Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2024

Surat Cinta untuk Bumi Anoa

"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama, kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu gagasan, beradu ego, beradu mulut. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."


Wakatobi (2017–2020)

Kadang, sebagai manusia, kita ingin waktu dapat melambat. Sedikit saja. Ya, setidaknya, itu terjadi pada kami. Jumat, 17 Februari 2017, Allah mengabulkan doa kami. Saya dan istri pertama kali mendarat di sebuah pulau kecil di ujung Tenggara Sulawesi Tenggara, Wangi-Wangi namanya, salah satu gugusan pulau besar dari Kepulauan Wakatobi (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko). 

Pertama kali mendaratkan kaki di Wakatobi, 17 Februari 2017

BPS Kabupaten Wakatobi, 17 Februari 2017

Pengawasan lapangan pertama di Wakatobi (Sakernas), Pulau Kapota, 18 Februari 2017

Dan di sinilah kami, 3 tahun berpetualang, mempelajari banyak hal, bertemu beragam manusia, berbagi kisah dan pengalaman, mendewasakan diri sekaligus mengistirahatkan jiwa kami yang cukup lelah dengan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya; Wakatobi, pulau yang sederhana, namun masih ramai meski matahari telah terbenam. 

Nonton pertandingan sepak bola di Pelabuhan Pangulubelo, 19 Februari 2017

Bocil Bajo main di laut, April 2017

Pertama kali jalan-jalan menyebrang Pulau Kaledupa, April 2017

Pertama kali menikmati Kasoami, Sayur Bunga Pepaya, dan Ikan Asap khas Wakatobi

Udara bersih, dingin di pagi hari, terik di siang hari dengan 'dua' matahari yang menyinari, sepoi-sepoi angin laut menyambut kami dengan ramah, seakan memeluk erat rasa penat yang kami bawa dari ibu kota; cantiknya tebing-tebing karang, indahnya kehidupan bawah laut, pesona budaya dan kuliner mampu memanjakan indera-indera kami; kecantikan, kesederhanaan, dan tradisionalitas masyarakatnya mampu mengurai benang kusut di otak kami. 

Kontrakan pertama kami, Mandati III, Wakatobi, 2017

Bapak Ibuk Oryz, pertama kali mendarat di Wakatobi, 2018

Snorkeling bareng bapak (mertua), 2018

Papa mama jalan-jalan ke Wakatobi, 2019

Tinggal di sebuah kontrakan kecil di lingkungan perkantoran yang sepi tak membuat kami, bahkan kedua orang tua kami yakin bahwa Wakatobi adalah tempat yang tepat untuk kami tinggali. Kami dikelilingi tetangga-tetangga yang baik, pemilik kontrakan yang kami anggap orang tua kami sendiri, rekan kerja yang bersahabat dan terasa kehangatannya. Lingkungan sekitar pun bikin kami makin betah, sahabat-sahabat kami di Pemerintah Daerah, teman-teman kajian Wakatobi Mengaji, ibu-ibu Arisan komplek BTN, responden-responden ramah murah senyum dan tak enggan berbagi cerita kepada kami yang pendatang, sahabat-sahabat suku Bajo penghafal al-Qur'an, rekan-rekan mitra BPS yang tangguh, teman-teman pegiat wisata dan kuliner Wakatobi, teman-teman driver rental, teman-teman BEKRAF dan dokter magang, konsumen Dapur Norma, dan semua sahabat serta keluarga kami di sana yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Mereka semua memberi warna yang berbeda yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Warna yang sungguh indah tentunya.

Bersama para pekerja anak di Danau Tailaronto'oge pulau Kapota, Mei 2019 (Lihat artikel)

Belanja ikan segar di Pasar Sore Marina tiap sore

Lure Krispi Dapur Norma masuk pameran kuliner Wakatobi Wave 2019

Karena lagi perjadin, minta tolong teman kantor jaga stand Dapur Norma yang dikunjungi Bupati, terima kasih Yusuf, dkk.

Wakatobi, membelai jiwa kami yang kelelahan, mengajari kami untuk kembali bersyukur, sekalipun terhadap hal paling sederhana. Rasanya, waktu berhenti sejenak saat itu. Sungguh, Wakatobi adalah senyaman-nyamannya zona nyaman.

Sarapan sehabis upacara bersama Bupati, wkwk

Bakar ikan dengan pagar kantor, wkwk

Hari terakhir bersama tim hebat BPS Wakatobi, hiks

Terima kasih Wakatobi, telah menerima kami dan menyajikan kenangan indah tak terlupakan. Semoga kami bisa berjumpa kembali, jika Allah menghendaki.

Kendari (2020-2024)

Saya sampai di kota ini dengan bau tanah sehabis hujan. Rumah batu, pasir kuning, debu jalanan, aspal yang panas, kendaraan bermotor kecepatan tinggi yang menyalip dari lajur kiri (haduuh, harusnya menyalip dari kanan bos), tipikal perkotaan pada umumnya dengan pengemudi yang cukup ugal-ugalan, batinku. Perasaan kami masih campur aduk setibanya di sini, antara rindu dengan Wakatobi, kesedihan meninggalkan keluarga di Wakatobi, bahagia telah naik satu level di kehidupan karir kami, capek berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai rasa takut/khawatir atas apa yang akan kami hadapi selanjutnya di tempat yang baru ini.

Pindahan dari Wakatobi, 2020

Benar saja, tak sampai dua bulan kami tinggal di ibu kota yang tak ramai dan tak ramah ini (kesan pertama kami), badai pandemi menyerang ibu pertiwi. Wabah antah berantah yang cukup mematikan tiba-tiba menjangkiti negeri kami. Tinggal di rumah saja jadi kebiasaan baru. Hampir dua tahun kami tak banyak bersosialisasi dengan orang sekitar selain dengan rekan kantor kami (meski kebiasaan ini sebenarnya berlanjut selama 4 tahun kami di sini, karena tinggal di lingkungan kos yang pergantian penghuninya cukup cepat). Namun, di sinilah titik balik berubahnya kesan pertama kami. 

WFH tiap hari, 2020-2021

Pertengahan 2021 merupakan tahun yang berat bagi kami. Di tengah pekerjaan yang membabi buta, Delta ternyata bertamu ke tempat kami, bahkan keluarga kami. Sungguh rasanya ibarat gladi sakaratul maut. Di tengah kesulitan yang kami hadapi, tak disangka-sangka, rekan kerja kami, gotong royong membantu kami. Di saat kami tak memiliki satupun sanak saudara ataupun dekat dengan orang tua di sini, mereka dengan sukarela menawarkan posisi sebagai saudara dan orang tua kepada kami. Menjadi garda terdepan yang menolong kami. Dari mencarikan obat yang mulai langka keberadaannya, mengirimi kami minuman herbal nan ampuh meredakan batuk kering kami, membelikan air galon yang mulai mengering, memberikan segala macam amunisi makanan dan minuman serta alat kesehatan yang alhamdulillah mempercepat proses pemulihan kami. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang berlipat.

Lembur DDA pertama kali, 2021

Kerja bersama tim super BPS Sultra

Di sinilah pula kami menemukan bapak/ibu yang menjadi panutan, teman-teman yang kompak, kakak-kakak yang mengayomi, adik-adik tangguh yang kami percaya, serta orang-orang yang membuka wawasan dan cara berpikir kami yang masih sangat sempit kala itu. Meski semua berawal dari dunia kerja, namun seiring berjalannya waktu, mereka bermetamorfosa menjadi keluarga baru kami. Di kota yang awalnya kami anggap kota yang tak ramah. Namun ternyata, kota ini menyadarkan kami bagaimana cara berbahagia di lingkungan yang lebih beragam dengan segala macam kompleksitasnya. Mensyukuri setiap momen di tengah cepatnya waktu yang berlalu. Tak selamanya kami tinggal di lingkungan sederhana seperti di perdesaan, pun tak selamanya kami tinggal di lingkungan yang kompleks seperti perkotaan.






Work Life Balance

Kota Kendari mendidik kami, menjadi manusia yang lebih tangguh, mandiri, bisa diandalkan, mampu memberi manfaat kepada sekitar, dan terus belajar menjadi lebih baik. Di sinilah kami menyadari bahwa belajar bukan hanya dominasi mata, telinga, otak dan indera-indera fisik lainnya. Belajar juga merupakan pekerjaan hati. Belajar tak terbatas pada pelatihan, pendidikan formal, maupun kursus-kursus dan webinar. Memaknai kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran, merenungi kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Di Kendari inilah, kami lebih banyak belajar, belajar tentang makna kehidupan yang sesungguhnya dan bagaimana agar bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Wonua Momahe, 2023

Labengki-Sombori, 2023

Terima kasih Kendari, telah menerima kami, mengayomi kami, dan menyajikan wejangan yang menempa tekad kami. Semoga kami bisa bersua kembali, jika Allah menghendaki.

April 2024, Meninggalkan Bumi Anoa

Terharu banyak yang mengantar :')

Benarlah segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya. Saatnya kami berpisah kembali dengan orang-orang yang kami cintai. Wakatobi, lalu Kendari, ke tempat yang akan membawa kami ke persinggahan selanjutnya, di kehidupan kami yang lain lagi. Namun yang pasti, saat kami bersama kehidupan kami yang lain, tetap kami nyatakan mereka keluarga kami. Keluarga yang memang begitu adanya.

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya.

Sejalan dengan waktu yang bergulir, kita pasti akan bertemu peubah dan parameter baru, dengan atau tanpa disengaja. Hingga kehidupan yang terasa linear menjelma menjadi sistem persamaan non-linear yang mesti didapatkan solusinya.

Nikmatilah. Karena pada masa itu kau akan semakin terlatih, menemukan keseimbangan.

Maknailah, dengan sederhana dan bersahaja. Karena di titik manapun engkau berada, di sana akan selalu tertanam doa dan cita-cita, in syaa' Allah.

"Semuanya akan terasa indah, apabila kita jalani dengan ikhlas. Sebab, pekerjaan paling sulit bagi manusia adalah mensyukuri segala nikmat Allah Ta'ala. Bukan soal nilai rupiah, lebih dari itu bagi saya. Ini soal hakikat. Melalui perjalanan ini, saya banyak mendapatkan pelajaran.

Karena setiap langkah adalah karya, karena setiap nafas adalah makna. dan di setiap pikiran selalu ada rencana. Karena dunia ciptaan-Nya ini sungguh indah, seindah-indahnya gradasi warna dalam batas cakrawala" - Ryan W. Januardi

Terima Kasih Wakatobi, Terima Kasih Kendari, Terima Kasih Bumi Anoa

Salam hangat dari kami, semoga Allah selalu melindungi kita semua di manapun berada

Bangil, 28 Ramadhan 1445 H

Recap video (oleh Damara Utama):


*ah, saya seperti baru saja terbangun dari mimpi yang begitu panjang,

Pantai Teluk Ceri Toronipa, 2023

Rabu, 15 Juli 2015

Hidayah dan Cinta

Lanjutan dari tulisan Ranting? Apalah Artinya,

Di mana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. That’s life.

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s more about life.

Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi
Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir.

Mereka pun datang silih berganti
Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati.
Ada yang telah lama berjalan beriringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya
Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.
Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan
Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Di mana ada awal, pasti akan ada akhir.
Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya.

Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru… well, That’s life must be

(Rumaysho.com. Ada Pertemuan, Ada Perpisahan)

Sahabatku,

Selama hidup ini, sudah banyak saya menyaksikan dan mendengarkan, kisah-kisah yang luar biasa, terkait cinta.

Ada yang dulunya jauh bergelimang maksiat, jauh dari ibadah, jauh dari sunnah, namun seiring waktu, beliau berubah, karena bertemu dengan seseorang yang luar biasa, yang menumbuhkan benih-benih cinta, yang mengantarkannya pada hidayah Allah Azza wa Jalla.

Dari cinta, seseorang bisa berubah begitu jauhnya. Dan dari cinta, seseorang bisa berubah begitu jauhnya. Ada lagi yang lainnya, karena cinta, hilang sudah ilmu dan amal yang dulu telah ia mengetahuinya. Cintanya jatuh pada tempat yg salah. Menyebabkannya terombang ambing, pada fitnah dunia. 

Mungkin yang dahulu dicinta, yang menjadi penyalur hidayah itu kini pergi sudah.. pergi menghilang bersama gemerlap dunia.

Orang yang mencinta akan dikumpulkan bersama orang yang dicinta di akhirat kelak.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Kalau begitu engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
(HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Yang kami harap, semoga persaudaraan kita tidak hanya di dunia, namun berakhir pula di jannah. Di dunia -selama hidup- semoga kita saling menghendaki kebaikan satu dan lainnya.

Maka pilihlah cinta, yang dapat mengantarkanmu pada kebaikan.

Dan semoga kita, bisa istiqomah dalamnya, hingga ajal menjelang.

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi 'ala diinik ”
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Teruntuk saudara-saudara dan sahabat-sahabatku seiman, yang saya cintai karena Allah :)


Bangil, 28 Ramadhan 1436 H
Sambil mendengarkan kajian Ust. Armen Halim Naro rahimahullah, Untukmu yang Berjiwa Hanif

Ranting? Apalah Artinya

Lanjutan dari tulisan Harap yang Kadang Tak Terungkap,



Hidayah itu seringnya malah didapatkan orang lain dari hal-hal kecil.

Bahkan hanya dari lembutnya perkataan,
Bahkan hanya dari sekadar senyuman terbaik,
Bahkan hanya dari memberi minum seekor anjing,
Bahkan hanya dari pemberian kecil seorang sahabat,
Bahkan hanya dari wanginya kamar mandi masjid,
Bahkan hanya dari mengeluarkan lalat yg tercelup di air,
Bahkan hanya dari melihat seseorang sedang sholat di rerumputan hijau di pinggir jalan,
dsb.

Maka tak selayaknya seorang muslim meremehkan kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin dengannya menjadi jalan hidayah bagi orang selainnya.

Dan dengannya pula mengantarkan diri mendapat ridhaNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَي ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ المُسْلِمِينَ لَا يُؤذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ

“Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata,

‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’

Akhirnya orang tersebut dimasukkan ke dalam surga.”
(HR Muslim no 4744. Penomoran via lidwa)

Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Harap yang Kadang Tak Terungkap

Lanjutan dari tulisan Bunga,

Pernah berkata seorang akhwat,
"Yan, kenalin dong sama temenmu. Kan temenmu banyak jilbab lebar gitu."
Tiba-tiba orang itu berkata seperti itu.
Beliau memang masih tampil 'kayak gitu'. 
Tapi dari kata-katanya menyimpan harapan yang tak terungkap.

Pernah suatu ketika, saat saya masih begajulan,
datang ke sebuah pengajian,
namun yang ada malah tatapan tak mengenakkan,
memang mungkin penampilan masih kurang meyakinkan,
namun saya datang untuk belajar wahai kawan...

'Mereka' pun sesungguhnya ingin bertaubat,
tapi bukannya mencoba tuk mendekat,
namun kenapa Anda malah melaknat?

Teringat sebuah nasehat:
Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya. Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam, jauh dari sunnah, jauh dari hidayah, tenggelam dalam dunia yang menipu, terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista.
Bukankah banyak sahabat radhiallahu 'anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khomr, bahkan pelaku kesyirikan? Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.
Bisa jadi anda salah satu dari mereka para ikhwan/akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam. Yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam Anda. Sebagaimana Anda tidak ingin orang lain menilai Anda dengan melihat masa lalu kelam Anda. Maka janganlah Anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk.
Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang. Kondisinya tatkala akan meninggal. Bukan masa lalunya. Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda "Amalan-amalan itu tergantung akhirnya"
(Ustadz Firanda Andirja)
Ada seorang muslimah dikenal, yang dulunya tidak berjilbab, lalu perlahan berjilbab 'biasa', lalu perlahan menjadi berjilbab lebar syar'i, dan sekarang berjilbab syar'i plus bercadar.

Ada seorang muslim dikenal, yang dulunya isbal, lalu beberapa lama perlahan melipat kain celananya, dan sekarang sudah memotong bagian bawah celananya hingga tidak isbal lagi.

Ada seorang muslimah dikenal, yang dulunya masih suka joget-jogetan, celana panjang ketat dan jilbab modis, tapi semakin kesini, semakin berpakaian longgar sopan, jilbab semakin syar'i, lagu-lagu ditinggalkan dan makin gemar membersamai Qur'an.

Ada seorang muslim dikenal, yang dulunya suka jepret jepret jelalatan, juga pacaran, namun semakin kesini, meninggalkan, menggantinya dengan kitab dan Quran, dan semakin rajin mempelajari peninggalan-peninggalan ulama-ulama luar biasa sepanjang zaman.

dsb.

Luarnya saja?

Alhamdulillah, tidak.

Semakin kesini, mereka semakin baik dari penampilan, ilmu, dan akhlak.

Yang dulunya mungkin dikenal dengan ahli maksiat, perlahan memperbaiki menjadi insan yang menyejukkan bila dipandang.

Saya percaya adanya proses menuju kebaikan.

Sedikit demi sedikit, namun kontinu, itu lebih menenangkan.
Mulailah dari diri sendiri, dari yang kecil, dari sekarang.

Semoga engkau akan menjadi lebih baik, saat kita bertemu lagi kelak.

Kamu berproses kan?

Selama kita masih hidup, pintu taubat masih terbuka, dan Allah Ta'ala akan mengampuni segala dosa, meski dosa kita bagai buih di lautan.

Syaratnya? Hanya perlu taubatan nasuha. Taubat dengan sesungguh-sungguhnya taubat. Taubat dengan kesungguhan hati.

Bertaubat, selagi masih belum terlambat.

Dan bantulah mereka-mereka yang ingin menjadi lebih baik. Siapa tau, darinya Anda akan mendapat hujan pahala yang tak pernah terputus.

Semoga Allah Ta'ala berikan taufik dan hidayahNya.
Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Bunga


Tiap orang memiliki kekaguman,
Ada yang hanya disimpan di tempat terdalam,
Ada yang disampaikan untuk berusaha mendapatkan,
Ada yang hanya sebatas menjadi sosok pembentuk semangat,
Hingga ada yang menjadikan sebagai standar idaman.

Tiap orang punya cara mengungkapkan kekaguman,
Ada yang mencoba menapaki jejak sang pujaan,
ada yang mencari cari jati diri sesungguhnya dari sosok impian,
Di ujung jalan kekaguman, terkadang berubah menjadi jalan cinta kecemburuan,
Berbunga bunga jika ternyata yang dikagumi memberi respon,
Hingga cemberut dan bete kala yang dikagumi merespon yang lainnya.

Tiap orang memiliki kekagumannya,
ada yang menjadi baik karenanya,
pula ada yang jatuh ke jurang bersamanya,
Maka berdoalah agar kekaguman anda membawa kebaikan di dunia dan akhirat.

Terinspirasi dari obrolan ringan bersama beberapa kawan
Ditulis di Bangil, 28 Ramadhan 1436 H

Bersambung

Minggu, 12 Juli 2015

Hidup Normal

Saking bingungnya mau nulis apa, di saat lagi mau nulis, akhirnya muncul-lah sebuah ide untuk menuliskan tentang hidup saya yang sangat-sangat normal akhir-akhir ini. Ya, Hidup Normal. Well, memang nggak menarik sih. Hidup normal? 

Buat kalian, mungkin nggak ada yang menarik dari Hidup Normal. Tapi, Hidup Normal adalah momen yang sudah lama sangat saya rindukan.

Alhamdulillah, saya sedang menikmati tinggal bersama keluarga. Setiap hari istirahat di rumah. Benar-benar menyenangkan. Alhamdulillah. Entah berapa kali, saya akan terus mengucapkan Alhamdulillah dan Alhamdulillah.

Emang, sebelum-sebelumnya kemana Ryan?

Saya nggak kemana-mana. Di sini-sini aja

Kalau dihitung-hitung, seperti sudah 3 tahun nggak tidur di rumah setiap hari (Saya yakin, banyak temen-temen lain yang lebih lama tidak tidur di rumah)

Di hari terakhir kuliah, saya langsung lepas landas ke Bangil. Dan, sejak itu saya semakin merindukan saat-saat tidur di rumah. Ya.. kuliah selesai, saya memang mendapatkan waktu normal selama di Bangil, tidur malam dan pagi bangun. Waktu normal yang tidak saya dapatkan di masa-masa kuliah. Meskipun beberapa hari lalu, saya masih membawa kebiasaan buruk selama di Jakarta, malam bangun, pagi juga bangun, singkatnya nggak tidur seharian.

Hidup Normal seperti ini, bagi saya adalah nikmat yang luar biasa. Saya menikmati masakan mama saat sahur dan berbuka. Menyapa dan disapa tetangga, mengantarkan makanan ke rumah-rumah tetangga, dapet makanan dari tetangga, dikatain ganteng sama tetangga, mau dijodohin sama tetangga (yang terakhir cuma bercandaan kayaknya, haha). Shalat berjamaah dengan Mama, Papa, dan Adik. Cerita banyak hal dan tertawa dengan mereka, sampai akhirnya tidur lelap. Setiap hari... Setiap hari... Setiap hariiiii...

Saya juga punya adik laki-laki (sekarang). Kemarin dia lagi galau mau kuliah dimana, dia diterima di Politeknik Negeri Malang dan Sekolah Tinggi Teknik Nuklir-BATAN Yogyakarta (ga kebayang kalo dia sampai nyiptain senjata nuklir :v), sempat gagal di SBMPTN juga. Tapi sekarang dia sudah mantap kuliah di STTN-BATAN di Yogyakarta. Artinya, Mama dan Papa di rumah akan kesepian lagi, ditinggal dua anaknya yang merantau ke tanah orang. Setelah liburan berakhir, rasa rindu ke rumah sepertinya akan meningkat berkali-kali lipat dari biasanya :'

Saya juga bersenang-senang dengan sahabat-sahabat saya. Ahh.. membicarakan dan menertawakan banyak hal. Saya kembali bisa tertawa yang membuat saya tidak ingin berhenti. Bebas ngobrol apa saja. Menertawakan apapun. Mengalir begitu saja. Melepaskan semua masalah.

Ahh iya satu lagi. Makanan. Haha, tentu saja, dengan harga lebih murah dan rasa lebih enak. Wah, saya gendut? Well, belum ada perubahan, masih langsing-langsing aja, meski udah makan banyaaaaak di sini, mungkin gara-gara kurang tidur teratur kali ya. Ahh, semua serba enak disini. Saya masih punya banyak waktu untuk kuliner, jadi tidak perlu terburu-buru.

Macet? Apa itu macet? Alhamdulillah di sini tidak pernah macet. Ya mungkin karena Bangil adalah kota yang lurus-lurus saja (1 jalan utama). Tapi yang perlu diwaspadai di jalanan sini adalah kendaraan-kendaraan besar yang buas dan siap menerkam mangsanya apabila kita tidak berhati-hati dalam berkendara. Namun, saya bersyukur karena masyarakat disini cukup sadar diri untuk tertib berlalu lintas.

Apa semua berjalan lancar? Yang tidak lancar pun juga ada. Tidak enak juga ada. Saya nggak perlu menulis sesuatu yang nggak enak. Karena yang nggak enak di sinipun, saya rasakan juga di tempat lain. Jadi, kalau bahas yang nggak enak aja, nanti yang enak-enak jadi nggak berasa enak, hehe.

Inilah, Hidup Normal bagi saya.  Ketika saya bisa bersama dengan keluarga, sahabat dan orang yang kita sayangi. Menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang. Yakin, tidak ada apapun yang tidak bisa dihadapi karena kita tidak sendiri. Bagian dari hidup normal saya bukan berarti tidak ada masalah loh ya. Tapi apapun masalah itu, ya dinikmati saja. Enjoy~

Jadi, ketahuan deh ya, kenapa saya jadi jarang nulis akhir-akhir ini? Yaa, karena saya sedang sangat menikmati hidup normal ini. Saya baik-baik saja, dan bahagia. Bahagia itu sederhana, bukan? Semoga Kalian juga bahagia dengan apapun yang kalian jalani saat ini ya.

Selamat Hidup Normal! Dan.. jangan lupa bahagia! :)

Senin, 06 Juli 2015

Rumah

"Bagi saya, rumah adalah mereka. Karena mereka adalah tempat saya pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Mereka yang selalu melindungi kita, menawarkan kenyamanan, dan menanam kebahagiaan. Mereka lah keluarga. Mereka lah, Mama, Papa, dan Adik laki-laki saya" - Koh
Papa dan Mama telah ikhlas menjalani semua hidup ini. Bonus hidup tak terhingga, yang mereka lakukan sekarang adalah  menunggu di sebuah rumah yang dibangun dengan hasil keringat yang telah senja, menunggu petang dan malam. Tujuan kedua orang tua saya bersusah payah membangun rumah ini adalah wadah supaya keturunannya berkumpul melebur rindu satu sama lain.

Supaya anak dan cucu mereka tahu jalan pulang ke rumah...

Itulah niat baik Papa...

Itulah wujud cinta kasih Mama...



Waktu mungkin telah berubah banyak hal dalam dunia, tapi cinta Papa dan Mama tidak pernah berubah, mereka selalu menceritakan bagaimana yang terjadi selama saya berada di tanah orang, tak bosan pula mereka mendengarkan celotehan anaknya yang bahkan menelepon mereka saja jarang-jarang, duh dari cerita itulah saya memahami cinta sesungguhnya. 

Meski Papa, banyak diam kini, dia lebih asyik di depan televisi sambil sesekali makan keripik singkong rasa balado. Sedangkan Mama duduk di samping Papa menemani sang suami tercinta. Masa tua yang indah.. tapi, mereka tidak bisa berbohong, meski ada saya dan adik. Kerinduan besar tersimpan rapat di hati Mama dan Papa.

Mereka... menunggu pintu diketuk, lalu... mendapatkan anak mereka di daun pintu...

menunggu anak-anak mereka agar bisa dipeluk...

menunggu cerita anak-anak tentang dunia...

Menunggu anak-anak mereka untuk makan bersama dalam satu hidangan, sambil bercengkerama bermacam hal...

Menunggu untuk tertawa bersama...

Menunggu untuk dicintai lagi, seperti ketika cinta anak-anak mereka pada saat belum terbagi dengan kesibukan kuliah dan berbagai kesibukan dunia... Ketika cinta anak-anak mereka saat masih ingusan, perasaan dibutuhkan sang anak seperti mereka masih berseragam putih merah... seperti ketika anak-anak mereka duduk rapi dengan hidangan untuk berbagi makanan, dengan muka penuh cinta...

Ma, Pa.. Ryan sudah di rumah sekarang.. :')

Bangil, 20 Ramadhan 1436H