Tampilkan postingan dengan label NTMS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTMS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2026

Tentang Pesan yang Tak Pernah Terkirim

 Ada ironi yang sering datang diam-diam dalam hidup. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi peringatan, hanya tiba-tiba berdiri di hadapan kita ketika semuanya sudah terlambat. Saya menemukannya saat menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya belajar mengelola komunikasi untuk organisasi, tetapi gagal mengelola komunikasi untuk seseorang yang pernah menjadi rumah.

Di pekerjaan, saya dikenal sebagai orang yang bisa menjembatani banyak kepentingan. Ketika ada kesalahpahaman antar unit kerja, saya membantu merangkai kalimat agar tidak ada yang merasa disalahkan. Ketika publik mulai mempertanyakan sebuah kebijakan, saya menyusun narasi yang mampu menjelaskan tanpa memperkeruh suasana. Ketika krisis datang, saya belajar bahwa kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat bisa menyelamatkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Saya terbiasa mendengarkan, memahami sudut pandang yang berbeda, lalu menemukan titik temu di antara semuanya.

Namun ternyata kemampuan itu tidak otomatis pulang bersama saya ke rumah.

Hubungan pribadi tidak bekerja seperti siaran pers atau strategi komunikasi. Tidak ada pedoman baku, tidak ada tim pendukung, tidak ada ruang rapat untuk menyamakan persepsi. Ada dua manusia yang sama-sama lelah, sama-sama memiliki ego, luka, harapan, dan cara mencintai yang berbeda. Dan di situlah saya kalah.

Saya masih ingat masa ketika percakapan dengannya terasa begitu mudah. Pesan sederhana di pagi hari bisa menjadi alasan tersenyum sepanjang hari. Kami bisa berbicara berjam-jam tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tentang mimpi, rencana masa depan, tempat yang ingin dikunjungi, atau sekadar makanan apa yang akan dimakan malam nanti. Saat itu komunikasi terasa alami, tanpa perlu dipelajari.

Entah sejak kapan semuanya berubah menjadi laporan singkat yang dingin. Percakapan yang dulu penuh rasa ingin tahu perlahan berubah menjadi daftar kewajiban. Saya sibuk memahami kebutuhan publik yang tidak pernah saya temui, tetapi mulai gagal memahami seseorang yang setiap hari ada di dekat saya. Saya mampu membaca sentimen masyarakat dari ribuan komentar, tetapi tidak lagi mampu membaca kesedihan dari tatapan matanya.

Mungkin kesalahan terbesar bukan karena kami sering bertengkar. Semua pasangan bertengkar. Kesalahan terbesar adalah ketika kami mulai merasa tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya kami rasakan. Ketika diam menjadi lebih mudah daripada jujur. Ketika asumsi menggantikan percakapan. Ketika masing-masing mulai yakin bahwa yang lain pasti sudah mengerti, padahal kenyataannya tidak.

Lucunya, saya sering memberikan saran kepada orang lain tentang pentingnya komunikasi dua arah. Tentang pentingnya mendengarkan sebelum merespons. Tentang perlunya membangun kepercayaan sebelum menyampaikan pesan. Semua teori itu terdengar begitu masuk akal di ruang kerja. Tetapi di rumah, saya justru lebih sering menyiapkan jawaban daripada mendengarkan. Lebih sibuk membela diri daripada memahami. Lebih fokus pada siapa yang benar daripada apa yang sebenarnya sedang terluka.

Dan seperti banyak krisis lainnya, keretakan hubungan tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dibiarkan terlalu lama. Dari pesan yang tidak dibalas dengan sungguh-sungguh. Dari permintaan maaf yang ditunda. Dari pelukan yang semakin jarang. Dari kalimat "nanti kita bicarakan" yang ternyata tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Sampai akhirnya ada hari ketika kami duduk berhadapan dan menyadari bahwa yang hilang bukan lagi solusi, melainkan kemampuan untuk saling menjangkau. Kami masih mengenal nama satu sama lain, masih mengingat kebiasaan-kebiasaan kecil yang pernah membuat kami jatuh cinta, tetapi ada jarak yang entah bagaimana tumbuh begitu jauh di antara kami.

Peristiwa itu mengajarkan saya sesuatu yang tidak pernah saya temukan dalam pelatihan kehumasan mana pun. Bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan dengan efektif. Komunikasi adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain. Mendengar tanpa sibuk menyiapkan sanggahan. Memahami tanpa harus selalu menyetujui. Dan yang paling sulit, mengakui bahwa kadang-kadang kita ikut menjadi bagian dari masalah yang sedang kita coba selesaikan.

Ada masa-masa ketika saya pulang dari kantor setelah berhasil menangani persoalan yang rumit, lalu duduk sendirian di ruang yang terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi cerita yang menunggu untuk didengar. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya bagaimana hari saya berjalan. Pada saat-saat seperti itu, penghargaan, capaian, dan pujian profesional terasa kehilangan sebagian maknanya. Saya menyadari bahwa reputasi kelembagaan yang berhasil saya jaga tidak mampu menggantikan kehilangan satu hubungan yang gagal saya rawat.

Saya tidak menulis ini sebagai upaya mencari siapa yang salah. Waktu sudah berlalu terlalu jauh untuk itu. Saya juga tidak menulis ini sebagai kisah tentang seseorang yang berhasil mengambil hikmah lalu melanjutkan hidup dengan ringan. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Karena ada kehilangan yang tidak selesai hanya dengan berjalannya waktu.

Banyak orang berkata bahwa waktu akan menyembuhkan. Bahwa suatu hari nanti semua akan terasa biasa saja. Namun hingga hari ini, saya belum benar-benar memahami kalimat itu. Ada nama yang masih membuat hati bergetar ketika tanpa sengaja disebut. Ada kenangan yang tetap hidup meski sudah berkali-kali berusaha saya letakkan di tempat yang jauh. Ada percakapan-percakapan lama yang masih sesekali saya ulang dalam kepala, seolah mencari bagian mana yang seharusnya saya ucapkan berbeda.

Ironisnya, sebagai humas saya tahu bahwa setiap krisis membutuhkan evaluasi pascakejadian. Kita mempelajari apa yang salah agar tidak terulang kembali. Tetapi dalam urusan hati, tidak semua evaluasi menghasilkan jawaban. Kadang yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan yang terus hidup tanpa pernah menemukan penutupnya.

Mungkin itu sebabnya tulisan ini ada.

Bukan untuk menutup cerita. Bukan untuk menyatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Justru karena ada bagian dari diri saya yang masih tinggal di masa ketika ia masih ada. Masih tinggal pada tawa yang dulu memenuhi hari-hari biasa. Masih tinggal pada rencana-rencana sederhana yang tidak pernah sempat menjadi kenyataan.

Dan sampai hari ini, di tengah berbagai keberhasilan menjaga komunikasi organisasi, membangun hubungan dengan publik, serta meredakan berbagai krisis yang datang silih berganti, ada satu hal yang masih belum berhasil saya lakukan:

berdamai dengan kehilangan seseorang yang pernah saya anggap sebagai rumah.

Rabu, 12 Oktober 2016

Non-Linear

Sejalan dengan waktu yang bergulir, kita akan bertemu peubah dan parameter baru, dengan atau tanpa disengaja. Hingga kehidupan menjelma menjadi sistem persamaan non-linear yang mesti didapatkan solusinya.

Nikmatilah. Karena pada masa itu kau akan semakin terlatih, menemukan kesetimbangan.

Maknailah, dengan sederhana dan bersahaja. Karena di titik manapun engkau berada, di sana akan selalu tertanam doa dan cita-cita, in syaa' Allah. :)

Jakarta, 10 Muharram 1438 H
Mari tumbuh, bergerak, dan menjadi dewasa.. 
bersama...

Jumat, 11 Desember 2015

Nikmatnya Jalan Perjuangan

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT

BAB 0: NIAT
004 Nikmatnya Jalan Perjuangan

Tujuan dicapai dengan perjalanan. Cita-cita diraih dengan perjuangan. Pelangi diawali oleh tetesan hujan. Akibat lahir dari rahim sebab. Demikianlah ketentuan Allah yang berlakukan di bumi tempat para hamba-Nya berpijak.

Banyak dari kita menilai bahwa kenikmatan itu ada pada saat tercapainya tujuan, sedangkan usaha menuju tujuan merupakan fase kesusahan. Namun, orang-orang terpilih justru menjadikan kenikmatan pada proses perjuangan, dan tercapainya tujuan hanyalah merupakan kelanjutan dari kenikmatan tersebut. Kenikmatan di atas kenikmatan..

Dalam sebuah syair hikmah yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi’i disebutkan:

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّن تُفَارِقه
وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِي النَّصبِ
"Pergilah niscaya kau akan dapatkan ganti dari yang kau tinggalkan,
berjuanglah keras sebab kelezatan hidup itu ada dalam kepayahan."

Allah juga menerangkan dalam firman-Nya:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ * وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ * ٱلَّذِيۤ أَنقَضَ ظَهْرَكَ * وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ * فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ * وَإِلَىٰ رَبكَ فَٱرْغَبْ
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah: 1–8)

Bagaimanapun cara pandang kita terhadap usaha dan perjuangan, apakah sebagai kenikmatan atau kesusahan, perjuangan tetaplah suatu keharusan yang apabila ditunda atau diabaikan maka akan menimbulkan keharusan yang lebih besar di kemudian hari. Seseorang yang mengabaikan kerja keras di masa muda harus membayar dengan kerja lebih keras di masa tuanya. Mahasiswa yang enggan belajar secara rutin setiap hari harus belajar lebih keras di musim ujian atau ia tidak lulus.

Demikianlah rumus yang berlaku dalam kehidupan...

Jakarta, 30 Safar 1437H

Minggu, 01 November 2015

Inilah Perjuangan, Akhi!

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT

BAB 0: NIAT
003 Inilah Perjuangan, Akhi!

Seorang penyair pernah berkata:
"Jadilah lelaki, tapak kakinya kokoh di atas bumi, namun cita-citanya setinggi bintang Tsurayya."

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata (dalam Miftah Daaris Sa'adah hal 366):
"Para ahli pada masing-masing umat telah sepakat bila keberhasilan itu tidak mungkin diraih dengan bersenang-senang. Barangsiapa lebih memilih bersantai, ia tidak akan meraih cita-cita. Kebahagiaan dan kelezatan sangat ditentukan dengan kesusahan dan kesulitan yang dihadapi. Kebahagiaan tidak akan mungkin pernah ada tanpa tekad kuat. Tanpa kesabaran tidak mungkin ada kelezatan. Kenikmatan tidak akan pernah dirasakan bila tanpa pengorbanan."

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya: "Kapankah seorang hamba benar-benar merasakan kesenangan?" Beliau menjawab: "Ketika pertama kali melangkah di dalam surga." (Uluwul Himmah hal. 30)

Seekor elang, ia akan terbang mengangkasa dengan mengepakkan sayap-sayapnya. Ia akan melihat luasnya hamparan bumi dan ia pun akan merasakan indahnya langit yang tak bertiang. Ia akan betul-betul terbang, namun sebelumnya apa yang telah ia lakukan?

Ia berlatih untuk terbang, ia belajar mengenal ketinggian, dan hempasan angin. Ia melakukan segala-galanya. Kini iapun terbang di angkasa dengan sayap-sayapnya.

Begitupun kita, jika jiwa benar-benar besar, tubuh akan merasakan kepayahan untuk meraih cita. Seseorang yang mengarungi samudra, pasti akan menyaksikan peristiwa berbahaya silih berganti...

Allah berfirman dalam QS. Ali Imraan: 159, "Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."

Malam sudah larut, mari beristirahat :)
Jakarta, 19 Muharram 1437H

Sabtu, 24 Oktober 2015

Kisah Batu Cekung

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT

BAB 0: NIAT
002 Kisah Batu Cekung

Ada orang yang apabila melihat kawannya mendapatkan kemuliaan, ilmu atau lainnya, ia hanya bisa tertegun sambil berkata dalam hati, bagimana saya bisa seperti dia?

Atau kasus lain, seseorang selalu saja pesimis menghadapi suatu pekerjaan. Alasannya tidak lain, karena menurut yang ia dengar, pekerjaan yang dihadapinya itu sulit.

Itu sebagian potret sikap keterputus-asaan, yang terkadang menyelinap hinggap pada hati seseorang. Semua rasa pesimis tersebut harus dipupus. Karena, Allah pasti memberikan pertolongan dan jalan keluar bagi yang mau berusaha. Demikian juga dalam menuntut ilmu.

Dahulu, ada seorang pelaku thalabul 'ilmi yang merasa gagal karena menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan dan kecerdasan. Ia pun telah yakin untuk berhenti menuntut ilmu.

Dalam perjalanan pulang, ia melewati puncak sebuah bukit. Di salah satu sudutnya ada sebongkah batu gunung yang cekung karena tetesan air. Akhirnya ia tersadar, "Air meskipun lembut, ternyata bisa membuat batu keras menjadi cekung! Demi Allah aku akan kembali menuntut ilmu!" Berikutnya ia pun sukses dalam thalabul 'ilmi

Kisah ini disebutkan oleh Imam Suyuthi di dalam Al-Muzhir fii 'Uluum al-Lughah 2/261. Akan tetapi, tidak disebutkan secara pasti siapakah nama orang tersebut.

Dari kisah di atas dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa jika kita merasa kurang dalam suatu hal, jangan pernah lupakan sebuah modal lainnya! Yaitu "ketekunan". Sungguh, ketekunan akan menjadi langkah awal dari sebuah kesuksesan.

Seorang pujangga pernah memadu rasa:
"Menuntut ilmu lah! jangan putus asa dari cita-cita
Penyakit seorang murid adalah putus asa
Apakah engkau tidak memperhatikan air yang terus menetes di atas batu cadas, 
bukankah akan berbekas?!"

Allah berfirman:
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. Al-Anfal : 9)

Jakarta, 11 Muharram 1437H

Jumat, 23 Oktober 2015

Melawan Malas, Mengusir Jenuh

Seri #RoadToWisuda2016

BAB 0: NIAT
001 Melawan Malas, Mengusir Jenuh

Belajar itu memang bertahap, lihat dan sadari di titik manakah kita berdiri. Seringkali kita minder di saat melihat beberapa kawan telah mencapai tataran yang cukup tinggi. Kita terkadang merasa kecil hati kala membandingkan dengan beberapa kawan yang telah jauh melangkah ke depan.

Semestinya, semangat kita justru semakin menguat. Pijakan untuk berhasil adalah keyakinan kuat jika setiap masalah pasti ada solusinya. Apabila kita pesimis dan tidak berpengharapan lagi, habislah kita. Ucapkan saja selamat tinggal untuk cita-cita.

Melawan malas dan mengusir jenuh pun ada solusinya. Kenapa tidak?

Berdoa kepada Allah dan memohon kemudahan dari-Nya adalah langkah pertama untuk melawan malas dan mengusir jenuh. Di dalam hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu riwayat Muslim, Rasulullah setiap petang memohon kepada Allah agar dilindungi dari rasa malas, Rasulullah juga berdoa:

"Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon perlindungan kepada-Mu dari rasa malas, pikun, dosa, dan hutang." (Hadits dari 'Aisyah radhiyallahu'anha, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
dan dalam kesempatan yang lain beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian” (Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu, riwayat Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Faidah dari hadits di atas:

1. Dianjurkan untuk membiasakan doa tersebut.
2. Doa tersebut berisi permintaan agar kita diberi keselamatan terhindar dari sifat-sifat jelek yang disebutkan di dalamnya.
3. Doa tersebut berisi permintaan agar kita tidak terjerumus dalam sifat-sifat jelek tersebut.
4. Meminta perlindungan dari sifat ‘ajz, yaitu tidak adanya kemampuan untuk melakukan kebaikan. Demikian keterangan dari An Nawawi rahimahullah (dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 17/28)
5. Meminta perlindungan dari sifat kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh An Nawawi rahimahullah (dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 17/28).

Jakarta, 10 Muharram 1437H

referensi: rumaysho.com

Senin, 20 Juli 2015

Dunia Anda dan Dunia Mereka

Bismillaah, 

Sebuah tulisan berdasarkan atas kisah nyata teman-teman di sekitar saya,

Ada seorang pemuda, teman-teman di kampusnya kadang mengejeknya kurus. Dia sering berpuasa. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika seringnya ia berpuasa, karena ia tak memiliki uang untuk makan.

Ada seorang pemuda, teman-teman di sekolahnya kadang mengejeknya bau. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika bau itu sebab ia seharian membantu ibundanya berjualan di pasar, dan tak banyak koleksi kaus atau parfum di lemarinya.

Ada seorang pemuda, teman-teman di kampusnya kadang mengejeknya karena belum kunjung menikah. Padahal kalau dilihat umurnya seharusnya sudah waktunya. Kepada temannya ia hanya tersenyum, mereka tidak tahu jika ada beban hutang dan kondisi keuangan keluarganya yang harus ditanggung olehnya.

Kondisi tiap orang itu berbeda. Ada yang dari lahir sudah Allah anugerahkan hidup bak raja, namun lebih banyak yang dianugerahkan kehidupan yang menuntutnya benar-benar berjuang untuk dapat sekadar hidup. Tak tega rasanya ketika kawan-kawan saya seperti itu, apalagi yang giat belajar ilmu agama diperlakukan demikian.

Mereka kadang hanya tersenyum kepada temannya, bukan karena mereka tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka tak mau teman-teman lainnya tahu dan ikut susah dengan kondisinya. Mereka memilih diam, dan tersenyum, hingga bahkan meski dalam ejekan, mereka hanya mengucapkan:

"Jazakallahu khairan katsiran"

Semoga Allah limpahkan kebaikan melimpah kepadamu

Mereka tak akan minta belas kasihan Anda, mereka lebih meminta pada Rabb Semesta Alam. Mereka yang sudah merasakan bagaimana hidup di titik bawah, biasanya akan lebih dewasa jika menemukan kondisi serupa pada orang lainnya.

Tidak seorangpun ingin diejek kala orang tua dan istrinya sakit atau anaknya kecelakaan. Maka agar tidak terjadi, jangan tertawakan orang yang Anda lihat sedang Allah anugerahkan ujian kesabaran dalam hidupnya.

Baru sadar ada kisah seperti ini? 
Mungkin karena dunia Anda dan dunia mereka berbeda.

dikutip dari status fb akh Abdul Rohman asy-Syukr

Sabtu, 18 Juli 2015

Dari Tulisan Aku Mengenalmu

Bismillaah,

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang berhasil membuat sebuah karya, ataupun kajian besar bersama kawan-kawan pembacanya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat hidayah, dan mengetahui jalan yang haq dari yang selama ini dijalaninya.

Berawal dari tulisan, bisa jadi ada yang mendapat tawaran pernikahan dari seseorang.

Semua berawal dari tulisan, maa syaa' Allah.

Begitu pula warisan-warisan terdahulu. Bukanlah yang diwariskan itu harta, atau sekadar bangunan dan budaya, namun ilmu yang tertuangkan dalam tulisan.

Maka bersiaplah engkau, wahai para penulis yang ikhlas.

Kelak kau bahkan mungkin akan mendapatkan aliran pahala dikala engkau tidur, karena tulisanmu yang bermanfaat. in syaa' Allah.

Maka jika Anda punya ilmu atau hikmah bermanfaat, jangan ragu tuk berbagi, tuliskanlah!

Selagi nama anda belum dituliskan di atas nisan.

***
Catatan: 
sang penulis di blog ini, melalui tes kemampuan dan potensi akademik baik tes tulis maupun tes online, diketahui memiliki keterbatasan di bagian linguistiknya. Dia saja berani mencoba menulis, Anda harusnya lebih mampu melampaui dia dong?

Bismillaah, in syaa' Allah sebentar lagi menulis skripsi! Semoga Allah mudahkan jalan saya dan jalan teman-teman saya untuk menempuh sisa-sisa waktu tingkat 3 tahun ini untuk menuju tingkat 4 sehingga kami semua bisa lulus dan wisuda tahun 2016. Aamiin

Bangil, 2 Syawal 1436 H

Jumat, 17 Juli 2015

Faidah Khutbah Sholat Idul Fitri 1436 H


Faidah khutbah Sholat 'id di Lapangan Stadion R. Soedrasono, Pogar, Bangil oleh Ustad Hisyam Al-Katiri, Lc:

Membahas pesan dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam ketika datang kepada Nabi shalallahu’alaihi wa sallam (Hadits dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah al-hadits ash-Shahihah, no.831):

1. Silakan engkau hidup sesukamu karena engkau akan mati juga. 

maksudnya: hendaklah mempersiapkan diri seseorang yang tujuan akhirnya adalah kematian, dengan cara menyiapkan diri untuk sesuatu setelahnya (setelah kematian)

2. Cintailah siapapun yang engkau kehendaki, karena engkau pasti akan berpisah dengannya. 

maksudnya: cintailah siapa saja yang kita suka di antara makhluk, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Maka jangan sampai kita menyibukkan hati dengan kesenangan-kesenangan dunia yang fana berupa istri, anak, harta dan selainnya dari hal-hal yang kita cintai. Karena itu semua, bisa jadi akan pergi dari kita, atau bisa jadi kita yang pergi darinya!
Maka sibukkanlah hati dengan mengingat Allah dan amal shalih yang dicintai Allah dengan mendekatkan pelakunya dengan-Nya. Karena hal itu akan menemani kita di alam kubur, sehingga tidak akan berpisah dengan kita

3. Berbuatlah sesuka hatimu, karena engkau akan diberi ganjaran.

maksudnya: berbuatlah sesukamu, berupa perbuatan yang baik maupun yang buruk, karena sungguh akhir kehidupanmu adalah kematian, lalu setelah kematian ada perhitungan dan pembalasan (di hari Kiamat).

4. Kemudian Jibril melanjutkan, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya kehormatan seorang mukmin itu pada shalat malam, dan harga dirinya adalah ketika ia tidak membutuhkan (meminta-minta kepada orang lain).”

maksudnya: 
ketinggian dan kehormatannya adalah usahanya menghidupkan malam dengan merutinkan tahajjud di dalamnya, berdzikir dan membaca al-Qur’an. Dan ini adalah amalan yang paling agung dan paling mulia, yang dengannya seorang hamba menghadap Rabbnya karena shalat adalah amalan terbaik –setelah dua kalimat syahadat- yang dibawa seorang hamba menghadap Rabbnya.

Dan, bahwa kekuatannya, keperkasaannya dan keunggulannya dari orang lain adalah ketercukupannya dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, dan ketidakbutuhannya terhadap apa yang ada di tangan manusia.

Kesimpulannya, faidah yang didapat adalah sebagai berikut:
-Peringatan agar tidak panjang angan-angan
-Mengingatkan kematian
-Tidak tertipu dengan berkumpulnya seseorang dengan keluarga, orang yang dicintai dan anak-anaknya
-Mengingatkan agar memanfaatkan umur untuk beribadah
-Anjuran agar menunaikan shalat malam/tahajjud

Wallahul muwaffiq,

Semoga Bermanfaat
Baarakallahu fiikum

Bangil, 1 Syawal 1436 H

Rabu, 15 Juli 2015

Hidayah dan Cinta

Lanjutan dari tulisan Ranting? Apalah Artinya,

Di mana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. That’s life.

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s more about life.

Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi
Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir.

Mereka pun datang silih berganti
Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati.
Ada yang telah lama berjalan beriringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya
Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.
Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan
Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Di mana ada awal, pasti akan ada akhir.
Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya.

Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru… well, That’s life must be

(Rumaysho.com. Ada Pertemuan, Ada Perpisahan)

Sahabatku,

Selama hidup ini, sudah banyak saya menyaksikan dan mendengarkan, kisah-kisah yang luar biasa, terkait cinta.

Ada yang dulunya jauh bergelimang maksiat, jauh dari ibadah, jauh dari sunnah, namun seiring waktu, beliau berubah, karena bertemu dengan seseorang yang luar biasa, yang menumbuhkan benih-benih cinta, yang mengantarkannya pada hidayah Allah Azza wa Jalla.

Dari cinta, seseorang bisa berubah begitu jauhnya. Dan dari cinta, seseorang bisa berubah begitu jauhnya. Ada lagi yang lainnya, karena cinta, hilang sudah ilmu dan amal yang dulu telah ia mengetahuinya. Cintanya jatuh pada tempat yg salah. Menyebabkannya terombang ambing, pada fitnah dunia. 

Mungkin yang dahulu dicinta, yang menjadi penyalur hidayah itu kini pergi sudah.. pergi menghilang bersama gemerlap dunia.

Orang yang mencinta akan dikumpulkan bersama orang yang dicinta di akhirat kelak.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Kalau begitu engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
(HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Yang kami harap, semoga persaudaraan kita tidak hanya di dunia, namun berakhir pula di jannah. Di dunia -selama hidup- semoga kita saling menghendaki kebaikan satu dan lainnya.

Maka pilihlah cinta, yang dapat mengantarkanmu pada kebaikan.

Dan semoga kita, bisa istiqomah dalamnya, hingga ajal menjelang.

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi 'ala diinik ”
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Teruntuk saudara-saudara dan sahabat-sahabatku seiman, yang saya cintai karena Allah :)


Bangil, 28 Ramadhan 1436 H
Sambil mendengarkan kajian Ust. Armen Halim Naro rahimahullah, Untukmu yang Berjiwa Hanif

Ranting? Apalah Artinya

Lanjutan dari tulisan Harap yang Kadang Tak Terungkap,



Hidayah itu seringnya malah didapatkan orang lain dari hal-hal kecil.

Bahkan hanya dari lembutnya perkataan,
Bahkan hanya dari sekadar senyuman terbaik,
Bahkan hanya dari memberi minum seekor anjing,
Bahkan hanya dari pemberian kecil seorang sahabat,
Bahkan hanya dari wanginya kamar mandi masjid,
Bahkan hanya dari mengeluarkan lalat yg tercelup di air,
Bahkan hanya dari melihat seseorang sedang sholat di rerumputan hijau di pinggir jalan,
dsb.

Maka tak selayaknya seorang muslim meremehkan kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin dengannya menjadi jalan hidayah bagi orang selainnya.

Dan dengannya pula mengantarkan diri mendapat ridhaNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَي ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ المُسْلِمِينَ لَا يُؤذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ

“Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata,

‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’

Akhirnya orang tersebut dimasukkan ke dalam surga.”
(HR Muslim no 4744. Penomoran via lidwa)

Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Harap yang Kadang Tak Terungkap

Lanjutan dari tulisan Bunga,

Pernah berkata seorang akhwat,
"Yan, kenalin dong sama temenmu. Kan temenmu banyak jilbab lebar gitu."
Tiba-tiba orang itu berkata seperti itu.
Beliau memang masih tampil 'kayak gitu'. 
Tapi dari kata-katanya menyimpan harapan yang tak terungkap.

Pernah suatu ketika, saat saya masih begajulan,
datang ke sebuah pengajian,
namun yang ada malah tatapan tak mengenakkan,
memang mungkin penampilan masih kurang meyakinkan,
namun saya datang untuk belajar wahai kawan...

'Mereka' pun sesungguhnya ingin bertaubat,
tapi bukannya mencoba tuk mendekat,
namun kenapa Anda malah melaknat?

Teringat sebuah nasehat:
Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya. Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam, jauh dari sunnah, jauh dari hidayah, tenggelam dalam dunia yang menipu, terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista.
Bukankah banyak sahabat radhiallahu 'anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khomr, bahkan pelaku kesyirikan? Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.
Bisa jadi anda salah satu dari mereka para ikhwan/akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam. Yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam Anda. Sebagaimana Anda tidak ingin orang lain menilai Anda dengan melihat masa lalu kelam Anda. Maka janganlah Anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk.
Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang. Kondisinya tatkala akan meninggal. Bukan masa lalunya. Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda "Amalan-amalan itu tergantung akhirnya"
(Ustadz Firanda Andirja)
Ada seorang muslimah dikenal, yang dulunya tidak berjilbab, lalu perlahan berjilbab 'biasa', lalu perlahan menjadi berjilbab lebar syar'i, dan sekarang berjilbab syar'i plus bercadar.

Ada seorang muslim dikenal, yang dulunya isbal, lalu beberapa lama perlahan melipat kain celananya, dan sekarang sudah memotong bagian bawah celananya hingga tidak isbal lagi.

Ada seorang muslimah dikenal, yang dulunya masih suka joget-jogetan, celana panjang ketat dan jilbab modis, tapi semakin kesini, semakin berpakaian longgar sopan, jilbab semakin syar'i, lagu-lagu ditinggalkan dan makin gemar membersamai Qur'an.

Ada seorang muslim dikenal, yang dulunya suka jepret jepret jelalatan, juga pacaran, namun semakin kesini, meninggalkan, menggantinya dengan kitab dan Quran, dan semakin rajin mempelajari peninggalan-peninggalan ulama-ulama luar biasa sepanjang zaman.

dsb.

Luarnya saja?

Alhamdulillah, tidak.

Semakin kesini, mereka semakin baik dari penampilan, ilmu, dan akhlak.

Yang dulunya mungkin dikenal dengan ahli maksiat, perlahan memperbaiki menjadi insan yang menyejukkan bila dipandang.

Saya percaya adanya proses menuju kebaikan.

Sedikit demi sedikit, namun kontinu, itu lebih menenangkan.
Mulailah dari diri sendiri, dari yang kecil, dari sekarang.

Semoga engkau akan menjadi lebih baik, saat kita bertemu lagi kelak.

Kamu berproses kan?

Selama kita masih hidup, pintu taubat masih terbuka, dan Allah Ta'ala akan mengampuni segala dosa, meski dosa kita bagai buih di lautan.

Syaratnya? Hanya perlu taubatan nasuha. Taubat dengan sesungguh-sungguhnya taubat. Taubat dengan kesungguhan hati.

Bertaubat, selagi masih belum terlambat.

Dan bantulah mereka-mereka yang ingin menjadi lebih baik. Siapa tau, darinya Anda akan mendapat hujan pahala yang tak pernah terputus.

Semoga Allah Ta'ala berikan taufik dan hidayahNya.
Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Minggu, 31 Mei 2015

Masihkah Engkau Berat untuk Menundukkan Pandangan?

"Hati-hati antum tidak akan bergetar sama sekali ketika ada wanita biasa lewat di hadapan antum atau mencoba menggoda antum. Tapi, kalau bertemu dengan wanita yang jilbabnya lebar yang panjangnya sampai ke lututnya, beda ceritanya. Hati antum akan bergetar sebagaimana ujung-ujung jilbab panjangnya bergoyang tertiup angin". (Mas Hasan al-Jaizy, di sela-sela kajiannya)

Salah satu godaan yang amat besar bagi para pemuda bahkan sebagian dari para thalibul 'ilmu adalah “rasa ketertarikan terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik wanita atau lelaki. Namun kalau kita tidak bisa memenej perasaan tersebut, maka akan menjadi malapetaka yang amat besar, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang yang kita sukai. Sudah Allah tunjukkan dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

”Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

Maka dari itu, sabagai muslim lebih-lebih untuk para thalibul 'ilmu, kita harus yakin bahwa kehormatan (iffah) dan kewibawaan (muru'ah) kita harus dijaga dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan jenis agar tidak ada mudhorot (bahaya) atau bahkan fitnah. Karena sekali kita termakan oleh fitnah tersebut, maka itu adalah sebuah tindakan 'kriminal' yang dapat mencoreng kehormatan dan kewibawaan thalibul 'ilmu. [1]

Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan. Kalau cuma sekilas saja atau spontanitas atau tidak sengaja maka tidak menjadi masalah pandangan mata tersebut, pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan namun selanjutnya adalah haram. Ketika melihat lawan jenis, maka cepatlah kita tundukkan pandangan itu, sebelum iblis memasuki atau mempengaruhi pikiran dan hati kita. Segera  mohon pertolongan kepada Allah agar kita tidak mengulangi pandangan itu. [2]

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam syairnya [3]:

Setiap bencana berawal dari pandangan mata,
Sebagaimana api yang besar berasal dari percikan bara.
Berapa banyak pandangan sanggup menembus relung hati,
Seperti  kekuatan anak panah yang lepas dari busur tali.
Seorang hamba, selama mengumbar pandangannya untuk memandang selainnya,
Maka dia berada dalam bahaya.
Ia menyenangkan mata dengan sesuatu yang membahayakan hatinya,
Maka janganlah menyambut kesenangan yang akan membawa bencana.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” [4]

Al-Imam An-Nawawi berkata: ”Makna pandangan tiba-tiba adalah pandangan kepada wanita asing/nukan mahram (ajnabiyyah) tanpa sengaja, tidak ada dosa baginya pada awal pandangan, dan wajib untuk memalingkannya pada saat itu juga. Apabila dipalingkan saat itu juga maka tidak berdosa, akan tetapi apabila terus-menerus memandang, maka berdosa berdasarkan hadits ini, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memalingkan pandangannya. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman : {قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ} ”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya” [5]

Allah berfirman :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (QS. An-Nuur : 30-31).

Ibnu Katsir berkata: Ini adalah perintah dari Allah ’azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya mukminin untuk menundukkan pandangan-pandangan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan bagi mereka. Mereka tidak memandang kecuali pada apa yang diperbolehkan bagi mereka dan untuk menundukkan pandangan dari yang diharamkan, apabila kebetulan memandang kepada yang haram tanpa disengaja maka langsung memalingkan pandangannya secepat mungkin” [6]

Ketika menjelaskan ayat ini Syaikh Ibnu Sa’di mengatakan,

عن النظر إلى العورات وإلى النساء الأجنبيات، وإلى المردان، الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة، وإلى زينة الدنيا التي تفتن، وتوقع في المحذور.

“Tundukkanlah pandangan terhadap empat hal:
Pertama, aurat orang lain (meski sesama jenis)
Kedua, wanita ajnibiyah (wanita yang bukan istri, bukan mahram)
Ketiga, laki-laki baby face yang melihatnya bisa dikhawatirkan menimbulkan godaan
Keempat, kemewahan hidup dunia yang menggoda dan menjerumuskan ke dalam hal terlarang”.

Itulah sebagian dalil yang menunjukkan haramnya memandang kepada yang tidak dihalalkan untuk memandangnya. Dan ulama telah ber-ijma’ atas haramnya memandang orang asing (bukan mahram) baik laki-laki ataupun perempuan yang sebagiannya memandang kepada yang lain jenis.

Al-Haafidh Abu Bakr Al-’Amiriy rahimahullah berkata : ”Sesungguhnya yang di-ijma’-kan oleh umat dan disepakati oleh ulama salaf serta khalaf dari kalangan fuqahaa’ dan para imam atas keharamannya adalah memandang orang asing baik laki-laki atau perempuan, sebagiannya kepada yang lainnya. Yaitu mereka yang tidak ada hubungan rahim dan nasab, dan bukan pula mahram karena suatu sebab seperti susuan yang lain – maka mereka itu haram, sebagian memandang yang lain... maka memandang dan berduaan haram atas mereka menurut kaum muslimin secara keseluruhan” [7]

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan, ”Pandangan merupakan pangkal bencana yang menimpa manusia. Sesungguhnya pandangan akan melahirkan lintasan dalam hati. Kemudian lintasan hati akan melahirkan pikiran. Pikiran akan melahirkan syahwat. Syahwat membangkitkan keinginan. Kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi tekad yang bulat. Maka apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Maka sungguh bagus suatu nasihat: kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung beban sakit setelahnya.” [8]

Semoga Allah Yang Maha Penyayang membimbing kita untuk senantiasa menjaga pandangan agar selamat dalam menapaki sisa-sisa hidup ini. Wallahul Musta’an.

Baarakallahu fiikum

Jakarta, 13 Sya'ban 1436H
______________________

[1] Faidah ringkas dari Dauroh Akademisi 12-13 Sya'ban 1436H, Kajian Kitab "Hilyah Thalibul 'Ilmi wal Muta'allim Bab 1: al-'Adabul Thalibil 'Ilmi fii Nafsihi" bersama Syaikh Kamal an-Najar dan Ustadz Fauzan, ST, Lc

[2] Ummu Zainab (remajaislam.com)

[3] Ad-Da’wa Ad-Dawa’, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah

[4] HR. Muslim no. 2159

[5] Syarhun-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim (14/139)

[6] Tafsir Ibnu Katsir (3/282)

[7] Ahkaamun-Nadhar ilal-Muharramat hal. 32

[8] Ad-Da’wa Ad-Dawa’, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah

Sebagian risalah diambil dari tulisan Faishal bin ’Abduh Qa’id Al-Hasyidi dari blog ustadz Abul Jauzaa'

Sabtu, 30 Mei 2015

Rekaman Kajian Islam Ilmiah Masjid Al-Hasanah STIS-BPS Bulan Mei 2015

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

PEKAN 1:

Senin, 4 Mei 2015 M / 15 Rajab 1436 H
[Kajian Islami Tematis]
"Tugas Malaikat yang Berkaitan dengan Manusia"
oleh Al-Ustadz Muslim
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/rTWQJD

Kamis, 7 Mei 2015 M / 18 Rajab 1436 H
[Kajian Kitab Rutin]
Pembahasan Kitab: Al-Wajiiz fii 'Aqidatis Salafish Shalih Ahlisunnah wal Jama'ah
karya Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid al-Atsari
"Kekhususan Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah"
oleh Al-Ustadz Azhar Khalid bin Seff
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/kt27th

PEKAN 2:

Senin, 11 Mei 2015 M / 22 Rajab 1436 H
((Kajian Diliburkan))

Kamis, 14 Mei 2015 M / 25 Rajab 1436 H
[Kajian Islami Tematis]
"Amalan Shalih yang Ringan yang Memiliki Keutamaan di Sisi Allah"
oleh Al-Ustadz Abu Nida Fatahullah
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/XQOpcR

PEKAN 3:

Senin, 18 Mei 2015 M / 29 Rajab 1436 H
[Kajian Kitab Rutin]
Pembahasan Kitab: Syakhshiyatul Muslim
"Bab Seorang Muslim dengan Dirinya Sendiri Bag. 8 - Sebab-Sebab Hidupnya Hati dan Gizi yang Bermanfaat Baginya 3"
oleh Al-Ustadz Ahmad Rasyid Basher
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/JfVS7h

Kamis, 21 Mei 2015 M / 3 Sya'ban 1436 H
[Kajian Islami Tematis]
"6 Penjamin Surga - Bagian 1: Jujur dalam Berbicara"
oleh Al-Ustadz Jefry Bajri
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/GVI3ab

PEKAN 4:

Senin, 25 Mei 2015 / 7 Sya'ban 1436 H
[Kajian Kitab Rutin]
Pembahasan Kitab: Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhush Shalihin
"Hadits no. 40-41"
oleh Al-Ustadz Zulfi Askar
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/hy5vyE

Kamis, 28 Mei 2015 / 10 Sya'ban 1436 H
(('Afwan Rekaman tidak Tersedia))

Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum

Sumber: 
Kajian Islam Statistik
masjidalhasanah.com

Masjid Al-Hasanah STIS-BPS
Jl. Otto Iskandardinata No.64C, Jakarta Timur, Jakarta 13330