Ada ironi yang sering datang diam-diam dalam hidup. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi peringatan, hanya tiba-tiba berdiri di hadapan kita ketika semuanya sudah terlambat. Saya menemukannya saat menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya belajar mengelola komunikasi untuk organisasi, tetapi gagal mengelola komunikasi untuk seseorang yang pernah menjadi rumah.
Di pekerjaan, saya dikenal sebagai orang yang bisa menjembatani banyak kepentingan. Ketika ada kesalahpahaman antar unit kerja, saya membantu merangkai kalimat agar tidak ada yang merasa disalahkan. Ketika publik mulai mempertanyakan sebuah kebijakan, saya menyusun narasi yang mampu menjelaskan tanpa memperkeruh suasana. Ketika krisis datang, saya belajar bahwa kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat bisa menyelamatkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Saya terbiasa mendengarkan, memahami sudut pandang yang berbeda, lalu menemukan titik temu di antara semuanya.
Namun ternyata kemampuan itu tidak otomatis pulang bersama saya ke rumah.
Hubungan pribadi tidak bekerja seperti siaran pers atau strategi komunikasi. Tidak ada pedoman baku, tidak ada tim pendukung, tidak ada ruang rapat untuk menyamakan persepsi. Ada dua manusia yang sama-sama lelah, sama-sama memiliki ego, luka, harapan, dan cara mencintai yang berbeda. Dan di situlah saya kalah.
Saya masih ingat masa ketika percakapan dengannya terasa begitu mudah. Pesan sederhana di pagi hari bisa menjadi alasan tersenyum sepanjang hari. Kami bisa berbicara berjam-jam tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tentang mimpi, rencana masa depan, tempat yang ingin dikunjungi, atau sekadar makanan apa yang akan dimakan malam nanti. Saat itu komunikasi terasa alami, tanpa perlu dipelajari.
Entah sejak kapan semuanya berubah menjadi laporan singkat yang dingin. Percakapan yang dulu penuh rasa ingin tahu perlahan berubah menjadi daftar kewajiban. Saya sibuk memahami kebutuhan publik yang tidak pernah saya temui, tetapi mulai gagal memahami seseorang yang setiap hari ada di dekat saya. Saya mampu membaca sentimen masyarakat dari ribuan komentar, tetapi tidak lagi mampu membaca kesedihan dari tatapan matanya.
Mungkin kesalahan terbesar bukan karena kami sering bertengkar. Semua pasangan bertengkar. Kesalahan terbesar adalah ketika kami mulai merasa tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya kami rasakan. Ketika diam menjadi lebih mudah daripada jujur. Ketika asumsi menggantikan percakapan. Ketika masing-masing mulai yakin bahwa yang lain pasti sudah mengerti, padahal kenyataannya tidak.
Lucunya, saya sering memberikan saran kepada orang lain tentang pentingnya komunikasi dua arah. Tentang pentingnya mendengarkan sebelum merespons. Tentang perlunya membangun kepercayaan sebelum menyampaikan pesan. Semua teori itu terdengar begitu masuk akal di ruang kerja. Tetapi di rumah, saya justru lebih sering menyiapkan jawaban daripada mendengarkan. Lebih sibuk membela diri daripada memahami. Lebih fokus pada siapa yang benar daripada apa yang sebenarnya sedang terluka.
Dan seperti banyak krisis lainnya, keretakan hubungan tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dibiarkan terlalu lama. Dari pesan yang tidak dibalas dengan sungguh-sungguh. Dari permintaan maaf yang ditunda. Dari pelukan yang semakin jarang. Dari kalimat "nanti kita bicarakan" yang ternyata tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Sampai akhirnya ada hari ketika kami duduk berhadapan dan menyadari bahwa yang hilang bukan lagi solusi, melainkan kemampuan untuk saling menjangkau. Kami masih mengenal nama satu sama lain, masih mengingat kebiasaan-kebiasaan kecil yang pernah membuat kami jatuh cinta, tetapi ada jarak yang entah bagaimana tumbuh begitu jauh di antara kami.
Peristiwa itu mengajarkan saya sesuatu yang tidak pernah saya temukan dalam pelatihan kehumasan mana pun. Bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan dengan efektif. Komunikasi adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain. Mendengar tanpa sibuk menyiapkan sanggahan. Memahami tanpa harus selalu menyetujui. Dan yang paling sulit, mengakui bahwa kadang-kadang kita ikut menjadi bagian dari masalah yang sedang kita coba selesaikan.
Ada masa-masa ketika saya pulang dari kantor setelah berhasil menangani persoalan yang rumit, lalu duduk sendirian di ruang yang terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi cerita yang menunggu untuk didengar. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya bagaimana hari saya berjalan. Pada saat-saat seperti itu, penghargaan, capaian, dan pujian profesional terasa kehilangan sebagian maknanya. Saya menyadari bahwa reputasi kelembagaan yang berhasil saya jaga tidak mampu menggantikan kehilangan satu hubungan yang gagal saya rawat.
Saya tidak menulis ini sebagai upaya mencari siapa yang salah. Waktu sudah berlalu terlalu jauh untuk itu. Saya juga tidak menulis ini sebagai kisah tentang seseorang yang berhasil mengambil hikmah lalu melanjutkan hidup dengan ringan. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Karena ada kehilangan yang tidak selesai hanya dengan berjalannya waktu.
Banyak orang berkata bahwa waktu akan menyembuhkan. Bahwa suatu hari nanti semua akan terasa biasa saja. Namun hingga hari ini, saya belum benar-benar memahami kalimat itu. Ada nama yang masih membuat hati bergetar ketika tanpa sengaja disebut. Ada kenangan yang tetap hidup meski sudah berkali-kali berusaha saya letakkan di tempat yang jauh. Ada percakapan-percakapan lama yang masih sesekali saya ulang dalam kepala, seolah mencari bagian mana yang seharusnya saya ucapkan berbeda.
Ironisnya, sebagai humas saya tahu bahwa setiap krisis membutuhkan evaluasi pascakejadian. Kita mempelajari apa yang salah agar tidak terulang kembali. Tetapi dalam urusan hati, tidak semua evaluasi menghasilkan jawaban. Kadang yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan yang terus hidup tanpa pernah menemukan penutupnya.
Mungkin itu sebabnya tulisan ini ada.
Bukan untuk menutup cerita. Bukan untuk menyatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Justru karena ada bagian dari diri saya yang masih tinggal di masa ketika ia masih ada. Masih tinggal pada tawa yang dulu memenuhi hari-hari biasa. Masih tinggal pada rencana-rencana sederhana yang tidak pernah sempat menjadi kenyataan.
Dan sampai hari ini, di tengah berbagai keberhasilan menjaga komunikasi organisasi, membangun hubungan dengan publik, serta meredakan berbagai krisis yang datang silih berganti, ada satu hal yang masih belum berhasil saya lakukan:
berdamai dengan kehilangan seseorang yang pernah saya anggap sebagai rumah.
0 komentar:
Posting Komentar