Tampilkan postingan dengan label Tips & Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips & Trik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2015

Dari Tulisan Aku Mengenalmu

Bismillaah,

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang berhasil membuat sebuah karya, ataupun kajian besar bersama kawan-kawan pembacanya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat hidayah, dan mengetahui jalan yang haq dari yang selama ini dijalaninya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat tawaran pernikahan dari seseorang.

Semua berawal dari tulisan, maa syaa' Allah.

Begitu pula warisan-warisan terdahulu. Bukanlah yang diwariskan itu harta, atau sekadar bangunan dan budaya, namun ilmu yang tertuangkan dalam tulisan.

Maka bersiaplah engkau, wahai para penulis yang ikhlas.

Kelak kau bahkan mungkin akan mendapatkan aliran pahala dikala engkau tidur, karena tulisanmu yang bermanfaat. in syaa' Allah.

Maka jika Anda punya ilmu atau hikmah bermanfaat, jangan ragu tuk berbagi, tuliskanlah!

Selagi nama anda belum dituliskan di atas nisan.

***
Catatan: 
sang penulis di blog ini, melalui tes kemampuan dan potensi akademik baik tes tulis maupun tes online, diketahui memiliki keterbatasan di bagian linguistiknya. Dia saja berani mencoba menulis, Anda harusnya lebih mampu melampaui dia dong?

Bismillaah, in syaa' Allah sebentar lagi menulis skripsi! Semoga Allah mudahkan jalan saya dan jalan teman-teman saya untuk menempuh sisa-sisa waktu tingkat 3 tahun ini untuk menuju tingkat 4 sehingga kami semua bisa lulus dan wisuda tahun 2016. Aamiin

Bangil, 2 Syawal 1436 H

Jumat, 03 April 2015

Tips Memasak di Kamar Kos Ala Koh Ryan [Part 1]

Jaman saya SD, saya sudah suka belajar masak, karena dulu sering bantu-bantu di dapur (maklum di rumah nggak ada anak perempuan yang bantuin Mama di dapur, jadi karena kebiasaan disuruh bantuin, jadi paham dikit lah barang-barang di dapur). Saya masih ingat masakan pertama yang saya buat ketika kelas 3 SD... Air. Masih gampang memang, tapi namanya tahap belajar kan nggak mungkin saya bisa langsung masak mi rebus ala tukang nasi goreng pinggir jalan yang rasanya jauh lebih enak daripada bikin mi rebus instan sendiri. Di kelas 6 SD saya sudah bisa masak nasi, mi instan, telur orak-arik, ceplok, dadar, tempe dan tahu goreng. Menginjak SMP saya mulai bereksperimen dengan sayur mayur, ikan, dan ayam. Pas SMA saya mulai belajar cara memasak ala tukang nasi goreng, yang rasanya selalu lebih enak daripada kalo kita bikin sendiri, dan sampai saya sudah kuliah sekarang ini, cara memasak itu masih belum bisa saya kuasai, dan masih menjadi misteri ._.

Oke, saya tekankan dulu ya, lelaki suka masak itu bukan hal yang aneh menurut saya. Nggak cuma perempuan yang boleh suka masak sebenarnya. "..Lelaki juga harus bisa masak. Kenapa? kalo udah berkeluarga (aamiin) dan istri lagi sakit atau hamil dan butuh istirahat, masa' iya kita sebagai suami (aamiin) maksa-maksa dia buat masakin kita, cuma buat memanjakan lidah dan perut kita? Sedangkan mereka juga butuh dimanjakan... (ceilah)... terus, kadang suami juga lebih jago masak daripada istri. Kita juga bisa menggunakan momen memasak bersama kayak gitu sebagai kesempatan untuk bercengkrama dengan istri sehingga terciptalah suasana yang akan menambah rasa cinta di hati masing-masing... (klepek-klepek)" - ini kata bapak-bapak yang jualan bubur mesir (yg bikin bapaknya loh) temen ngobrol saya pas kajian di Slipi dulu, hehe. 

Terinspirasi juga dari teman kajian saya dari IPB, Usamah, dia laki, sering bantu Ummi nya masak, pernah suatu ketika, pas istirahat kajian dia ngajak saya makan siang bareng-bareng teman-teman yang lain, majlas istilahnya, dia tawarkan bekal makan siangnya, nasi dengan lauk rendang. Rendangnya masakannya sendiri, bikinnya di dapur kosannya lagi. Rasanya top! Nggak cuma masak rendang, dia pernah memberi saran ke bapak-bapak jual serabi biar serabinya lebih lembut ada teknik-tekniknya, dia tahu, bahkan lebih ahli dari bapak-bapak jual serabi. Keren lah.

Oke, kenapa tiba-tiba saya nulis ginian. Ya, saya cuma bosen di kosan, apalagi semester 6 ini makin banyak liburnya. Jadi, tadi pagi saya coba aja eksperimen ini di kamar kos, terus saya coba bikin tulisannya juga, hoho. Dengan harapan bisa nambah referensi temen-temen yang baca ini :v *like a pro*

Iya. tips ini khusus untuk di kamar kos. Sekali lagi, kamar kos. Kamar. Bayangkan kamar tidur Anda, dibuat untuk masak memasak. Tips ini akan sangat cocok untuk temen-temen yang bernasib seperti saya. Hanya ada kamar kos. Tidak ada dapur pribadi atau dapur umum (ada dapur sih, cuma kurang sreg aja mau pakai dapurnya, kurang higienis sepertinya).

Sebelumnya, saya akan ceritakan sedikit kondisi di kamar kos saya. Kamar kos yang saya tempati, miliknya Pak Haji Anang, satu rumah isi 32 kamar. Satu kamar ukuran sekitar 3 x 3 meter. Ada satu kamar mandi kecil di dalam.  Sewa kos nya 700ribu per bulan, tapi saya  bayar per 3 bulanan jadi 650 ribu per bulannya. Deket masjid, alhamdulillah. Suasana di dalam kamar, ada satu rak 3 laci, satu rak buku 4 susun (rencana mau nambah lagi, udah nggak cukup buat naruh buku-buku yang tercecer), satu rak susun 3 yang isinya perabotan makan (nah ini nih markasnya senjata buat masak hari ini), satu lemari besar pakaian, dua box kecil, dan satu spring bed. Bisa bayangin dong ya, suasananya seperti apa di dalam. *No pic ya, lagi berantakan, tiap hari berantakan sih*

Jadi, bagaimana biar bisa tetep masak di kamar yang terbatas, Tanpa membuat kamar berbau asap dan berasa seperti dapur? Yang pasti, barang yang wajib ada di kamar adalah:
  • Rice Cooker. Saya pakai rice cooker ukuran kecil. Selama 3 tahun tidak digunakan akhirnya terpakai juga kamu, nak :v
  • Heater. Heater punya saya ukuran kecil juga. Dan selama 3 tahun ini, heater ini sudah banyak makan asam garam bersama saya dalam memasak mi instan :v
  • Air minum. Biasakan memasak apapun menggunakan air minum ini ya. Selain lebih higienis juga lebih sehat. Takutnya kalau saat proses masak tidak terlalu lama, air nya sudah pasti matang gitu.
  • Untuk yang lain-lain, sesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan. Mungkin mau bawa dispenser, kulkas, kompor listrik, atau lain-lain. Tapi, di kamar saya yang pasti hanya ada tiga barang itu dan barang tambahan sbb: piring, sendok-garpu, gelas, pisau & gunting.

Buat yang baru pertama kali ngekos, memang persiapan perangnya agak dilengkapi ya. Nggak perlu banyak yang penting sesuai kebutuhan. Yang pasti sebelum masak, pastikan Buka jendela kamar lebar-lebar. Buka pintu kamar lebar-lebar. Biar udara di dalam kamar bisa bertukar ke luar.


Dan aturan penting setelah memasak adalah, jangan lupa untuk cuci-cuci. Saya cuci perabot memasak di dalam kamar mandi. Bau masakan dong kamar mandinya? Enggak lah. Setelah cuci-cuci, semua perabot di lap sampai bersih dan dimasukkan ke rak yang sudah disediakan. Setelah itu, bersihkan kamar mandinya. Digosok-gosok pakai karbol biar nggak bau dan kembali bersih.

Biar kamar nggak berasa seperti dapur, simpan semua peralatan memasak dalam rak. Saya pribadi sebenernya nggak terlalu suka dengan kamar yang berasa dapur. Semuanya numplek blek jadi satu. Tapi namanya juga iseng-iseng ya kapan lagi kayak gini, haha

Nah, makanan apa saja yang bisa dimasak di kamar kos an yang tidak berdapur & tanpa asap dengan peralatan di atas?

1. Mi Instan

Lumrah lah ya. Mi instan bisa dimasak dengan heater. Caranya sama seperti masak menggunakan kompor, cuma kompor dan pancinya diganti pakai heater.

TIPS 1 (kalo lagi rajin cuci-cuci)

1. Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Tuang air minum ke dalam wadah heater
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Tunggu sampai air dalam heater berbuih
5. Masukkan mi dan masak sampai matang. Lebih lama dibandingkan dengan menggunakan kompor. Kira-kira 5 – 10 menit an lah.
Buat variasi, bisa dimasukin telor, bakso, atau sayur. Sajikan bersama bumbu kemasan yang sudah tersedia di dalam bungkus mi instan.

TIPS 2 (kalo lagi males cuci-cuci)

1. Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Tuang air minum ke dalam wadah heater
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Tunggu sampai air dalam heater berbuih
5. Masukkan air yang sudah matang tadi ke dalam bungkus mi instan. Sajikan bersama bumbu kemasan yang sudah tersedia di dalam bungkus mi instan. Tunggu sampai mi instan terasa lunak dan bumbu sudah tercampur rata.

2. Telur Orak-arik

Goreng telur bisa pakai heater loh. Caranya sama seperti masak menggunakan kompor, cuma kompor dan wajannya diganti pakai heater.

1. Ingat! Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Siapkan telur, mau telur ayam, telur bebek, atau telur puyuh terserah. Yang saya gunakan telur ayam, gampang carinya.
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Masukkan mentega. Mentega ini, sebagai pengganti minyak goreng. Biarkan sampai meleleh ya.
5. Masukkan telur ke dalam heater dengan lelehan mentega tadi. Ingat! pecahkan dulu telurnya, jangan langsung dimasukkan beserta kulitnya!
6. Ini tahap yang paling mudah, terserah style kalian gimana. Acak-acak aja telurnya. Saya acak-acaknya pakai sendok, nggak mampu kalo pakai tangan kosong, saya bukan Limbad. Acak-acaknya sampai matang ya dan jangan lupa dikasih garam secukupnya, karena nggak pakai kompor, matangnya agak lama, sekitar 10-20 menitan.
7. Setelah matang, telur orak-ariknya siap disantap atau digunakan untuk masakan di bawah ini:

3. Nasi Goreng

Wuahaha. Bisa banget masak nasi goreng di dalam rice cooker. Ya bisa lah,namanya aja rice cooker, yang artinya Pemasak Nasi. Berarti nasi goreng pun juga bisa. Caranya sbb:

0. Cuci dulu rice cooker-nya. Kenapa? soalnya rice cooker yang saya gunakan ternyata belum dicuci setelah dipakai buat masak-masak pas jalan-jalan Kopma bulan Desember 2014 lalu. Baunya itu loh -.-
1. Nah, ingat lagi! Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Masak beras sampai jadi nasi di dalam rice cooker.
3. Taruh nasi di piring, dan cuci dulu wadah yang digunakan masak nasi tadi biar bersih. Kalau saya sih, nggak pake dicuci. Langsung dipakai lagi. (*males, kan baru aja nyuci*)
4. Siapkan rice cooker. Dan kondisikan dalam keadaan “cooking” bukan “warm
5. Masukkan mentega. Mentega ini, sebagai pengganti minyak goreng. Biarkan sampai meleleh ya.
6. Masukkan irisan bawang putih. Karena bawang putih aman dimakan dalam kondisi matang atau mentah, jadi kalau proses masak di dalam rice cooker ini dirasa kurang matang, masih aman buat dimakan. Inget, tingkat panas rice cooker sama kompor beda ya. Don’t expect too much! Aduk-aduk. Saya ngaduknya cukup pakai sendok aja.
7. Masukkan telur orak-arik, irisan sosis atau kornet. Saya pilih yang siap makan, jadi udah pasti mateng nya. Aduk aduk. Sesuaikan kata hati, mau diaduk sampe kapan. Hahah. Ya kalau dirasa udah cukup, ya udah nggak usah diaduk lagi.
8. Masukkan bumbu nasi goreng instan. Ini kalau buat saya wajib hukumnya. Pilih bumbu instan yang sudah matang.  Aduk aduk.
9. Masukkan nasi. Aduk-aduk sampai semuanya tercampur rata.  Tutup rice cooker-nya sekitar 5 – 10 menit. Fungsinya, biar semua bahan tadi tercampur dan termasak dengan matang.
10. Dicicipin dulu, tapi jangan langsung dihabisin, masih panas, kasian mulutnya ntar. Kalau kurang asin, tambahin garam. Kalau kurang manis, tambahin saos atau kecap. Dan setelah itu, nasi goreng siap disantap!

Jeng..jeng..jeng
Rasa jangan ditanya, cukup saya dan Allah yang tahu

Mudah kan? hanya menggunakan heater dan rice cooker. Selain praktis juga tidak berasap banyak. Ada yang bilang, masak di heater atau rice cooker sama masak di kompor itu rasanya beda. Ya jelas beda. Tapi mau gimana lagi? Mau maksa naruh kompor di dalam kamar? Ya monggo.  Saya pribadi sih nggak suka kalau ada kompor di dalam kamar tidur. Selain karena keterbatasan ruangan, juga bukan kodratnya. Namanya juga “kos” nggak bisa disamain seperti “rumah”. Kita sebaiknya memanfaatkan apa yang ada semaksimal mungkin.

Berikut ini hikmah-hikmah yang saya dapatkan dari aktivitas memasak yang saya lakukan:

1. Saat masakan kita telah matang, maka hadirkanlah dalam benak kita betapa Allah telah menganugerahkan kepada kita nikmat untuk bisa menyelesaikan pekerjaan kita.

2. Saat memasak, cobalah untuk mengingat bahwa di luar sana masih banyak dapur-dapur yang tidak mengepul. Alangkah indahnya jika kita biasakan untuk selalu mengingat nasib fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan yang ada di lingkungan tempat tinggal kita. Jika memungkinkan, kita bisa menyisakan sedikit dari jatah makan kita untuk mereka sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka.

Nahh. itulah tips masak-memasak dari saya. Mungkin lain waktu, kalau ada waktu senggang lagi saya mau coba masak-masak yang Part 2 nya, in syaa' Allah. :)

Rabu, 11 Februari 2015

Menjadi Pendengar yang Baik

“Seorang penulis yang baik itu biasanya pendengar yang baik juga” - seorang teman

Oh iya. Saya bukan penulis yang baik, tapi saya ingin terus belajar menjadi pendengar yang baik. Saya juga lebih suka memulai percakapan dengan mendengarkan terlebih dahulu daripada memulai untuk membicarakan sesuatu. Kenapa? Karena mendengarkan itu sebagian dari proses mendapatkan informasi. Semakin kita menjadi pendengar yang baik, maka informasi yang kita dapatkan akan semakin banyak. Semakin banyak informasi, maka referensi tulisan pun akan bertambah. Untungnya di kita dong? hehe. Orang yang terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengarkan, biasanya ilmu yang dia punya cuma sedikit. Contohnya saya, waktu mata kuliah Survei Contoh terlalu banyak bermain sendiri daripada mendengarkan bapaknya ngejelasin, jadi bingung sendiri sekarang ._.

Pernah suatu ketika, dalam sebuah kelompok, saya melihat suatu interaksi dimana semua orang ingin berbicara dan ingin didengarkan. Lalu apa yang terjadi? Obrolannya jadi ngalor ngidul muter-muter tidak jelas. Semuanya bicara! Dan semua ingin didengarkan. Seharusnya, kalau ada transmitter mesti ada receivernya. Apa jadinya kalau banyak orang bicara tapi tidak ada yang mendengarkan? Ya jadinya seperti itu. Tidak ada informasi yang bisa masuk.

Yah, every good conversation starts with good listening. *simple but complicated*

Dan satu lagi, saya sebenarnya (jujur) merasa sangat dan sangat terganggu dengan kasus, “memotong pembicaraan”. Simpel kan? Sesimpel itu tapi bisa bikin kesel. Awalnya saya berpikir, mungkin ini masalah pribadi sendiri saja. Tapi ternyata, memotong pembicaraan orang lain bisa dimasukkan ke dalam etika yang buruk. Untuk berinteraksi dengan banyak orang, kita harus tahu cara memainkan etika yang baik supaya kita lebih dihargai. *efek habis baca jurnal tentang kepribadian dan hubungan sosial buat PKL*

Kadang kita yang malah tidak merasa, karena sudah terbiasa. Maka dari itu jangan pernah membiasakan sesuatu yang awalnya cuma dirasa-rasa. Dengarkan dulu mereka ngomong apa, baru nyahut. Semoga saya nggak termasuk ke dalam kategori orang-orang yang suka memotong pembicaraan. Kalau dengerin orang ngomong sampe ketiduran, sering. *eihh..

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya ia berkata :

وَلَا أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي الْقَوْمَ وَهُمْ فِيْ حَدِيْثٍ مِنْ حَدِيْثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيْثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوْكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُوْنَهُ

“Janganlah aku mendapatkan kamu mendatangi suatu kaum sedang mereka dalam pembicaraannya, lalu kamu memberikan kisahmu pada mereka dan memotong pembicaraan mereka dengannya, maka kamu telah membuat mereka bosan. Tapi, duduk dan diamlah. Apabila mereka memintamu untuk berbicara, maka berbicaralah kepada mereka sedang mereka mendengarkannya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6337)

Yang pasti, Ini merupakan salah satu pembelajaran untuk bisa menjadi pendengar yang baik, bro. Mari belajar bareng menjadi pendengar yang baik!

Selasa, 09 Desember 2014

Tips Hemat Nge-Kost di Jakarta (Bukan Pelit)

Apa bedanya hemat sama pelit?

Hemat itu mengatur pengeluaran sebijaksana mungkin, demi kepentingan bersama dan jangka panjang. Kalau uang kita sisa, bisa buat yang lain. Seperti membantu teman, atau membantu orang tau, atau membantu saudara. Masih ada pemikiran untuk menolong sesama.

Kalau pelit? Pelit itu, mengatur pengeluarkan seminimalis mungkin dan memaksimalkan bergantung pada traktiran orang lain. Ehm.. parasit. Pelit itu mikirin diri sendiri aja. Misal, punya uang, tapi bilang nggak punya uang. Semacam itu lah.


Dan tips ini, saya buat akibat efek kenaikan harga kost, harga makan, dan harga-harga yang lain akibat efek kenaikan BBM. Jadi saya putuskan untuk berbagi tips hidup hemat yang sudah saya latih dari SD. Kalau mau biaya hidup tinggi, saya rasa nggak perlu tips ya. Tinggal buang-buang uang aja di jalan, ntar juga habis uangnya. Hehe. Yang perlu tips itu biasanya untuk teman-teman yang mau berhemat. Saya bagi tips yang biasa saya pakai ya (bisa cocok bisa juga enggak). Ingat, ini untuk hemat. Hemat bukan berarti pelit! Di bold ya, HEMAT DAN BUKAN PELIT.

  1. Biasakan hidup sederhana. Masalahnya, standard hidup sederhana tiap orang beda-beda ya. Ada yang sebelumnya biasa naik mobil, coba-coba disini naik motor aja. Selain menghindari macet, juga lebih hemat bensin. Ada juga yang biasanya naik motor, disini milih jalan kaki aja. Selain nggak perlu keluar uang buat beli bensin, juga lebih sehat. Alhamdulillah dari SD hingga sekarang saya naik sepeda manual, tapi sekarang lebih sering jalan kaki sih, soalnya sepedanya lagi rusak dan lagi males untuk memperbaiki
  2. Cari kost-an yang sederhana aja sih. Budget untuk kost-an kantong mahasiswa sih biasanya berkisar antara 300-600 ribu (tiap orang beda-beda sih, biasanya tergantung fasilitasnya). Kalau saya sih yang penting bisa buat tidur. Toh aktivitas kita nggak melulu di kost-an toh? Ngontrak juga oke-oke aja, tapi lebih baik tanggung rame-rame biar jatuhnya lebih murah.
  3. Sedekah. Setelah dapet TID (karena saya kuliah di perguruan tinggi kedinasan, alhamdulillah masih dapat tunjangan) atau kiriman orang tua, langsung sisihkan sedikit untuk disedekahin bro! Tanya kenapa?

    Allah berfirman:
    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”
  4. Investasi di awal. Buat saya, yang suka membuat planning hidup masa depan, berpikir 2-3 langkah ke depan, menyisihkan investasi di awal itu wajib banget. Karena berapapun uang yang dipegang, biasanya nggak bersisa. Tapi untuk teman-teman yang bisa menyisakan uang di akhir, silakan tempatkan poin ini di urutan terakhir. Dan kenapa investasi? Karena investasi membuat uang kita bisa bertambah banyak. Ya nggak tiba-tiba bertambah banyak sih. Tetap ada aktivitas di dalamnya yang bisa membuat uang kita aktif. Ada banyak cara untuk investasi. Cari yang halal bro bro dan jangan niatkan investasi untuk menganakpinakkan uang, tapi benar-benar untuk modal/simpanan kebutuhan masa depan. Sementara ini saya baru investasi emas (lumayan harga emas trendnya naik terus, meskipun fluktuatif banget), dan kata mama sih bisa buat modal nikah atau naik haji, in syaa' Allah, hehe.
  5. Belanja seperlunya. Contoh, mie instan itu perlu, tapi nggak sampe beli sekardus juga kali bro. Jangan berlebihan. Mentang-mentang mau hemat, tiap hari makan mie instan terus. Hemat nya sih iya, tapi badan penyakitan mau?
  6. Butuh atau Ingin? Kalau butuh, langsung beli. Kalau ingin, tunda dulu. Biasanya “ingin” itu cuma sesaat. Dengan menunda keinginan kita, sekaligus membuat kita berpikir panjang. Kalau sudah ditunda, ternyata masih ingin juga, ya baru dibeli. Daripada kena siksa batin. Kalau pas balik ternyata kehabisan, ya berarti bukan rejeki kita. Haha. Take it easy bro. Kalau ada promo, boleh juga tuh. Hehe (promo hunter)
  7. Makan sehat. Ingat! makanan sehat nggak selalu mahal! Makan di warteg deket kost yang tempatnya bersih dengan menu sayur dan tempe juga bisa dibilang sehat. Buat makan siang di kampus, bisa beli di Kopma (masih aja promosi :p) atau di kantin. Kalau masih berasa mahal, bisa beli di warteg di dekat kost untuk makan siang di kampus atau masak sendiri. Yang pasti, Sisakan uang di rekening untuk makan selama sebulan. Kasih target berapa rupiah untuk makan. Kenapa? Karena biasanya, paling banyak menghabiskan uang di makanan. Ingat! Makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan.
  8. Nabung. Nabung disini buat hal-hal yang nggak terduga. Misal kalau kita sakit, atau keluarga butuh uang. Bisa juga sebagai investasi masa depan.
  9. Jadi Jomblo yang banyak teman. Jomblo sih jomblo, tapi jadilah jomblo yang bermartabat dan berwibawa, jangan mau jadi forever alone juga jangan jadi pengemis cinta. Perbanyaklah teman! kalau banyak temen itu enak bro. Susah senang selalu bersama. Banyak info yang didapat kalau kita banyak teman. Mulai dari info kerjaan, info acara-acara seru, sampai info makanan murah meriah. Dan, kalau  ada apa-apa dibantuin. Tuh, bermanfaat kan. Kalau punya pacar itu susah loh. Pacaran itu pake ongkos bro, uang tekor, maksiat jalan terus. Ingat! Jangan sekali-kali mendekati zina! Saya bersyukur sih masih jomblo (lebih bersyukur kalo udah nikah), lebih hemat juga. Nggak pacaran, nggak keluar uang buat hal-hal yang nggak penting dan berujung maksiat. Mending ditabung buat nikah, daripada buat pacaran. *eh
  10. Jalin hubungan baik dengan tetangga. You know lah, apalagi kalau dapat undangan nikahan atau waktu kurban. Hoho
Nah, sedikit-sedikit itulah tips dari saya. Kalau ada salah dan nggak cocok, maaf ya. Mau berbagi tips yang lain? Boleh banget! :D

_______________________
Jakarta, 9 Desember 2014