Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2026

Tentang Pesan yang Tak Pernah Terkirim

 Ada ironi yang sering datang diam-diam dalam hidup. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi peringatan, hanya tiba-tiba berdiri di hadapan kita ketika semuanya sudah terlambat. Saya menemukannya saat menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya belajar mengelola komunikasi untuk organisasi, tetapi gagal mengelola komunikasi untuk seseorang yang pernah menjadi rumah.

Di pekerjaan, saya dikenal sebagai orang yang bisa menjembatani banyak kepentingan. Ketika ada kesalahpahaman antar unit kerja, saya membantu merangkai kalimat agar tidak ada yang merasa disalahkan. Ketika publik mulai mempertanyakan sebuah kebijakan, saya menyusun narasi yang mampu menjelaskan tanpa memperkeruh suasana. Ketika krisis datang, saya belajar bahwa kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat bisa menyelamatkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Saya terbiasa mendengarkan, memahami sudut pandang yang berbeda, lalu menemukan titik temu di antara semuanya.

Namun ternyata kemampuan itu tidak otomatis pulang bersama saya ke rumah.

Hubungan pribadi tidak bekerja seperti siaran pers atau strategi komunikasi. Tidak ada pedoman baku, tidak ada tim pendukung, tidak ada ruang rapat untuk menyamakan persepsi. Ada dua manusia yang sama-sama lelah, sama-sama memiliki ego, luka, harapan, dan cara mencintai yang berbeda. Dan di situlah saya kalah.

Saya masih ingat masa ketika percakapan dengannya terasa begitu mudah. Pesan sederhana di pagi hari bisa menjadi alasan tersenyum sepanjang hari. Kami bisa berbicara berjam-jam tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tentang mimpi, rencana masa depan, tempat yang ingin dikunjungi, atau sekadar makanan apa yang akan dimakan malam nanti. Saat itu komunikasi terasa alami, tanpa perlu dipelajari.

Entah sejak kapan semuanya berubah menjadi laporan singkat yang dingin. Percakapan yang dulu penuh rasa ingin tahu perlahan berubah menjadi daftar kewajiban. Saya sibuk memahami kebutuhan publik yang tidak pernah saya temui, tetapi mulai gagal memahami seseorang yang setiap hari ada di dekat saya. Saya mampu membaca sentimen masyarakat dari ribuan komentar, tetapi tidak lagi mampu membaca kesedihan dari tatapan matanya.

Mungkin kesalahan terbesar bukan karena kami sering bertengkar. Semua pasangan bertengkar. Kesalahan terbesar adalah ketika kami mulai merasa tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya kami rasakan. Ketika diam menjadi lebih mudah daripada jujur. Ketika asumsi menggantikan percakapan. Ketika masing-masing mulai yakin bahwa yang lain pasti sudah mengerti, padahal kenyataannya tidak.

Lucunya, saya sering memberikan saran kepada orang lain tentang pentingnya komunikasi dua arah. Tentang pentingnya mendengarkan sebelum merespons. Tentang perlunya membangun kepercayaan sebelum menyampaikan pesan. Semua teori itu terdengar begitu masuk akal di ruang kerja. Tetapi di rumah, saya justru lebih sering menyiapkan jawaban daripada mendengarkan. Lebih sibuk membela diri daripada memahami. Lebih fokus pada siapa yang benar daripada apa yang sebenarnya sedang terluka.

Dan seperti banyak krisis lainnya, keretakan hubungan tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dibiarkan terlalu lama. Dari pesan yang tidak dibalas dengan sungguh-sungguh. Dari permintaan maaf yang ditunda. Dari pelukan yang semakin jarang. Dari kalimat "nanti kita bicarakan" yang ternyata tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Sampai akhirnya ada hari ketika kami duduk berhadapan dan menyadari bahwa yang hilang bukan lagi solusi, melainkan kemampuan untuk saling menjangkau. Kami masih mengenal nama satu sama lain, masih mengingat kebiasaan-kebiasaan kecil yang pernah membuat kami jatuh cinta, tetapi ada jarak yang entah bagaimana tumbuh begitu jauh di antara kami.

Peristiwa itu mengajarkan saya sesuatu yang tidak pernah saya temukan dalam pelatihan kehumasan mana pun. Bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan dengan efektif. Komunikasi adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain. Mendengar tanpa sibuk menyiapkan sanggahan. Memahami tanpa harus selalu menyetujui. Dan yang paling sulit, mengakui bahwa kadang-kadang kita ikut menjadi bagian dari masalah yang sedang kita coba selesaikan.

Ada masa-masa ketika saya pulang dari kantor setelah berhasil menangani persoalan yang rumit, lalu duduk sendirian di ruang yang terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi cerita yang menunggu untuk didengar. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya bagaimana hari saya berjalan. Pada saat-saat seperti itu, penghargaan, capaian, dan pujian profesional terasa kehilangan sebagian maknanya. Saya menyadari bahwa reputasi kelembagaan yang berhasil saya jaga tidak mampu menggantikan kehilangan satu hubungan yang gagal saya rawat.

Saya tidak menulis ini sebagai upaya mencari siapa yang salah. Waktu sudah berlalu terlalu jauh untuk itu. Saya juga tidak menulis ini sebagai kisah tentang seseorang yang berhasil mengambil hikmah lalu melanjutkan hidup dengan ringan. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Karena ada kehilangan yang tidak selesai hanya dengan berjalannya waktu.

Banyak orang berkata bahwa waktu akan menyembuhkan. Bahwa suatu hari nanti semua akan terasa biasa saja. Namun hingga hari ini, saya belum benar-benar memahami kalimat itu. Ada nama yang masih membuat hati bergetar ketika tanpa sengaja disebut. Ada kenangan yang tetap hidup meski sudah berkali-kali berusaha saya letakkan di tempat yang jauh. Ada percakapan-percakapan lama yang masih sesekali saya ulang dalam kepala, seolah mencari bagian mana yang seharusnya saya ucapkan berbeda.

Ironisnya, sebagai humas saya tahu bahwa setiap krisis membutuhkan evaluasi pascakejadian. Kita mempelajari apa yang salah agar tidak terulang kembali. Tetapi dalam urusan hati, tidak semua evaluasi menghasilkan jawaban. Kadang yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan yang terus hidup tanpa pernah menemukan penutupnya.

Mungkin itu sebabnya tulisan ini ada.

Bukan untuk menutup cerita. Bukan untuk menyatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Justru karena ada bagian dari diri saya yang masih tinggal di masa ketika ia masih ada. Masih tinggal pada tawa yang dulu memenuhi hari-hari biasa. Masih tinggal pada rencana-rencana sederhana yang tidak pernah sempat menjadi kenyataan.

Dan sampai hari ini, di tengah berbagai keberhasilan menjaga komunikasi organisasi, membangun hubungan dengan publik, serta meredakan berbagai krisis yang datang silih berganti, ada satu hal yang masih belum berhasil saya lakukan:

berdamai dengan kehilangan seseorang yang pernah saya anggap sebagai rumah.

Senin, 20 Juli 2015

Dunia Anda dan Dunia Mereka

Bismillaah, 

Sebuah tulisan berdasarkan atas kisah nyata teman-teman di sekitar saya,

Ada seorang pemuda, teman-teman di kampusnya kadang mengejeknya kurus. Dia sering berpuasa. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika seringnya ia berpuasa, karena ia tak memiliki uang untuk makan.

Ada seorang pemuda, teman-teman di sekolahnya kadang mengejeknya bau. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika bau itu sebab ia seharian membantu ibundanya berjualan di pasar, dan tak banyak koleksi kaus atau parfum di lemarinya.

Ada seorang pemuda, teman-teman di kampusnya kadang mengejeknya karena belum kunjung menikah. Padahal kalau dilihat umurnya seharusnya sudah waktunya. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika ada beban hutang dan kondisi keuangan keluarganya yang harus ditanggung olehnya.

Kondisi tiap orang itu berbeda. Ada yang dari lahir sudah Allah anugerahkan hidup bak raja, namun lebih banyak yang dianugerahkan kehidupan yang menuntutnya benar-benar berjuang untuk dapat sekadar hidup. Tak tega rasanya ketika kawan-kawan saya seperti itu, apalagi yang giat belajar ilmu agama diperlakukan demikian.

Mereka kadang hanya tersenyum kepada temannya, bukan karena mereka tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka tak mau teman-teman lainnya tahu dan ikut susah dengan kondisinya. Mereka memilih diam, dan tersenyum, hingga bahkan meski dalam ejekan, mereka hanya mengucapkan:

"Jazakallahu khairan katsiran"

Semoga Allah limpahkan kebaikan melimpah kepadamu

Mereka tak akan minta belas kasihan Anda, mereka lebih meminta pada Rabb Semesta Alam. Mereka yang sudah merasakan bagaimana hidup di titik bawah, biasanya akan lebih dewasa jika menemukan kondisi serupa pada orang lainnya.

Tidak seorangpun ingin diejek kala orang tua dan istrinya sakit atau anaknya kecelakaan. Maka agar tidak terjadi, jangan tertawakan orang yang Anda lihat sedang Allah anugerahkan ujian kesabaran dalam hidupnya.

Baru sadar ada kisah seperti ini? 
Mungkin karena dunia Anda dan dunia mereka berbeda.

dikutip dari status fb akh Abdul Rohman asy-Syukr

Minggu, 12 Juli 2015

Hidup Normal

Saking bingungnya mau nulis apa, di saat lagi mau nulis, akhirnya muncul-lah sebuah ide untuk menuliskan tentang hidup saya yang sangat-sangat normal akhir-akhir ini. Ya, Hidup Normal. Well, memang nggak menarik sih. Hidup normal? 

Buat kalian, mungkin nggak ada yang menarik dari Hidup Normal. Tapi, Hidup Normal adalah momen yang sudah lama sangat saya rindukan.

Alhamdulillah, saya sedang menikmati tinggal bersama keluarga. Setiap hari istirahat di rumah. Benar-benar menyenangkan. Alhamdulillah. Entah berapa kali, saya akan terus mengucapkan Alhamdulillah dan Alhamdulillah.

Emang, sebelum-sebelumnya kemana Ryan?

Saya nggak kemana-mana. Di sini-sini aja

Kalau dihitung-hitung, seperti sudah 3 tahun nggak tidur di rumah setiap hari (Saya yakin, banyak temen-temen lain yang lebih lama tidak tidur di rumah)

Di hari terakhir kuliah, saya langsung lepas landas ke Bangil. Dan, sejak itu saya semakin merindukan saat-saat tidur di rumah. Ya.. kuliah selesai, saya memang mendapatkan waktu normal selama di Bangil, tidur malam dan pagi bangun. Waktu normal yang tidak saya dapatkan di masa-masa kuliah. Meskipun beberapa hari lalu, saya masih membawa kebiasaan buruk selama di Jakarta, malam bangun, pagi juga bangun, singkatnya nggak tidur seharian.

Hidup Normal seperti ini, bagi saya adalah nikmat yang luar biasa. Saya menikmati masakan mama saat sahur dan berbuka. Menyapa dan disapa tetangga, mengantarkan makanan ke rumah-rumah tetangga, dapet makanan dari tetangga, dikatain ganteng sama tetangga, mau dijodohin sama tetangga (yang terakhir cuma bercandaan kayaknya, haha). Shalat berjamaah dengan Mama, Papa, dan Adik. Cerita banyak hal dan tertawa dengan mereka, sampai akhirnya tidur lelap. Setiap hari... Setiap hari... Setiap hariiiii...

Saya juga punya adik laki-laki (sekarang). Kemarin dia lagi galau mau kuliah dimana, dia diterima di Politeknik Negeri Malang dan Sekolah Tinggi Teknik Nuklir-BATAN Yogyakarta (ga kebayang kalo dia sampai nyiptain senjata nuklir :v), sempat gagal di SBMPTN juga. Tapi sekarang dia sudah mantap kuliah di STTN-BATAN di Yogyakarta. Artinya, Mama dan Papa di rumah akan kesepian lagi, ditinggal dua anaknya yang merantau ke tanah orang. Setelah liburan berakhir, rasa rindu ke rumah sepertinya akan meningkat berkali-kali lipat dari biasanya :'

Saya juga bersenang-senang dengan sahabat-sahabat saya. Ahh.. membicarakan dan menertawakan banyak hal. Saya kembali bisa tertawa yang membuat saya tidak ingin berhenti. Bebas ngobrol apa saja. Menertawakan apapun. Mengalir begitu saja. Melepaskan semua masalah.

Ahh iya satu lagi. Makanan. Haha, tentu saja, dengan harga lebih murah dan rasa lebih enak. Wah, saya gendut? Well, belum ada perubahan, masih langsing-langsing aja, meski udah makan banyaaaaak di sini, mungkin gara-gara kurang tidur teratur kali ya. Ahh, semua serba enak disini. Saya masih punya banyak waktu untuk kuliner, jadi tidak perlu terburu-buru.

Macet? Apa itu macet? Alhamdulillah di sini tidak pernah macet. Ya mungkin karena Bangil adalah kota yang lurus-lurus saja (1 jalan utama). Tapi yang perlu diwaspadai di jalanan sini adalah kendaraan-kendaraan besar yang buas dan siap menerkam mangsanya apabila kita tidak berhati-hati dalam berkendara. Namun, saya bersyukur karena masyarakat disini cukup sadar diri untuk tertib berlalu lintas.

Apa semua berjalan lancar? Yang tidak lancar pun juga ada. Tidak enak juga ada. Saya nggak perlu menulis sesuatu yang nggak enak. Karena yang nggak enak di sinipun, saya rasakan juga di tempat lain. Jadi, kalau bahas yang nggak enak aja, nanti yang enak-enak jadi nggak berasa enak, hehe.

Inilah, Hidup Normal bagi saya.  Ketika saya bisa bersama dengan keluarga, sahabat dan orang yang kita sayangi. Menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang. Yakin, tidak ada apapun yang tidak bisa dihadapi karena kita tidak sendiri. Bagian dari hidup normal saya bukan berarti tidak ada masalah loh ya. Tapi apapun masalah itu, ya dinikmati saja. Enjoy~

Jadi, ketahuan deh ya, kenapa saya jadi jarang nulis akhir-akhir ini? Yaa, karena saya sedang sangat menikmati hidup normal ini. Saya baik-baik saja, dan bahagia. Bahagia itu sederhana, bukan? Semoga Kalian juga bahagia dengan apapun yang kalian jalani saat ini ya.

Selamat Hidup Normal! Dan.. jangan lupa bahagia! :)

Senin, 06 Juli 2015

Rumah

"Bagi saya, rumah adalah mereka. Karena mereka adalah tempat saya pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Mereka yang selalu melindungi kita, menawarkan kenyamanan, dan menanam kebahagiaan. Mereka lah keluarga. Mereka lah, Mama, Papa, dan Adik laki-laki saya" - Koh
Papa dan Mama telah ikhlas menjalani semua hidup ini. Bonus hidup tak terhingga, yang mereka lakukan sekarang adalah  menunggu di sebuah rumah yang dibangun dengan hasil keringat yang telah senja, menunggu petang dan malam. Tujuan kedua orang tua saya bersusah payah membangun rumah ini adalah wadah supaya keturunannya berkumpul melebur rindu satu sama lain.

Supaya anak dan cucu mereka tahu jalan pulang ke rumah...

Itulah niat baik Papa...

Itulah wujud cinta kasih Mama...



Waktu mungkin telah berubah banyak hal dalam dunia, tapi cinta Papa dan Mama tidak pernah berubah, mereka selalu menceritakan bagaimana yang terjadi selama saya berada di tanah orang, tak bosan pula mereka mendengarkan celotehan anaknya yang bahkan menelepon mereka saja jarang-jarang, duh dari cerita itulah saya memahami cinta sesungguhnya. 

Meski Papa, banyak diam kini, dia lebih asyik di depan televisi sambil sesekali makan keripik singkong rasa balado. Sedangkan Mama duduk di samping Papa menemani sang suami tercinta. Masa tua yang indah.. tapi, mereka tidak bisa berbohong, meski ada saya dan adik. Kerinduan besar tersimpan rapat di hati Mama dan Papa.

Mereka... menunggu pintu diketuk, lalu... mendapatkan anak mereka di daun pintu...

menunggu anak-anak mereka agar bisa dipeluk...

menunggu cerita anak-anak tentang dunia...

Menunggu anak-anak mereka untuk makan bersama dalam satu hidangan, sambil bercengkerama bermacam hal...

Menunggu untuk tertawa bersama...

Menunggu untuk dicintai lagi, seperti ketika cinta anak-anak mereka pada saat belum terbagi dengan kesibukan kuliah dan berbagai kesibukan dunia... Ketika cinta anak-anak mereka saat masih ingusan, perasaan dibutuhkan sang anak seperti mereka masih berseragam putih merah... seperti ketika anak-anak mereka duduk rapi dengan hidangan untuk berbagi makanan, dengan muka penuh cinta...

Ma, Pa.. Ryan sudah di rumah sekarang.. :')

Bangil, 20 Ramadhan 1436H

Kamis, 24 Juli 2014

Rahasia

Salah satu sisi lain Kota Bangil, senja di Desa Satak, Bangil
(source: Kota Bangil)

Saya sampai di kota ini dengan bau tanah sehabis hujan. Wangi menyejukkan meski ada hal yang saya kurang suka pada kota ini, lalu lintas yang mengerikan di jalan raya, bahkan menurut saya lebih ngeri dari Ibu Kota

Pada kota ini tempat yang kudatangi tanpa beban karena tak ada kenangan buruk yang terilustrasi disini. Ketenangan dan kesejukkan yang berlomba di pikiranku. Kota yang menyederhanakan pikiran karena tujuan saya hanya Rumah, tempat papa, mama, dan adikku menghabiskan waktu.

Begitu ringan saya melangkah di kota ini, tidak ada rutinitas yang menghimpit, tidak ada kenangan buruk yang menguras perasaan. Disini hanya tertinggal kenangan lucu saat remaja, ringan dan selalu dapat ditertawakan. Ini rahasiaku, kota ini, tempat saya 'menyembunyikan ' diri. Kota ini benar-benar rahasia indahku.

Dengan ringan kakiku melangkah, memberhentikan mobil jemputan menuju rumah yang sekarang terasa sangat jauh dari hingar bingar Ibu Kota. Disini saya merasa aman dan tenteram.

Salah satu sisi lain Kota Bangil, di Desa Satak
(source: Kota Bangil)

Selalu dengan wajah senyum saya datang ke kota ini. Senyum yang saya peruntukkan untuk kedua orang tuaku, mereka yang masih dapat kuberikan senyum hangat di dunia ini.

Matahari mulai beranjak dari langit kota ini, menyisakan samar-samar sinar yang mulai diambil alih oleh bulan dan bintang.

“Assalamu'alaykum” kuketuk pintu rumah
“Eh udah nyampe Yan!”
Ku ulurkan tangan untuk menyalaminya dan mencium tangannya.
“Sehat-sehat Pa, Ma?”

Bangil, 24 Juli 2014