naik tingkat 3 bersama, dan wisuda bersama. #54TetapUtuh

Mohon maaf apabila selama ini ada salah ucap dan sikap baik sengaja maupun tidak sengaja. Selamat menikmati liburan panjangnya, teman.
***
Dedicate to all of my dearest friend, especially 2F.

Koh Ryan
Jakarta, H-5 sebelum liburan ke kampung halaman

Ciao~

Senin, 30 Juni 2014

Hngg..

Kian menjauh dari hingar bingar kota. Menelisik sejenak tentang hura-hura, huru-hara, selubung cerita dan warta yang berterbangan lewat udara. 

Ini dunia berjejaring, semua orang bisa terbelit kabel-kabel maya. Entah itu mencekik atau mengurai gelak tawa. Muntah pujian, supremasi pendapat, perang kredibilitas atau cukup bercita-cita menebar dan mengajarkan pengetahuan. Semua menarik, itu candu. Menjemukan tapi asik. Asik lalu mari pipis. 

Dan malam kian meransuk, membiaskan awan yang bertengger di ubun-ubun langit. Menipisnya udara di paru-paru dan hidung yang tersumpal lendir. Kesempurnaan ini berpoligami membentuk elegi lelah di tepian kertas tipis yang dibanjiri tumpahan tinta hitam mencipta keabstrakan dunia.

Ini adalah posting tentang aku, jalanan sepi, lelah dan rumus nonpar seadanya..