Tampilkan postingan dengan label Rantau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rantau. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2024

Surat Cinta untuk Bumi Anoa

"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama, kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu gagasan, beradu ego, beradu mulut. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."


Wakatobi (2017–2020)

Kadang, sebagai manusia, kita ingin waktu dapat melambat. Sedikit saja. Ya, setidaknya, itu terjadi pada kami. Jumat, 17 Februari 2017, Allah mengabulkan doa kami. Saya dan istri pertama kali mendarat di sebuah pulau kecil di ujung Tenggara Sulawesi Tenggara, Wangi-Wangi namanya, salah satu gugusan pulau besar dari Kepulauan Wakatobi (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko). 

Pertama kali mendaratkan kaki di Wakatobi, 17 Februari 2017

BPS Kabupaten Wakatobi, 17 Februari 2017

Pengawasan lapangan pertama di Wakatobi (Sakernas), Pulau Kapota, 18 Februari 2017

Dan di sinilah kami, 3 tahun berpetualang, mempelajari banyak hal, bertemu beragam manusia, berbagi kisah dan pengalaman, mendewasakan diri sekaligus mengistirahatkan jiwa kami yang cukup lelah dengan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya; Wakatobi, pulau yang sederhana, namun masih ramai meski matahari telah terbenam. 

Nonton pertandingan sepak bola di Pelabuhan Pangulubelo, 19 Februari 2017

Bocil Bajo main di laut, April 2017

Pertama kali jalan-jalan menyebrang Pulau Kaledupa, April 2017

Pertama kali menikmati Kasoami, Sayur Bunga Pepaya, dan Ikan Asap khas Wakatobi

Udara bersih, dingin di pagi hari, terik di siang hari dengan 'dua' matahari yang menyinari, sepoi-sepoi angin laut menyambut kami dengan ramah, seakan memeluk erat rasa penat yang kami bawa dari ibu kota; cantiknya tebing-tebing karang, indahnya kehidupan bawah laut, pesona budaya dan kuliner mampu memanjakan indera-indera kami; kecantikan, kesederhanaan, dan tradisionalitas masyarakatnya mampu mengurai benang kusut di otak kami. 

Kontrakan pertama kami, Mandati III, Wakatobi, 2017

Bapak Ibuk Oryz, pertama kali mendarat di Wakatobi, 2018

Snorkeling bareng bapak (mertua), 2018

Papa mama jalan-jalan ke Wakatobi, 2019

Tinggal di sebuah kontrakan kecil di lingkungan perkantoran yang sepi tak membuat kami, bahkan kedua orang tua kami yakin bahwa Wakatobi adalah tempat yang tepat untuk kami tinggali. Kami dikelilingi tetangga-tetangga yang baik, pemilik kontrakan yang kami anggap orang tua kami sendiri, rekan kerja yang bersahabat dan terasa kehangatannya. Lingkungan sekitar pun bikin kami makin betah, sahabat-sahabat kami di Pemerintah Daerah, teman-teman kajian Wakatobi Mengaji, ibu-ibu Arisan komplek BTN, responden-responden ramah murah senyum dan tak enggan berbagi cerita kepada kami yang pendatang, sahabat-sahabat suku Bajo penghafal al-Qur'an, rekan-rekan mitra BPS yang tangguh, teman-teman pegiat wisata dan kuliner Wakatobi, teman-teman driver rental, teman-teman BEKRAF dan dokter magang, konsumen Dapur Norma, dan semua sahabat serta keluarga kami di sana yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Mereka semua memberi warna yang berbeda yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Warna yang sungguh indah tentunya.

Bersama para pekerja anak di Danau Tailaronto'oge pulau Kapota, Mei 2019 (Lihat artikel)

Belanja ikan segar di Pasar Sore Marina tiap sore

Lure Krispi Dapur Norma masuk pameran kuliner Wakatobi Wave 2019

Karena lagi perjadin, minta tolong teman kantor jaga stand Dapur Norma yang dikunjungi Bupati, terima kasih Yusuf, dkk.

Wakatobi, membelai jiwa kami yang kelelahan, mengajari kami untuk kembali bersyukur, sekalipun terhadap hal paling sederhana. Rasanya, waktu berhenti sejenak saat itu. Sungguh, Wakatobi adalah senyaman-nyamannya zona nyaman.

Sarapan sehabis upacara bersama Bupati, wkwk

Bakar ikan dengan pagar kantor, wkwk

Hari terakhir bersama tim hebat BPS Wakatobi, hiks

Terima kasih Wakatobi, telah menerima kami dan menyajikan kenangan indah tak terlupakan. Semoga kami bisa berjumpa kembali, jika Allah menghendaki.

Kendari (2020-2024)

Saya sampai di kota ini dengan bau tanah sehabis hujan. Rumah batu, pasir kuning, debu jalanan, aspal yang panas, kendaraan bermotor kecepatan tinggi yang menyalip dari lajur kiri (haduuh, harusnya menyalip dari kanan bos), tipikal perkotaan pada umumnya dengan pengemudi yang cukup ugal-ugalan, batinku. Perasaan kami masih campur aduk setibanya di sini, antara rindu dengan Wakatobi, kesedihan meninggalkan keluarga di Wakatobi, bahagia telah naik satu level di kehidupan karir kami, capek berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai rasa takut/khawatir atas apa yang akan kami hadapi selanjutnya di tempat yang baru ini.

Pindahan dari Wakatobi, 2020

Benar saja, tak sampai dua bulan kami tinggal di ibu kota yang tak ramai dan tak ramah ini (kesan pertama kami), badai pandemi menyerang ibu pertiwi. Wabah antah berantah yang cukup mematikan tiba-tiba menjangkiti negeri kami. Tinggal di rumah saja jadi kebiasaan baru. Hampir dua tahun kami tak banyak bersosialisasi dengan orang sekitar selain dengan rekan kantor kami (meski kebiasaan ini sebenarnya berlanjut selama 4 tahun kami di sini, karena tinggal di lingkungan kos yang pergantian penghuninya cukup cepat). Namun, di sinilah titik balik berubahnya kesan pertama kami. 

WFH tiap hari, 2020-2021

Pertengahan 2021 merupakan tahun yang berat bagi kami. Di tengah pekerjaan yang membabi buta, Delta ternyata bertamu ke tempat kami, bahkan keluarga kami. Sungguh rasanya ibarat gladi sakaratul maut. Di tengah kesulitan yang kami hadapi, tak disangka-sangka, rekan kerja kami, gotong royong membantu kami. Di saat kami tak memiliki satupun sanak saudara ataupun dekat dengan orang tua di sini, mereka dengan sukarela menawarkan posisi sebagai saudara dan orang tua kepada kami. Menjadi garda terdepan yang menolong kami. Dari mencarikan obat yang mulai langka keberadaannya, mengirimi kami minuman herbal nan ampuh meredakan batuk kering kami, membelikan air galon yang mulai mengering, memberikan segala macam amunisi makanan dan minuman serta alat kesehatan yang alhamdulillah mempercepat proses pemulihan kami. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang berlipat.

Lembur DDA pertama kali, 2021

Kerja bersama tim super BPS Sultra

Di sinilah pula kami menemukan bapak/ibu yang menjadi panutan, teman-teman yang kompak, kakak-kakak yang mengayomi, adik-adik tangguh yang kami percaya, serta orang-orang yang membuka wawasan dan cara berpikir kami yang masih sangat sempit kala itu. Meski semua berawal dari dunia kerja, namun seiring berjalannya waktu, mereka bermetamorfosa menjadi keluarga baru kami. Di kota yang awalnya kami anggap kota yang tak ramah. Namun ternyata, kota ini menyadarkan kami bagaimana cara berbahagia di lingkungan yang lebih beragam dengan segala macam kompleksitasnya. Mensyukuri setiap momen di tengah cepatnya waktu yang berlalu. Tak selamanya kami tinggal di lingkungan sederhana seperti di perdesaan, pun tak selamanya kami tinggal di lingkungan yang kompleks seperti perkotaan.






Work Life Balance

Kota Kendari mendidik kami, menjadi manusia yang lebih tangguh, mandiri, bisa diandalkan, mampu memberi manfaat kepada sekitar, dan terus belajar menjadi lebih baik. Di sinilah kami menyadari bahwa belajar bukan hanya dominasi mata, telinga, otak dan indera-indera fisik lainnya. Belajar juga merupakan pekerjaan hati. Belajar tak terbatas pada pelatihan, pendidikan formal, maupun kursus-kursus dan webinar. Memaknai kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran, merenungi kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Di Kendari inilah, kami lebih banyak belajar, belajar tentang makna kehidupan yang sesungguhnya dan bagaimana agar bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Wonua Momahe, 2023

Labengki-Sombori, 2023

Terima kasih Kendari, telah menerima kami, mengayomi kami, dan menyajikan wejangan yang menempa tekad kami. Semoga kami bisa bersua kembali, jika Allah menghendaki.

April 2024, Meninggalkan Bumi Anoa

Terharu banyak yang mengantar :')

Benarlah segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya. Saatnya kami berpisah kembali dengan orang-orang yang kami cintai. Wakatobi, lalu Kendari, ke tempat yang akan membawa kami ke persinggahan selanjutnya, di kehidupan kami yang lain lagi. Namun yang pasti, saat kami bersama kehidupan kami yang lain, tetap kami nyatakan mereka keluarga kami. Keluarga yang memang begitu adanya.

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya.

Sejalan dengan waktu yang bergulir, kita pasti akan bertemu peubah dan parameter baru, dengan atau tanpa disengaja. Hingga kehidupan yang terasa linear menjelma menjadi sistem persamaan non-linear yang mesti didapatkan solusinya.

Nikmatilah. Karena pada masa itu kau akan semakin terlatih, menemukan keseimbangan.

Maknailah, dengan sederhana dan bersahaja. Karena di titik manapun engkau berada, di sana akan selalu tertanam doa dan cita-cita, in syaa' Allah.

"Semuanya akan terasa indah, apabila kita jalani dengan ikhlas. Sebab, pekerjaan paling sulit bagi manusia adalah mensyukuri segala nikmat Allah Ta'ala. Bukan soal nilai rupiah, lebih dari itu bagi saya. Ini soal hakikat. Melalui perjalanan ini, saya banyak mendapatkan pelajaran.

Karena setiap langkah adalah karya, karena setiap nafas adalah makna. dan di setiap pikiran selalu ada rencana. Karena dunia ciptaan-Nya ini sungguh indah, seindah-indahnya gradasi warna dalam batas cakrawala" - Ryan W. Januardi

Terima Kasih Wakatobi, Terima Kasih Kendari, Terima Kasih Bumi Anoa

Salam hangat dari kami, semoga Allah selalu melindungi kita semua di manapun berada

Bangil, 28 Ramadhan 1445 H

Recap video (oleh Damara Utama):


*ah, saya seperti baru saja terbangun dari mimpi yang begitu panjang,

Pantai Teluk Ceri Toronipa, 2023

Jumat, 03 April 2015

Tips Memasak di Kamar Kos Ala Koh Ryan [Part 1]

Jaman saya SD, saya sudah suka belajar masak, karena dulu sering bantu-bantu di dapur (maklum di rumah nggak ada anak perempuan yang bantuin Mama di dapur, jadi karena kebiasaan disuruh bantuin, jadi paham dikit lah barang-barang di dapur). Saya masih ingat masakan pertama yang saya buat ketika kelas 3 SD... Air. Masih gampang memang, tapi namanya tahap belajar kan nggak mungkin saya bisa langsung masak mi rebus ala tukang nasi goreng pinggir jalan yang rasanya jauh lebih enak daripada bikin mi rebus instan sendiri. Di kelas 6 SD saya sudah bisa masak nasi, mi instan, telur orak-arik, ceplok, dadar, tempe dan tahu goreng. Menginjak SMP saya mulai bereksperimen dengan sayur mayur, ikan, dan ayam. Pas SMA saya mulai belajar cara memasak ala tukang nasi goreng, yang rasanya selalu lebih enak daripada kalo kita bikin sendiri, dan sampai saya sudah kuliah sekarang ini, cara memasak itu masih belum bisa saya kuasai, dan masih menjadi misteri ._.

Oke, saya tekankan dulu ya, lelaki suka masak itu bukan hal yang aneh menurut saya. Nggak cuma perempuan yang boleh suka masak sebenarnya. "..Lelaki juga harus bisa masak. Kenapa? kalo udah berkeluarga (aamiin) dan istri lagi sakit atau hamil dan butuh istirahat, masa' iya kita sebagai suami (aamiin) maksa-maksa dia buat masakin kita, cuma buat memanjakan lidah dan perut kita? Sedangkan mereka juga butuh dimanjakan... (ceilah)... terus, kadang suami juga lebih jago masak daripada istri. Kita juga bisa menggunakan momen memasak bersama kayak gitu sebagai kesempatan untuk bercengkrama dengan istri sehingga terciptalah suasana yang akan menambah rasa cinta di hati masing-masing... (klepek-klepek)" - ini kata bapak-bapak yang jualan bubur mesir (yg bikin bapaknya loh) temen ngobrol saya pas kajian di Slipi dulu, hehe. 

Terinspirasi juga dari teman kajian saya dari IPB, Usamah, dia laki, sering bantu Ummi nya masak, pernah suatu ketika, pas istirahat kajian dia ngajak saya makan siang bareng-bareng teman-teman yang lain, majlas istilahnya, dia tawarkan bekal makan siangnya, nasi dengan lauk rendang. Rendangnya masakannya sendiri, bikinnya di dapur kosannya lagi. Rasanya top! Nggak cuma masak rendang, dia pernah memberi saran ke bapak-bapak jual serabi biar serabinya lebih lembut ada teknik-tekniknya, dia tahu, bahkan lebih ahli dari bapak-bapak jual serabi. Keren lah.

Oke, kenapa tiba-tiba saya nulis ginian. Ya, saya cuma bosen di kosan, apalagi semester 6 ini makin banyak liburnya. Jadi, tadi pagi saya coba aja eksperimen ini di kamar kos, terus saya coba bikin tulisannya juga, hoho. Dengan harapan bisa nambah referensi temen-temen yang baca ini :v *like a pro*

Iya. tips ini khusus untuk di kamar kos. Sekali lagi, kamar kos. Kamar. Bayangkan kamar tidur Anda, dibuat untuk masak memasak. Tips ini akan sangat cocok untuk temen-temen yang bernasib seperti saya. Hanya ada kamar kos. Tidak ada dapur pribadi atau dapur umum (ada dapur sih, cuma kurang sreg aja mau pakai dapurnya, kurang higienis sepertinya).

Sebelumnya, saya akan ceritakan sedikit kondisi di kamar kos saya. Kamar kos yang saya tempati, miliknya Pak Haji Anang, satu rumah isi 32 kamar. Satu kamar ukuran sekitar 3 x 3 meter. Ada satu kamar mandi kecil di dalam.  Sewa kos nya 700ribu per bulan, tapi saya  bayar per 3 bulanan jadi 650 ribu per bulannya. Deket masjid, alhamdulillah. Suasana di dalam kamar, ada satu rak 3 laci, satu rak buku 4 susun (rencana mau nambah lagi, udah nggak cukup buat naruh buku-buku yang tercecer), satu rak susun 3 yang isinya perabotan makan (nah ini nih markasnya senjata buat masak hari ini), satu lemari besar pakaian, dua box kecil, dan satu spring bed. Bisa bayangin dong ya, suasananya seperti apa di dalam. *No pic ya, lagi berantakan, tiap hari berantakan sih*

Jadi, bagaimana biar bisa tetep masak di kamar yang terbatas, Tanpa membuat kamar berbau asap dan berasa seperti dapur? Yang pasti, barang yang wajib ada di kamar adalah:
  • Rice Cooker. Saya pakai rice cooker ukuran kecil. Selama 3 tahun tidak digunakan akhirnya terpakai juga kamu, nak :v
  • Heater. Heater punya saya ukuran kecil juga. Dan selama 3 tahun ini, heater ini sudah banyak makan asam garam bersama saya dalam memasak mi instan :v
  • Air minum. Biasakan memasak apapun menggunakan air minum ini ya. Selain lebih higienis juga lebih sehat. Takutnya kalau saat proses masak tidak terlalu lama, air nya sudah pasti matang gitu.
  • Untuk yang lain-lain, sesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan. Mungkin mau bawa dispenser, kulkas, kompor listrik, atau lain-lain. Tapi, di kamar saya yang pasti hanya ada tiga barang itu dan barang tambahan sbb: piring, sendok-garpu, gelas, pisau & gunting.

Buat yang baru pertama kali ngekos, memang persiapan perangnya agak dilengkapi ya. Nggak perlu banyak yang penting sesuai kebutuhan. Yang pasti sebelum masak, pastikan Buka jendela kamar lebar-lebar. Buka pintu kamar lebar-lebar. Biar udara di dalam kamar bisa bertukar ke luar.


Dan aturan penting setelah memasak adalah, jangan lupa untuk cuci-cuci. Saya cuci perabot memasak di dalam kamar mandi. Bau masakan dong kamar mandinya? Enggak lah. Setelah cuci-cuci, semua perabot di lap sampai bersih dan dimasukkan ke rak yang sudah disediakan. Setelah itu, bersihkan kamar mandinya. Digosok-gosok pakai karbol biar nggak bau dan kembali bersih.

Biar kamar nggak berasa seperti dapur, simpan semua peralatan memasak dalam rak. Saya pribadi sebenernya nggak terlalu suka dengan kamar yang berasa dapur. Semuanya numplek blek jadi satu. Tapi namanya juga iseng-iseng ya kapan lagi kayak gini, haha

Nah, makanan apa saja yang bisa dimasak di kamar kos an yang tidak berdapur & tanpa asap dengan peralatan di atas?

1. Mi Instan

Lumrah lah ya. Mi instan bisa dimasak dengan heater. Caranya sama seperti masak menggunakan kompor, cuma kompor dan pancinya diganti pakai heater.

TIPS 1 (kalo lagi rajin cuci-cuci)

1. Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Tuang air minum ke dalam wadah heater
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Tunggu sampai air dalam heater berbuih
5. Masukkan mi dan masak sampai matang. Lebih lama dibandingkan dengan menggunakan kompor. Kira-kira 5 – 10 menit an lah.
Buat variasi, bisa dimasukin telor, bakso, atau sayur. Sajikan bersama bumbu kemasan yang sudah tersedia di dalam bungkus mi instan.

TIPS 2 (kalo lagi males cuci-cuci)

1. Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Tuang air minum ke dalam wadah heater
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Tunggu sampai air dalam heater berbuih
5. Masukkan air yang sudah matang tadi ke dalam bungkus mi instan. Sajikan bersama bumbu kemasan yang sudah tersedia di dalam bungkus mi instan. Tunggu sampai mi instan terasa lunak dan bumbu sudah tercampur rata.

2. Telur Orak-arik

Goreng telur bisa pakai heater loh. Caranya sama seperti masak menggunakan kompor, cuma kompor dan wajannya diganti pakai heater.

1. Ingat! Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Siapkan telur, mau telur ayam, telur bebek, atau telur puyuh terserah. Yang saya gunakan telur ayam, gampang carinya.
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Masukkan mentega. Mentega ini, sebagai pengganti minyak goreng. Biarkan sampai meleleh ya.
5. Masukkan telur ke dalam heater dengan lelehan mentega tadi. Ingat! pecahkan dulu telurnya, jangan langsung dimasukkan beserta kulitnya!
6. Ini tahap yang paling mudah, terserah style kalian gimana. Acak-acak aja telurnya. Saya acak-acaknya pakai sendok, nggak mampu kalo pakai tangan kosong, saya bukan Limbad. Acak-acaknya sampai matang ya dan jangan lupa dikasih garam secukupnya, karena nggak pakai kompor, matangnya agak lama, sekitar 10-20 menitan.
7. Setelah matang, telur orak-ariknya siap disantap atau digunakan untuk masakan di bawah ini:

3. Nasi Goreng

Wuahaha. Bisa banget masak nasi goreng di dalam rice cooker. Ya bisa lah,namanya aja rice cooker, yang artinya Pemasak Nasi. Berarti nasi goreng pun juga bisa. Caranya sbb:

0. Cuci dulu rice cooker-nya. Kenapa? soalnya rice cooker yang saya gunakan ternyata belum dicuci setelah dipakai buat masak-masak pas jalan-jalan Kopma bulan Desember 2014 lalu. Baunya itu loh -.-
1. Nah, ingat lagi! Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Masak beras sampai jadi nasi di dalam rice cooker.
3. Taruh nasi di piring, dan cuci dulu wadah yang digunakan masak nasi tadi biar bersih. Kalau saya sih, nggak pake dicuci. Langsung dipakai lagi. (*males, kan baru aja nyuci*)
4. Siapkan rice cooker. Dan kondisikan dalam keadaan “cooking” bukan “warm
5. Masukkan mentega. Mentega ini, sebagai pengganti minyak goreng. Biarkan sampai meleleh ya.
6. Masukkan irisan bawang putih. Karena bawang putih aman dimakan dalam kondisi matang atau mentah, jadi kalau proses masak di dalam rice cooker ini dirasa kurang matang, masih aman buat dimakan. Inget, tingkat panas rice cooker sama kompor beda ya. Don’t expect too much! Aduk-aduk. Saya ngaduknya cukup pakai sendok aja.
7. Masukkan telur orak-arik, irisan sosis atau kornet. Saya pilih yang siap makan, jadi udah pasti mateng nya. Aduk aduk. Sesuaikan kata hati, mau diaduk sampe kapan. Hahah. Ya kalau dirasa udah cukup, ya udah nggak usah diaduk lagi.
8. Masukkan bumbu nasi goreng instan. Ini kalau buat saya wajib hukumnya. Pilih bumbu instan yang sudah matang.  Aduk aduk.
9. Masukkan nasi. Aduk-aduk sampai semuanya tercampur rata.  Tutup rice cooker-nya sekitar 5 – 10 menit. Fungsinya, biar semua bahan tadi tercampur dan termasak dengan matang.
10. Dicicipin dulu, tapi jangan langsung dihabisin, masih panas, kasian mulutnya ntar. Kalau kurang asin, tambahin garam. Kalau kurang manis, tambahin saos atau kecap. Dan setelah itu, nasi goreng siap disantap!

Jeng..jeng..jeng
Rasa jangan ditanya, cukup saya dan Allah yang tahu

Mudah kan? hanya menggunakan heater dan rice cooker. Selain praktis juga tidak berasap banyak. Ada yang bilang, masak di heater atau rice cooker sama masak di kompor itu rasanya beda. Ya jelas beda. Tapi mau gimana lagi? Mau maksa naruh kompor di dalam kamar? Ya monggo.  Saya pribadi sih nggak suka kalau ada kompor di dalam kamar tidur. Selain karena keterbatasan ruangan, juga bukan kodratnya. Namanya juga “kos” nggak bisa disamain seperti “rumah”. Kita sebaiknya memanfaatkan apa yang ada semaksimal mungkin.

Berikut ini hikmah-hikmah yang saya dapatkan dari aktivitas memasak yang saya lakukan:

1. Saat masakan kita telah matang, maka hadirkanlah dalam benak kita betapa Allah telah menganugerahkan kepada kita nikmat untuk bisa menyelesaikan pekerjaan kita.

2. Saat memasak, cobalah untuk mengingat bahwa di luar sana masih banyak dapur-dapur yang tidak mengepul. Alangkah indahnya jika kita biasakan untuk selalu mengingat nasib fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan yang ada di lingkungan tempat tinggal kita. Jika memungkinkan, kita bisa menyisakan sedikit dari jatah makan kita untuk mereka sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka.

Nahh. itulah tips masak-memasak dari saya. Mungkin lain waktu, kalau ada waktu senggang lagi saya mau coba masak-masak yang Part 2 nya, in syaa' Allah. :)

Senin, 23 Maret 2015

Menerima Diri Sendiri

Sebagian dari mereka bilang, salah satu hal yang sulit dilakukan adalah mau menerima diri sendiri. Segala yang kita miliki, kelebihan hingga kekurangan. Memang bukan sesuatu yang mudah, terutama ketika kita selalu merasa kurang dan kurang.

Rumput tetangga, selalu terlihat lebih hijau. Katanya. Seandainya saya bisa seperti dia. Seandainya saya ini. Seandainya saya itu. Seandainya dan seandainya lainnya.

Sekarang, saya mengerti maksud mereka, tentang mau menerima diri sendiri. Segala keadaan yang kita rasakan sekarang, adalah hasil dari usaha kita. Allah tidak pernah menyulitkan makhluknya. Saya percaya itu. Dan, apapun yang ada sekarang,itu adalah yang terbaik dari usaha yang telah kita lakukan. Jika ingin keadaan yang lebih baik, maka berusahalah lebih baik lagi. Fair kan?

Jika orang lain bisa melebihi kita, itu hanya pandangan dari satu sisi kita saja. Sebenarnya, masih banyak sisi lain dari mereka yang tidak pernah kita lihat. Kalau saya jadi mereka, tentu saja saya tidak akan menunjukkan betapa susahnya bisa berada di titik sekarang ini. Makanya, kata orang Jawa, orang itu cuma bisa sawang sinawang. Yang kelihatan aja yang enak, tapi dibalik itu ada banyak rintangan yang harus dilewati. Jadi kesimpulannya? Semua orang pasti melewati suatu proses “nggak enak” untuk mencapai hidupnya yang sekarang. Jadi? Nggak perlu iri, dengki, hasad!

(Pantai Utara Karangampel, Indramayu)
Seterjal apapun jalannya, tetap hadapi!

Dan, lihat betapa Allah sudah memberikan kesempurnaan yang seimbang dalam diri kita. Melihat ke bawah sesekali, juga tidak ada salahnya. Malah, lebih seringlah melihat ke bawah ketika kita merasa kurang. Karena, masih banyak di luar sana yang hidupnya lebih kekurangan dari kita. Proses pembelajaran itulah yang terus ditempa agar kita mau menerima diri sendiri. 

Kadang, waktu mendewasakan kita terlalu cepat tentang pelajaran bersyukur. Kata Ustadz Arifin Badri -hafidzahullah-, "Jadilah orang yang selalu cerdas dalam menyikapi setiap keadaan. Di saat mendapat kenikmatan, lihatlah orang yang ada dibawah Anda, agar nikmat tersebut semakin terasa nikmat. Di saat ditimpa kesusahan, lihatlah orang yang lebih susah dibanding Anda, agar kesusahan itu berubah dan terasa nikmat. Inilah kunci hidup bahagia. Sederhana, bukan?"

Tambahan dari saya, terimalah keadaannya. Nikmati, sabar, syukur, dan semangat dalam menjalani hidup!

Sabtu, 14 Februari 2015

Skenario Anak Jalanan

Beberapa minggu yang lalu, di perjalanan dari sebuah kompleks pertokoan di pinggiran Ibu Kota menuju kos, saya melihat pemandangan yang kelu. Sebenarnya, bukan kali pertama atau kedua saya melihat ini, mungkin karena jarum jam sudah menunjuk pukul 23.00, skenario seperti itu jadi terlihat tidak biasa

Apa yaa..

Saya melihat dua remaja perempuan, masing-masing membawa anak kecil. Anak kecil yang satu digendong dengan pose yang asal-asalan, dan anak kecil yang satu lagi dituntun sambil ditarik-tarik. Saya yakin, dua anak kecil itu, umurnya belum lebih dari 2 tahun. Dan, perlakuan seperti itu pasti sangat tidak mengenakkan.

Saat itu, taksi yang saya naiki sedang berhenti karena traffic light dalam kondisi merah. Dan, dua remaja itu bergantian menghampiri taksi ini berharap mendapat belas kasih. Ya, sudah jadi rahasia umum, skenario menarik simpati orang lain dengan membawa anak kecil itu dijadikan ajang untuk mendapatkan uang. Bahasa kasarnya, ngemis.

Hngg..

“Biarkan aja mas, udah biasa kok anak-anak itu. Itu, orang tuanya ada di pojok sana tuh. Ngeliatin mereka dari jauh. Enak kan, orang tua nya duduk-duduk di pinggir, anak-anaknya disuruh ngemis. Orang tua nggak bener tuh.”, kata supir taksi dengan sedikit logat Bataknya.

Saya lihat ke arah yang ditunjuk oleh Bapak supir taksi itu, dan memang disana banyak gerombolan orang-orang dewasa. Tapi, saya sendiri juga tidak tahu apakah mereka itu orang tua sungguhan atau tidak.

Sementara itu, anak kecil itu, yang berjalannya saja masih belum benar. Kadang sempoyongan kesana, kesini, dan mau jatuh. Tiap kali anak kecil itu, berjalan miring ke kiri, oleh remaja itu langsung ditarik dan dijendul kepalanya. Sekali dua kali, anak kecil itu tertawa nggak bersalah. Tapi, lama-lama, dia nangis. Ya, benar saja nangis. Diperlakukan kasar kayak gitu. Pasti kepalanya sakit kan.

Sedangkan, anak kecil yang digendong oleh remaja satunya, tiap kali gerak sedikit langsung dicubit. Mungkin si remaja itu sudah lelah, menggendong anak kecil itu berat, sendirian lagi.

Dan, ini sudah jam berapa?

Jam 11 malam, di saat balita harusnya sudah tidur lelap di rumah. Tapi balita-balita itu masih berkeliaran di jalanan, dengan baju yang lusuh dan tanpa alas kaki! Di luar itu, hujan baru saja reda, dan dengan kaos tipis lusuh itu tidak meyakinkan sekali bisa memberi mereka rasa hangat.

Dalam skenario ini ada tiga subjek: anak kecil, remaja, dan orang tua. Jika ingin menyalahkan, setiap orang tentu tidak ingin disalahkan. Jadinya pasti saling menyalahkan satu dengan yang lain dan pada akhirnya semua akan merasa benar. Lah, jadi salah kaprah. Jadi salah siapa?

Ini bukan persoalan benar atau salah, karena putaran roda itu semakin tersistem. Dari himpitan ekonomi, nasib buruk, putus asa, sampai budaya malas. Dan ujung tombaknya adalah pola pikir yang merusak semuanya. Mungkin, ada yang merasa “toh hidup di dunia ini cuma numpang lewat saja, cepatlah berlalu dan berganti dengan kehidupan yang baru.”

Biar saja, perasaan bersalah itu muncul di masing-masing orang. Saya pun jadi ikut merasa bersalah, karena saya belum bisa melakukan apapun untuk menghentikan kesalahan yang tersistem itu.

Hanya saja, terpikir bagaimana rasanya jadi balita itu?

“Seandainya ada kesempatan untuk hidup sekali lagi, bolehkan kami memilih?” :'

Selasa, 30 Desember 2014

Surat Cinta untuk Kopmers


"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu otot. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."

Awalnya saya hanya mahasiswa apatis yang tak peduli pada sekitar, awalnya saya hanya mahasiswa yang lebih suka menghabiskan waktu di kost daripada di kampus, awalnya saya hanya mahasiswa statistik yang menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan belajar tanpa mengerti bagaimana berorganisasi.

Sampai pada suatu masa ketika saya dipertemukan dengan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kopma STIS (sekarang Unit Dana Usaha) pada 20 Januari 2013, bersama 9 orang terpilih lainnya. Awalnya kita semua asing, tapi akhirnya bisa bersahabat juga di Kopma. Saya banyak belajar di sini, dari mulai adaptasi, belajar berorganisasi, belajar berwirausaha, belajar berkoordinasi, belajar jadi pemimpin, belajar peduli, belajar peka, belajar memahami orang lain, belajar mengatasi masalah, belajar bekerja sama, belajar bermuamalah, belajar kehidupan, belajar banyak hal. Kami saling berbagi, 'ilmu, cerita, canda, tawa, tangis, getir, dan sebagainya.

Dua tahun ini adalah dua tahun yang sangat berkesan, sangat membanggakan, sangat membahagiakan, dan sangat mengharukan, memiliki adik-adik, teman-teman, dan kakak-kakak yang begitu hangat, begitu peduli, begitu perhatian, begitu luar biasa, melihat kalian begitu kompak, begitu erat ikatan kekeluargaan yang terjalin. Setahun, dua tahun 'bekerja' bersama, sesulit apapun kondisinya, serumit apapun birokrasinya, tak terasa sebagai beban karena komitmen, keikhlasan, ketulusan, kesukarelaan masing-masing individu dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Berlebihan kah saya? ah, biarlah memang begitulah kenyataan dan fakta yang ada :')

Pengurus Kopma 2013/2014 dan alumni Kopma 
pada Seminar PNS Preneurship Kopma STIS 2014

Itulah yang membuat kami, Kopmers (anak-anak Kopma) tak menganggap Kopma sebagai sebuah unit, UKM, ataupun organisasi, melainkan lebih dari itu, kami adalah sebuah keluarga, keluarga Kopma :)

Saat saya bersama kehidupan saya yang lain, tetap saya nyatakan mereka keluarga saya. Keluarga yang memang begitu adanya. 

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya...

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya :)

Jakarta, 30 Desember 2014
akhir masa jabatan kepengurusan

Selasa, 09 Desember 2014

Tips Hemat Nge-Kost di Jakarta (Bukan Pelit)

Apa bedanya hemat sama pelit?

Hemat itu mengatur pengeluaran sebijaksana mungkin, demi kepentingan bersama dan jangka panjang. Kalau uang kita sisa, bisa buat yang lain. Seperti membantu teman, atau membantu orang tau, atau membantu saudara. Masih ada pemikiran untuk menolong sesama.

Kalau pelit? Pelit itu, mengatur pengeluarkan seminimalis mungkin dan memaksimalkan bergantung pada traktiran orang lain. Ehm.. parasit. Pelit itu mikirin diri sendiri aja. Misal, punya uang, tapi bilang nggak punya uang. Semacam itu lah.


Dan tips ini, saya buat akibat efek kenaikan harga kost, harga makan, dan harga-harga yang lain akibat efek kenaikan BBM. Jadi saya putuskan untuk berbagi tips hidup hemat yang sudah saya latih dari SD. Kalau mau biaya hidup tinggi, saya rasa nggak perlu tips ya. Tinggal buang-buang uang aja di jalan, ntar juga habis uangnya. Hehe. Yang perlu tips itu biasanya untuk teman-teman yang mau berhemat. Saya bagi tips yang biasa saya pakai ya (bisa cocok bisa juga enggak). Ingat, ini untuk hemat. Hemat bukan berarti pelit! Di bold ya, HEMAT DAN BUKAN PELIT.

  1. Biasakan hidup sederhana. Masalahnya, standard hidup sederhana tiap orang beda-beda ya. Ada yang sebelumnya biasa naik mobil, coba-coba disini naik motor aja. Selain menghindari macet, juga lebih hemat bensin. Ada juga yang biasanya naik motor, disini milih jalan kaki aja. Selain nggak perlu keluar uang buat beli bensin, juga lebih sehat. Alhamdulillah dari SD hingga sekarang saya naik sepeda manual, tapi sekarang lebih sering jalan kaki sih, soalnya sepedanya lagi rusak dan lagi males untuk memperbaiki
  2. Cari kost-an yang sederhana aja sih. Budget untuk kost-an kantong mahasiswa sih biasanya berkisar antara 300-600 ribu (tiap orang beda-beda sih, biasanya tergantung fasilitasnya). Kalau saya sih yang penting bisa buat tidur. Toh aktivitas kita nggak melulu di kost-an toh? Ngontrak juga oke-oke aja, tapi lebih baik tanggung rame-rame biar jatuhnya lebih murah.
  3. Sedekah. Setelah dapet TID (karena saya kuliah di perguruan tinggi kedinasan, alhamdulillah masih dapat tunjangan) atau kiriman orang tua, langsung sisihkan sedikit untuk disedekahin bro! Tanya kenapa?

    Allah berfirman:
    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”
  4. Investasi di awal. Buat saya, yang suka membuat planning hidup masa depan, berpikir 2-3 langkah ke depan, menyisihkan investasi di awal itu wajib banget. Karena berapapun uang yang dipegang, biasanya nggak bersisa. Tapi untuk teman-teman yang bisa menyisakan uang di akhir, silakan tempatkan poin ini di urutan terakhir. Dan kenapa investasi? Karena investasi membuat uang kita bisa bertambah banyak. Ya nggak tiba-tiba bertambah banyak sih. Tetap ada aktivitas di dalamnya yang bisa membuat uang kita aktif. Ada banyak cara untuk investasi. Cari yang halal bro bro dan jangan niatkan investasi untuk menganakpinakkan uang, tapi benar-benar untuk modal/simpanan kebutuhan masa depan. Sementara ini saya baru investasi emas (lumayan harga emas trendnya naik terus, meskipun fluktuatif banget), dan kata mama sih bisa buat modal nikah atau naik haji, in syaa' Allah, hehe.
  5. Belanja seperlunya. Contoh, mie instan itu perlu, tapi nggak sampe beli sekardus juga kali bro. Jangan berlebihan. Mentang-mentang mau hemat, tiap hari makan mie instan terus. Hemat nya sih iya, tapi badan penyakitan mau?
  6. Butuh atau Ingin? Kalau butuh, langsung beli. Kalau ingin, tunda dulu. Biasanya “ingin” itu cuma sesaat. Dengan menunda keinginan kita, sekaligus membuat kita berpikir panjang. Kalau sudah ditunda, ternyata masih ingin juga, ya baru dibeli. Daripada kena siksa batin. Kalau pas balik ternyata kehabisan, ya berarti bukan rejeki kita. Haha. Take it easy bro. Kalau ada promo, boleh juga tuh. Hehe (promo hunter)
  7. Makan sehat. Ingat! makanan sehat nggak selalu mahal! Makan di warteg deket kost yang tempatnya bersih dengan menu sayur dan tempe juga bisa dibilang sehat. Buat makan siang di kampus, bisa beli di Kopma (masih aja promosi :p) atau di kantin. Kalau masih berasa mahal, bisa beli di warteg di dekat kost untuk makan siang di kampus atau masak sendiri. Yang pasti, Sisakan uang di rekening untuk makan selama sebulan. Kasih target berapa rupiah untuk makan. Kenapa? Karena biasanya, paling banyak menghabiskan uang di makanan. Ingat! Makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan.
  8. Nabung. Nabung disini buat hal-hal yang nggak terduga. Misal kalau kita sakit, atau keluarga butuh uang. Bisa juga sebagai investasi masa depan.
  9. Jadi Jomblo yang banyak teman. Jomblo sih jomblo, tapi jadilah jomblo yang bermartabat dan berwibawa, jangan mau jadi forever alone juga jangan jadi pengemis cinta. Perbanyaklah teman! kalau banyak temen itu enak bro. Susah senang selalu bersama. Banyak info yang didapat kalau kita banyak teman. Mulai dari info kerjaan, info acara-acara seru, sampai info makanan murah meriah. Dan, kalau  ada apa-apa dibantuin. Tuh, bermanfaat kan. Kalau punya pacar itu susah loh. Pacaran itu pake ongkos bro, uang tekor, maksiat jalan terus. Ingat! Jangan sekali-kali mendekati zina! Saya bersyukur sih masih jomblo (lebih bersyukur kalo udah nikah), lebih hemat juga. Nggak pacaran, nggak keluar uang buat hal-hal yang nggak penting dan berujung maksiat. Mending ditabung buat nikah, daripada buat pacaran. *eh
  10. Jalin hubungan baik dengan tetangga. You know lah, apalagi kalau dapat undangan nikahan atau waktu kurban. Hoho
Nah, sedikit-sedikit itulah tips dari saya. Kalau ada salah dan nggak cocok, maaf ya. Mau berbagi tips yang lain? Boleh banget! :D

_______________________
Jakarta, 9 Desember 2014