Sabtu, 30 Mei 2026

Tentang Pesan yang Tak Pernah Terkirim

 Ada ironi yang sering datang diam-diam dalam hidup. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi peringatan, hanya tiba-tiba berdiri di hadapan kita ketika semuanya sudah terlambat. Saya menemukannya saat menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya belajar mengelola komunikasi untuk organisasi, tetapi gagal mengelola komunikasi untuk seseorang yang pernah menjadi rumah.

Di pekerjaan, saya dikenal sebagai orang yang bisa menjembatani banyak kepentingan. Ketika ada kesalahpahaman antar unit kerja, saya membantu merangkai kalimat agar tidak ada yang merasa disalahkan. Ketika publik mulai mempertanyakan sebuah kebijakan, saya menyusun narasi yang mampu menjelaskan tanpa memperkeruh suasana. Ketika krisis datang, saya belajar bahwa kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat bisa menyelamatkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Saya terbiasa mendengarkan, memahami sudut pandang yang berbeda, lalu menemukan titik temu di antara semuanya.

Namun ternyata kemampuan itu tidak otomatis pulang bersama saya ke rumah.

Hubungan pribadi tidak bekerja seperti siaran pers atau strategi komunikasi. Tidak ada pedoman baku, tidak ada tim pendukung, tidak ada ruang rapat untuk menyamakan persepsi. Ada dua manusia yang sama-sama lelah, sama-sama memiliki ego, luka, harapan, dan cara mencintai yang berbeda. Dan di situlah saya kalah.

Saya masih ingat masa ketika percakapan dengannya terasa begitu mudah. Pesan sederhana di pagi hari bisa menjadi alasan tersenyum sepanjang hari. Kami bisa berbicara berjam-jam tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tentang mimpi, rencana masa depan, tempat yang ingin dikunjungi, atau sekadar makanan apa yang akan dimakan malam nanti. Saat itu komunikasi terasa alami, tanpa perlu dipelajari.

Entah sejak kapan semuanya berubah menjadi laporan singkat yang dingin. Percakapan yang dulu penuh rasa ingin tahu perlahan berubah menjadi daftar kewajiban. Saya sibuk memahami kebutuhan publik yang tidak pernah saya temui, tetapi mulai gagal memahami seseorang yang setiap hari ada di dekat saya. Saya mampu membaca sentimen masyarakat dari ribuan komentar, tetapi tidak lagi mampu membaca kesedihan dari tatapan matanya.

Mungkin kesalahan terbesar bukan karena kami sering bertengkar. Semua pasangan bertengkar. Kesalahan terbesar adalah ketika kami mulai merasa tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya kami rasakan. Ketika diam menjadi lebih mudah daripada jujur. Ketika asumsi menggantikan percakapan. Ketika masing-masing mulai yakin bahwa yang lain pasti sudah mengerti, padahal kenyataannya tidak.

Lucunya, saya sering memberikan saran kepada orang lain tentang pentingnya komunikasi dua arah. Tentang pentingnya mendengarkan sebelum merespons. Tentang perlunya membangun kepercayaan sebelum menyampaikan pesan. Semua teori itu terdengar begitu masuk akal di ruang kerja. Tetapi di rumah, saya justru lebih sering menyiapkan jawaban daripada mendengarkan. Lebih sibuk membela diri daripada memahami. Lebih fokus pada siapa yang benar daripada apa yang sebenarnya sedang terluka.

Dan seperti banyak krisis lainnya, keretakan hubungan tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dibiarkan terlalu lama. Dari pesan yang tidak dibalas dengan sungguh-sungguh. Dari permintaan maaf yang ditunda. Dari pelukan yang semakin jarang. Dari kalimat "nanti kita bicarakan" yang ternyata tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Sampai akhirnya ada hari ketika kami duduk berhadapan dan menyadari bahwa yang hilang bukan lagi solusi, melainkan kemampuan untuk saling menjangkau. Kami masih mengenal nama satu sama lain, masih mengingat kebiasaan-kebiasaan kecil yang pernah membuat kami jatuh cinta, tetapi ada jarak yang entah bagaimana tumbuh begitu jauh di antara kami.

Peristiwa itu mengajarkan saya sesuatu yang tidak pernah saya temukan dalam pelatihan kehumasan mana pun. Bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan dengan efektif. Komunikasi adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain. Mendengar tanpa sibuk menyiapkan sanggahan. Memahami tanpa harus selalu menyetujui. Dan yang paling sulit, mengakui bahwa kadang-kadang kita ikut menjadi bagian dari masalah yang sedang kita coba selesaikan.

Ada masa-masa ketika saya pulang dari kantor setelah berhasil menangani persoalan yang rumit, lalu duduk sendirian di ruang yang terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi cerita yang menunggu untuk didengar. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya bagaimana hari saya berjalan. Pada saat-saat seperti itu, penghargaan, capaian, dan pujian profesional terasa kehilangan sebagian maknanya. Saya menyadari bahwa reputasi kelembagaan yang berhasil saya jaga tidak mampu menggantikan kehilangan satu hubungan yang gagal saya rawat.

Saya tidak menulis ini sebagai upaya mencari siapa yang salah. Waktu sudah berlalu terlalu jauh untuk itu. Saya juga tidak menulis ini sebagai kisah tentang seseorang yang berhasil mengambil hikmah lalu melanjutkan hidup dengan ringan. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Karena ada kehilangan yang tidak selesai hanya dengan berjalannya waktu.

Banyak orang berkata bahwa waktu akan menyembuhkan. Bahwa suatu hari nanti semua akan terasa biasa saja. Namun hingga hari ini, saya belum benar-benar memahami kalimat itu. Ada nama yang masih membuat hati bergetar ketika tanpa sengaja disebut. Ada kenangan yang tetap hidup meski sudah berkali-kali berusaha saya letakkan di tempat yang jauh. Ada percakapan-percakapan lama yang masih sesekali saya ulang dalam kepala, seolah mencari bagian mana yang seharusnya saya ucapkan berbeda.

Ironisnya, sebagai humas saya tahu bahwa setiap krisis membutuhkan evaluasi pascakejadian. Kita mempelajari apa yang salah agar tidak terulang kembali. Tetapi dalam urusan hati, tidak semua evaluasi menghasilkan jawaban. Kadang yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan yang terus hidup tanpa pernah menemukan penutupnya.

Mungkin itu sebabnya tulisan ini ada.

Bukan untuk menutup cerita. Bukan untuk menyatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Justru karena ada bagian dari diri saya yang masih tinggal di masa ketika ia masih ada. Masih tinggal pada tawa yang dulu memenuhi hari-hari biasa. Masih tinggal pada rencana-rencana sederhana yang tidak pernah sempat menjadi kenyataan.

Dan sampai hari ini, di tengah berbagai keberhasilan menjaga komunikasi organisasi, membangun hubungan dengan publik, serta meredakan berbagai krisis yang datang silih berganti, ada satu hal yang masih belum berhasil saya lakukan:

berdamai dengan kehilangan seseorang yang pernah saya anggap sebagai rumah.

Kamis, 29 Agustus 2024

Sebab Akibat

Mungkin, pepatah legendaris yang harus segera ditinjau dan direvisi adalah pepatah : "Time is Money".

Gara-gara pepatah itu, hampir seluruh umat manusia bersemangat dan berlomba untuk mengonversi waktu yang telah mereka habiskan dengan sejumlah uang. Saya tidak sedang bermaksud mengatakan bahwa kecenderungan tersebut merupakan hal yang salah. Uang tetaplah menjadi konversi yang paling masuk akal, wajar, dan manusiawi, utamanya bagi individu-individu yang sudah berkeluarga.

Kita membutuhkannya untuk membeli beras, lauk-pauk, dan sayur. Kita juga memerlukannya untuk skincare si Istri, untuk mendukung tongkrongan si Suami, angsuran rumah, bahan bakar kendaraan bermotor, dan tabungan. Bahkan untuk sekadar menikmati secangkir kopi dan seblak cireng bersama keluarga, saat akhir pekan tiba.

Semua itu perlu alat tukar. Dan sayangnya, alat tukar yang disepakati saat ini adalah uang. Kecuali kita bisa membayar IPL perumahan dengan 5 kilo beras. Itu mungkin agak menarik.

Masa berkeluarga kadang membuat kita melepas jubah-jubah idealisme dan loyalitas yang pernah dengan jumawa kita kenakan. Di zaman mahasiswa, kita mulai bermetamorfosis menjadi manusia 'sulit' yang secara tak sadar menasbihkan slogan 'Wani Piro?' di otak kita. 

Dampaknya? Menyedihkan.

Kita selalu saja 'berhitung' dalam setiap pekerjaan, yang bahkan sudah menjadi kewajiban kita, meski mungkin kita terjemahkan dalam bentuk nyinyiran dan keluhan di media sosial. Kita seringkali memilih berhenti atau mundur dari suatu kewajiban atau pekerjaan ketika indera penciuman belum menemukan aroma kertas persegi panjang bergambar pahlawan dan tokoh-tokoh negara, di dalamnya. Kita mulai malas menjadi inovator dan lebih memilih untuk menjadi eksekutor. 

Pelan-pelan, tapi pasti, orientasi kita mulai berubah, Uang adalah penyebab, tidak lagi akibat.

Saya masih ingat betul bagaimana dulu para senior kampus mengkader dan menjejali otak, hati dan jiwa kami-para mahasiswa baru yang masih unyu dan tak berdosa-dengan nilai-nilai loyalitas, kebanggaan, sense of belonging, tanggung jawab, kepemimpinan, dan sederet nilai lain yang harus kami telan dan peragakan selama satu semester, bahkan lebih. Jangan tanyakan bagaimana rasanya. Pahit sekali. Itu semua bukan soal 'ploncoan' lho ya. Jelasnya, melalui masa-masa itu, saya belajar dan melekatkan banyak hal yang masih kental hingga sekarang.

Ketika itu, kami semua belum berkeluarga. Para senior itu pun demikian.

Mereka semua mengkader kami tanpa imbalan sepeserpun. Malah mungkin mereka keluarkan dana dari saku pribadi, untuk operasional hajatan tahunan itu. Kami pun demikian. Entahlah, mungkin hidung-hidung kami belum terlalu peka dengan aroma khas kertas-kertas terbitan BI.

Kini, setelah menapaktilasi perjalanan lalu, saya jadi bertanya:

Apakah saat ini, kita sudah berorientasi pada hal yang tepat? Bukankah semestinya, uang menjadi akibat dari segala jerih payah, usaha, loyalitas, pemikiran, karya, dan pengorbanan? Tidakkah uang merupakan dampak otomatis dari tindakan kita? 

Saya belum tahu jawabannya. Kalaupun saya tahu dan saya jawab, mungkin kepala ini sudah babak belur dihajar teman-teman realist. Karena saya tahu, pertanyaan saya sangat ideal dan 'kurang ajar'.

Namun yang pasti, kita semua sudah sama-sama dewasa. Saya dan Anda bukan lagi mahasiswa baru yang dapat dengan mudah dibariskan lalu diminta push-up berantai sebagai konsekuensi atas ke'koplak'an berjamaah yang kita lakukan tanpa atau dengan sadar. Jadi, semoga kita senantiasa bertumbuh, menjadi manusia dewasa, 'mudah' dan sederhana.

Selamat dini hari, mari bekerja kembali, demi sesuap nasi dan uang 1 miliar.

Minggu, 07 April 2024

Surat Cinta untuk Bumi Anoa

"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama, kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu gagasan, beradu ego, beradu mulut. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."


Wakatobi (2017–2020)

Kadang, sebagai manusia, kita ingin waktu dapat melambat. Sedikit saja. Ya, setidaknya, itu terjadi pada kami. Jumat, 17 Februari 2017, Allah mengabulkan doa kami. Saya dan istri pertama kali mendarat di sebuah pulau kecil di ujung Tenggara Sulawesi Tenggara, Wangi-Wangi namanya, salah satu gugusan pulau besar dari Kepulauan Wakatobi (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko). 

Pertama kali mendaratkan kaki di Wakatobi, 17 Februari 2017

BPS Kabupaten Wakatobi, 17 Februari 2017

Pengawasan lapangan pertama di Wakatobi (Sakernas), Pulau Kapota, 18 Februari 2017

Dan di sinilah kami, 3 tahun berpetualang, mempelajari banyak hal, bertemu beragam manusia, berbagi kisah dan pengalaman, mendewasakan diri sekaligus mengistirahatkan jiwa kami yang cukup lelah dengan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya; Wakatobi, pulau yang sederhana, namun masih ramai meski matahari telah terbenam. 

Nonton pertandingan sepak bola di Pelabuhan Pangulubelo, 19 Februari 2017

Bocil Bajo main di laut, April 2017

Pertama kali jalan-jalan menyebrang Pulau Kaledupa, April 2017

Pertama kali menikmati Kasoami, Sayur Bunga Pepaya, dan Ikan Asap khas Wakatobi

Udara bersih, dingin di pagi hari, terik di siang hari dengan 'dua' matahari yang menyinari, sepoi-sepoi angin laut menyambut kami dengan ramah, seakan memeluk erat rasa penat yang kami bawa dari ibu kota; cantiknya tebing-tebing karang, indahnya kehidupan bawah laut, pesona budaya dan kuliner mampu memanjakan indera-indera kami; kecantikan, kesederhanaan, dan tradisionalitas masyarakatnya mampu mengurai benang kusut di otak kami. 

Kontrakan pertama kami, Mandati III, Wakatobi, 2017

Bapak Ibuk Oryz, pertama kali mendarat di Wakatobi, 2018

Snorkeling bareng bapak (mertua), 2018

Papa mama jalan-jalan ke Wakatobi, 2019

Tinggal di sebuah kontrakan kecil di lingkungan perkantoran yang sepi tak membuat kami, bahkan kedua orang tua kami yakin bahwa Wakatobi adalah tempat yang tepat untuk kami tinggali. Kami dikelilingi tetangga-tetangga yang baik, pemilik kontrakan yang kami anggap orang tua kami sendiri, rekan kerja yang bersahabat dan terasa kehangatannya. Lingkungan sekitar pun bikin kami makin betah, sahabat-sahabat kami di Pemerintah Daerah, teman-teman kajian Wakatobi Mengaji, ibu-ibu Arisan komplek BTN, responden-responden ramah murah senyum dan tak enggan berbagi cerita kepada kami yang pendatang, sahabat-sahabat suku Bajo penghafal al-Qur'an, rekan-rekan mitra BPS yang tangguh, teman-teman pegiat wisata dan kuliner Wakatobi, teman-teman driver rental, teman-teman BEKRAF dan dokter magang, konsumen Dapur Norma, dan semua sahabat serta keluarga kami di sana yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Mereka semua memberi warna yang berbeda yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Warna yang sungguh indah tentunya.

Bersama para pekerja anak di Danau Tailaronto'oge pulau Kapota, Mei 2019 (Lihat artikel)

Belanja ikan segar di Pasar Sore Marina tiap sore

Lure Krispi Dapur Norma masuk pameran kuliner Wakatobi Wave 2019

Karena lagi perjadin, minta tolong teman kantor jaga stand Dapur Norma yang dikunjungi Bupati, terima kasih Yusuf, dkk.

Wakatobi, membelai jiwa kami yang kelelahan, mengajari kami untuk kembali bersyukur, sekalipun terhadap hal paling sederhana. Rasanya, waktu berhenti sejenak saat itu. Sungguh, Wakatobi adalah senyaman-nyamannya zona nyaman.

Sarapan sehabis upacara bersama Bupati, wkwk

Bakar ikan dengan pagar kantor, wkwk

Hari terakhir bersama tim hebat BPS Wakatobi, hiks

Terima kasih Wakatobi, telah menerima kami dan menyajikan kenangan indah tak terlupakan. Semoga kami bisa berjumpa kembali, jika Allah menghendaki.

Kendari (2020-2024)

Saya sampai di kota ini dengan bau tanah sehabis hujan. Rumah batu, pasir kuning, debu jalanan, aspal yang panas, kendaraan bermotor kecepatan tinggi yang menyalip dari lajur kiri (haduuh, harusnya menyalip dari kanan bos), tipikal perkotaan pada umumnya dengan pengemudi yang cukup ugal-ugalan, batinku. Perasaan kami masih campur aduk setibanya di sini, antara rindu dengan Wakatobi, kesedihan meninggalkan keluarga di Wakatobi, bahagia telah naik satu level di kehidupan karir kami, capek berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai rasa takut/khawatir atas apa yang akan kami hadapi selanjutnya di tempat yang baru ini.

Pindahan dari Wakatobi, 2020

Benar saja, tak sampai dua bulan kami tinggal di ibu kota yang tak ramai dan tak ramah ini (kesan pertama kami), badai pandemi menyerang ibu pertiwi. Wabah antah berantah yang cukup mematikan tiba-tiba menjangkiti negeri kami. Tinggal di rumah saja jadi kebiasaan baru. Hampir dua tahun kami tak banyak bersosialisasi dengan orang sekitar selain dengan rekan kantor kami (meski kebiasaan ini sebenarnya berlanjut selama 4 tahun kami di sini, karena tinggal di lingkungan kos yang pergantian penghuninya cukup cepat). Namun, di sinilah titik balik berubahnya kesan pertama kami. 

WFH tiap hari, 2020-2021

Pertengahan 2021 merupakan tahun yang berat bagi kami. Di tengah pekerjaan yang membabi buta, Delta ternyata bertamu ke tempat kami, bahkan keluarga kami. Sungguh rasanya ibarat gladi sakaratul maut. Di tengah kesulitan yang kami hadapi, tak disangka-sangka, rekan kerja kami, gotong royong membantu kami. Di saat kami tak memiliki satupun sanak saudara ataupun dekat dengan orang tua di sini, mereka dengan sukarela menawarkan posisi sebagai saudara dan orang tua kepada kami. Menjadi garda terdepan yang menolong kami. Dari mencarikan obat yang mulai langka keberadaannya, mengirimi kami minuman herbal nan ampuh meredakan batuk kering kami, membelikan air galon yang mulai mengering, memberikan segala macam amunisi makanan dan minuman serta alat kesehatan yang alhamdulillah mempercepat proses pemulihan kami. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang berlipat.

Lembur DDA pertama kali, 2021

Kerja bersama tim super BPS Sultra

Di sinilah pula kami menemukan bapak/ibu yang menjadi panutan, teman-teman yang kompak, kakak-kakak yang mengayomi, adik-adik tangguh yang kami percaya, serta orang-orang yang membuka wawasan dan cara berpikir kami yang masih sangat sempit kala itu. Meski semua berawal dari dunia kerja, namun seiring berjalannya waktu, mereka bermetamorfosa menjadi keluarga baru kami. Di kota yang awalnya kami anggap kota yang tak ramah. Namun ternyata, kota ini menyadarkan kami bagaimana cara berbahagia di lingkungan yang lebih beragam dengan segala macam kompleksitasnya. Mensyukuri setiap momen di tengah cepatnya waktu yang berlalu. Tak selamanya kami tinggal di lingkungan sederhana seperti di perdesaan, pun tak selamanya kami tinggal di lingkungan yang kompleks seperti perkotaan.






Work Life Balance

Kota Kendari mendidik kami, menjadi manusia yang lebih tangguh, mandiri, bisa diandalkan, mampu memberi manfaat kepada sekitar, dan terus belajar menjadi lebih baik. Di sinilah kami menyadari bahwa belajar bukan hanya dominasi mata, telinga, otak dan indera-indera fisik lainnya. Belajar juga merupakan pekerjaan hati. Belajar tak terbatas pada pelatihan, pendidikan formal, maupun kursus-kursus dan webinar. Memaknai kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran, merenungi kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Di Kendari inilah, kami lebih banyak belajar, belajar tentang makna kehidupan yang sesungguhnya dan bagaimana agar bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Wonua Momahe, 2023

Labengki-Sombori, 2023

Terima kasih Kendari, telah menerima kami, mengayomi kami, dan menyajikan wejangan yang menempa tekad kami. Semoga kami bisa bersua kembali, jika Allah menghendaki.

April 2024, Meninggalkan Bumi Anoa

Terharu banyak yang mengantar :')

Benarlah segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya. Saatnya kami berpisah kembali dengan orang-orang yang kami cintai. Wakatobi, lalu Kendari, ke tempat yang akan membawa kami ke persinggahan selanjutnya, di kehidupan kami yang lain lagi. Namun yang pasti, saat kami bersama kehidupan kami yang lain, tetap kami nyatakan mereka keluarga kami. Keluarga yang memang begitu adanya.

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya.

Sejalan dengan waktu yang bergulir, kita pasti akan bertemu peubah dan parameter baru, dengan atau tanpa disengaja. Hingga kehidupan yang terasa linear menjelma menjadi sistem persamaan non-linear yang mesti didapatkan solusinya.

Nikmatilah. Karena pada masa itu kau akan semakin terlatih, menemukan keseimbangan.

Maknailah, dengan sederhana dan bersahaja. Karena di titik manapun engkau berada, di sana akan selalu tertanam doa dan cita-cita, in syaa' Allah.

"Semuanya akan terasa indah, apabila kita jalani dengan ikhlas. Sebab, pekerjaan paling sulit bagi manusia adalah mensyukuri segala nikmat Allah Ta'ala. Bukan soal nilai rupiah, lebih dari itu bagi saya. Ini soal hakikat. Melalui perjalanan ini, saya banyak mendapatkan pelajaran.

Karena setiap langkah adalah karya, karena setiap nafas adalah makna. dan di setiap pikiran selalu ada rencana. Karena dunia ciptaan-Nya ini sungguh indah, seindah-indahnya gradasi warna dalam batas cakrawala" - Ryan W. Januardi

Terima Kasih Wakatobi, Terima Kasih Kendari, Terima Kasih Bumi Anoa

Salam hangat dari kami, semoga Allah selalu melindungi kita semua di manapun berada

Bangil, 28 Ramadhan 1445 H

Recap video (oleh Damara Utama):


*ah, saya seperti baru saja terbangun dari mimpi yang begitu panjang,

Pantai Teluk Ceri Toronipa, 2023

Selasa, 12 Desember 2023

Duabelas Desember

Ada sesuatu yang tak terpadankan aksara, ketika engkau telah menjadi separuh dari kita.


Demikian, semoga kita menjadi cinta yang bertumbuh menyusuri sungai masa, menjalari pepohonan usia..

hingga kelak ketiadaan mengantar kita, bertemu di taman surga..

semoga.

12.12.16 ~ 12.12.23

Rabu, 12 Oktober 2016

Non-Linear

Sejalan dengan waktu yang bergulir, kita akan bertemu peubah dan parameter baru, dengan atau tanpa disengaja. Hingga kehidupan menjelma menjadi sistem persamaan non-linear yang mesti didapatkan solusinya.

Nikmatilah. Karena pada masa itu kau akan semakin terlatih, menemukan kesetimbangan.

Maknailah, dengan sederhana dan bersahaja. Karena di titik manapun engkau berada, di sana akan selalu tertanam doa dan cita-cita, in syaa' Allah. :)

Jakarta, 10 Muharram 1438 H
Mari tumbuh, bergerak, dan menjadi dewasa.. 
bersama...

Jumat, 11 Desember 2015

Nikmatnya Jalan Perjuangan

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT

BAB 0: NIAT
004 Nikmatnya Jalan Perjuangan

Tujuan dicapai dengan perjalanan. Cita-cita diraih dengan perjuangan. Pelangi diawali oleh tetesan hujan. Akibat lahir dari rahim sebab. Demikianlah ketentuan Allah yang berlakukan di bumi tempat para hamba-Nya berpijak.

Banyak dari kita menilai bahwa kenikmatan itu ada pada saat tercapainya tujuan, sedangkan usaha menuju tujuan merupakan fase kesusahan. Namun, orang-orang terpilih justru menjadikan kenikmatan pada proses perjuangan, dan tercapainya tujuan hanyalah merupakan kelanjutan dari kenikmatan tersebut. Kenikmatan di atas kenikmatan..

Dalam sebuah syair hikmah yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi’i disebutkan:

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّن تُفَارِقه
وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِي النَّصبِ
"Pergilah niscaya kau akan dapatkan ganti dari yang kau tinggalkan,
berjuanglah keras sebab kelezatan hidup itu ada dalam kepayahan."

Allah juga menerangkan dalam firman-Nya:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ * وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ * ٱلَّذِيۤ أَنقَضَ ظَهْرَكَ * وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ * فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ * وَإِلَىٰ رَبكَ فَٱرْغَبْ
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah: 1–8)

Bagaimanapun cara pandang kita terhadap usaha dan perjuangan, apakah sebagai kenikmatan atau kesusahan, perjuangan tetaplah suatu keharusan yang apabila ditunda atau diabaikan maka akan menimbulkan keharusan yang lebih besar di kemudian hari. Seseorang yang mengabaikan kerja keras di masa muda harus membayar dengan kerja lebih keras di masa tuanya. Mahasiswa yang enggan belajar secara rutin setiap hari harus belajar lebih keras di musim ujian atau ia tidak lulus.

Demikianlah rumus yang berlaku dalam kehidupan...

Jakarta, 30 Safar 1437H

Minggu, 01 November 2015

Inilah Perjuangan, Akhi!

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT

BAB 0: NIAT
003 Inilah Perjuangan, Akhi!

Seorang penyair pernah berkata:
"Jadilah lelaki, tapak kakinya kokoh di atas bumi, namun cita-citanya setinggi bintang Tsurayya."

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata (dalam Miftah Daaris Sa'adah hal 366):
"Para ahli pada masing-masing umat telah sepakat bila keberhasilan itu tidak mungkin diraih dengan bersenang-senang. Barangsiapa lebih memilih bersantai, ia tidak akan meraih cita-cita. Kebahagiaan dan kelezatan sangat ditentukan dengan kesusahan dan kesulitan yang dihadapi. Kebahagiaan tidak akan mungkin pernah ada tanpa tekad kuat. Tanpa kesabaran tidak mungkin ada kelezatan. Kenikmatan tidak akan pernah dirasakan bila tanpa pengorbanan."

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya: "Kapankah seorang hamba benar-benar merasakan kesenangan?" Beliau menjawab: "Ketika pertama kali melangkah di dalam surga." (Uluwul Himmah hal. 30)

Seekor elang, ia akan terbang mengangkasa dengan mengepakkan sayap-sayapnya. Ia akan melihat luasnya hamparan bumi dan ia pun akan merasakan indahnya langit yang tak bertiang. Ia akan betul-betul terbang, namun sebelumnya apa yang telah ia lakukan?

Ia berlatih untuk terbang, ia belajar mengenal ketinggian, dan hempasan angin. Ia melakukan segala-galanya. Kini iapun terbang di angkasa dengan sayap-sayapnya.

Begitupun kita, jika jiwa benar-benar besar, tubuh akan merasakan kepayahan untuk meraih cita. Seseorang yang mengarungi samudra, pasti akan menyaksikan peristiwa berbahaya silih berganti...

Allah berfirman dalam QS. Ali Imraan: 159, "Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."

Malam sudah larut, mari beristirahat :)
Jakarta, 19 Muharram 1437H

Sabtu, 24 Oktober 2015

Kisah Batu Cekung

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT

BAB 0: NIAT
002 Kisah Batu Cekung

Ada orang yang apabila melihat kawannya mendapatkan kemuliaan, ilmu atau lainnya, ia hanya bisa tertegun sambil berkata dalam hati, bagimana saya bisa seperti dia?

Atau kasus lain, seseorang selalu saja pesimis menghadapi suatu pekerjaan. Alasannya tidak lain, karena menurut yang ia dengar, pekerjaan yang dihadapinya itu sulit.

Itu sebagian potret sikap keterputus-asaan, yang terkadang menyelinap hinggap pada hati seseorang. Semua rasa pesimis tersebut harus dipupus. Karena, Allah pasti memberikan pertolongan dan jalan keluar bagi yang mau berusaha. Demikian juga dalam menuntut ilmu.

Dahulu, ada seorang pelaku thalabul 'ilmi yang merasa gagal karena menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan dan kecerdasan. Ia pun telah yakin untuk berhenti menuntut ilmu.

Dalam perjalanan pulang, ia melewati puncak sebuah bukit. Di salah satu sudutnya ada sebongkah batu gunung yang cekung karena tetesan air. Akhirnya ia tersadar, "Air meskipun lembut, ternyata bisa membuat batu keras menjadi cekung! Demi Allah aku akan kembali menuntut ilmu!" Berikutnya ia pun sukses dalam thalabul 'ilmi

Kisah ini disebutkan oleh Imam Suyuthi di dalam Al-Muzhir fii 'Uluum al-Lughah 2/261. Akan tetapi, tidak disebutkan secara pasti siapakah nama orang tersebut.

Dari kisah di atas dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa jika kita merasa kurang dalam suatu hal, jangan pernah lupakan sebuah modal lainnya! Yaitu "ketekunan". Sungguh, ketekunan akan menjadi langkah awal dari sebuah kesuksesan.

Seorang pujangga pernah memadu rasa:
"Menuntut ilmu lah! jangan putus asa dari cita-cita
Penyakit seorang murid adalah putus asa
Apakah engkau tidak memperhatikan air yang terus menetes di atas batu cadas, 
bukankah akan berbekas?!"

Allah berfirman:
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. Al-Anfal : 9)

Jakarta, 11 Muharram 1437H

Jumat, 23 Oktober 2015

Melawan Malas, Mengusir Jenuh

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT
001 Melawan Malas, Mengusir Jenuh

Belajar itu memang bertahap, lihat dan sadari di titik manakah kita berdiri. Seringkali kita minder di saat melihat beberapa kawan telah mencapai tataran yang cukup tinggi. Kita terkadang merasa kecil hati kala membandingkan dengan beberapa kawan yang telah jauh melangkah ke depan.

Semestinya, semangat kita justru semakin menguat. Pijakan untuk berhasil adalah keyakinan kuat jika setiap masalah pasti ada solusinya. Apabila kita pesimis dan tidak berpengharapan lagi, habislah kita. Ucapkan saja selamat tinggal untuk cita-cita.

Melawan malas dan mengusir jenuh pun ada solusinya. Kenapa tidak?

Berdoa kepada Allah dan memohon kemudahan dari-Nya adalah langkah pertama untuk melawan malas dan mengusir jenuh. Di dalam hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu riwayat Muslim, Rasulullah setiap petang memohon kepada Allah agar dilindungi dari rasa malas, Rasulullah juga berdoa:

"Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon perlindungan kepada-Mu dari rasa malas, pikun, dosa, dan hutang." (Hadits dari 'Aisyah radhiyallahu'anha, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
dan dalam kesempatan yang lain beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian” (Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu, riwayat Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Faidah dari hadits di atas:

1. Dianjurkan untuk membiasakan doa tersebut.
2. Doa tersebut berisi permintaan agar kita diberi keselamatan terhindar dari sifat-sifat jelek yang disebutkan di dalamnya.
3. Doa tersebut berisi permintaan agar kita tidak terjerumus dalam sifat-sifat jelek tersebut.
4. Meminta perlindungan dari sifat ‘ajz, yaitu tidak adanya kemampuan untuk melakukan kebaikan. Demikian keterangan dari An Nawawi rahimahullah (dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 17/28)
5. Meminta perlindungan dari sifat kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh An Nawawi rahimahullah (dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 17/28).

Jakarta, 10 Muharram 1437H

referensi: rumaysho.com