Sabtu, 30 Mei 2015

Rekaman Kajian Islam Ilmiah Masjid Al-Hasanah STIS-BPS Bulan Mei 2015

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

PEKAN 1:

Senin, 4 Mei 2015 M / 15 Rajab 1436 H
[Kajian Islami Tematis]
"Tugas Malaikat yang Berkaitan dengan Manusia"
oleh Al-Ustadz Muslim
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/rTWQJD

Kamis, 7 Mei 2015 M / 18 Rajab 1436 H
[Kajian Kitab Rutin]
Pembahasan Kitab: Al-Wajiiz fii 'Aqidatis Salafish Shalih Ahlisunnah wal Jama'ah
karya Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid al-Atsari
"Kekhususan Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah"
oleh Al-Ustadz Azhar Khalid bin Seff
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/kt27th

PEKAN 2:

Senin, 11 Mei 2015 M / 22 Rajab 1436 H
((Kajian Diliburkan))

Kamis, 14 Mei 2015 M / 25 Rajab 1436 H
[Kajian Islami Tematis]
"Amalan Shalih yang Ringan yang Memiliki Keutamaan di Sisi Allah"
oleh Al-Ustadz Abu Nida Fatahullah
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/XQOpcR

PEKAN 3:

Senin, 18 Mei 2015 M / 29 Rajab 1436 H
[Kajian Kitab Rutin]
Pembahasan Kitab: Syakhshiyatul Muslim
"Bab Seorang Muslim dengan Dirinya Sendiri Bag. 8 - Sebab-Sebab Hidupnya Hati dan Gizi yang Bermanfaat Baginya 3"
oleh Al-Ustadz Ahmad Rasyid Basher
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/JfVS7h

Kamis, 21 Mei 2015 M / 3 Sya'ban 1436 H
[Kajian Islami Tematis]
"6 Penjamin Surga - Bagian 1: Jujur dalam Berbicara"
oleh Al-Ustadz Jefry Bajri
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/GVI3ab

PEKAN 4:

Senin, 25 Mei 2015 / 7 Sya'ban 1436 H
[Kajian Kitab Rutin]
Pembahasan Kitab: Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhush Shalihin
"Hadits no. 40-41"
oleh Al-Ustadz Zulfi Askar
Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/hy5vyE

Kamis, 28 Mei 2015 / 10 Sya'ban 1436 H
(('Afwan Rekaman tidak Tersedia))

Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum

Sumber: 
Kajian Islam Statistik
masjidalhasanah.com

Masjid Al-Hasanah STIS-BPS
Jl. Otto Iskandardinata No.64C, Jakarta Timur, Jakarta 13330

Kamis, 28 Mei 2015

Berbagi Faidah Berbagi Manfaat

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabat yang mulia, tabi'in, atba'u tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.

In syaa' Allah dalam blog saya ini akan saya posting berbagai faidah dari Kajian Islam Ilmiah yang diadakan rutin setiap hari Senin dan Kamis, ba'da maghrib sampai menjelang isya' di Masjid Al-Hasanah STIS-BPS, Jalan Otto Iskandardinata No. 64C, Jatinegara, Jakarta Timur, 13330, berupa rekaman audio kajian yang diteruskan dari halaman Kajian Islam Statistik. Selagi menunggu perbaikan website resmi dari Masjid Al-Hasanah STIS-BPS, masjidalhasanah.com oleh beberapa kawan, maka saya akan mencoba untuk berbagi faidah dan manfaat melalui blog pribadi saya ini.

Namun, satu hal yang perlu kita perhatikan bersama bahwa halaman ini hanyalah sebagai jalan alternatif dalam menuntut ilmu, bukan jalan yang paling utama. Sehingga dengan adanya halaman ini -dan halaman-halaman majelis ilmu yang lainnya- tidaklah dimaksudkan dengannya sebagai sebuah kecukupan untuk mempelajari ilmu. Karena itu kami sama sekali tidak membenarkan seorang muslim yang hanya mencukupkan dirinya untuk mengambil ilmu melalui halaman2 di sosial media lalu berasa cukup dengannya sehingga dia lalai dari menghadiri majelis ilmu.

Rasulullah bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i), Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” - [HR. Muslim no. 2699].

Semangat dalam menuntut ilmu agama harus lebih besar dari menuntut ilmu dunia. Karena ilmu agama menentukan kebahagiaan dunia dan akhirat, sedang ilmu dunia hanya untuk kebahagiaan dunia saja.

Semoga kita semua dimudahkan langkahnya dalam menghadiri taman-taman surga ini.
Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum

Jakarta, 10 Sya'ban 1436H

Sabtu, 04 April 2015

Tenangkanlah Hatimu

Roda kehidupan terus menggelinding. Banyak cerita dan episode yang dilewati pada setiap putarannya. Ada sedih, ada senang. Ada derita, ada bahagia. Ada suka, ada duka. Ada kesempitan, ada keluasan. Ada kesulitan, dan ada kemudahan. Tidak ada manusia yang tidak melewatinya. Hanya kadarnya saja yang mungkin tidak selalu sama. Maka, situasi apapun yang tengah engkau jalani saat ini, tenangkanlah hatimu...

Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karena kehilangannya. Maka, episode apapun yang sedang engkau lalui pada detik ini, tenangkanlah hatimu...

Cerita tidak selalu sama. Episode terus berubah. Berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik. Bertukar-tukar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang maju, kadang mundur. Itulah kehidupan. Namun, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita; yaitu, hati yang selalu tenang dan tetap teguh dalam kebenaran…

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)

Saudaraku, ketenangan sangat kita butuhkan dalam menghadapi segala situasi dalam hidup ini. Terutama dalam situasi sulit dan ditimpa musibah. Jika hati dalam kondisi tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada jalur yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi. Dan dengan itu lah kemudian –insya Allah- kita akan meraih keuntungan.

Allah berfirman:“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)

Sumber: tulisan oleh Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc 

Jumat, 03 April 2015

Tips Memasak di Kamar Kos Ala Koh Ryan [Part 1]

Jaman saya SD, saya sudah suka belajar masak, karena dulu sering bantu-bantu di dapur (maklum di rumah nggak ada anak perempuan yang bantuin Mama di dapur, jadi karena kebiasaan disuruh bantuin, jadi paham dikit lah barang-barang di dapur). Saya masih ingat masakan pertama yang saya buat ketika kelas 3 SD... Air. Masih gampang memang, tapi namanya tahap belajar kan nggak mungkin saya bisa langsung masak mi rebus ala tukang nasi goreng pinggir jalan yang rasanya jauh lebih enak daripada bikin mi rebus instan sendiri. Di kelas 6 SD saya sudah bisa masak nasi, mi instan, telur orak-arik, ceplok, dadar, tempe dan tahu goreng. Menginjak SMP saya mulai bereksperimen dengan sayur mayur, ikan, dan ayam. Pas SMA saya mulai belajar cara memasak ala tukang nasi goreng, yang rasanya selalu lebih enak daripada kalo kita bikin sendiri, dan sampai saya sudah kuliah sekarang ini, cara memasak itu masih belum bisa saya kuasai, dan masih menjadi misteri ._.

Oke, saya tekankan dulu ya, lelaki suka masak itu bukan hal yang aneh menurut saya. Nggak cuma perempuan yang boleh suka masak sebenarnya. "..Lelaki juga harus bisa masak. Kenapa? kalo udah berkeluarga (aamiin) dan istri lagi sakit atau hamil dan butuh istirahat, masa' iya kita sebagai suami (aamiin) maksa-maksa dia buat masakin kita, cuma buat memanjakan lidah dan perut kita? Sedangkan mereka juga butuh dimanjakan... (ceilah)... terus, kadang suami juga lebih jago masak daripada istri. Kita juga bisa menggunakan momen memasak bersama kayak gitu sebagai kesempatan untuk bercengkrama dengan istri sehingga terciptalah suasana yang akan menambah rasa cinta di hati masing-masing... (klepek-klepek)" - ini kata bapak-bapak yang jualan bubur mesir (yg bikin bapaknya loh) temen ngobrol saya pas kajian di Slipi dulu, hehe. 

Terinspirasi juga dari teman kajian saya dari IPB, Usamah, dia laki, sering bantu Ummi nya masak, pernah suatu ketika, pas istirahat kajian dia ngajak saya makan siang bareng-bareng teman-teman yang lain, majlas istilahnya, dia tawarkan bekal makan siangnya, nasi dengan lauk rendang. Rendangnya masakannya sendiri, bikinnya di dapur kosannya lagi. Rasanya top! Nggak cuma masak rendang, dia pernah memberi saran ke bapak-bapak jual serabi biar serabinya lebih lembut ada teknik-tekniknya, dia tahu, bahkan lebih ahli dari bapak-bapak jual serabi. Keren lah.

Oke, kenapa tiba-tiba saya nulis ginian. Ya, saya cuma bosen di kosan, apalagi semester 6 ini makin banyak liburnya. Jadi, tadi pagi saya coba aja eksperimen ini di kamar kos, terus saya coba bikin tulisannya juga, hoho. Dengan harapan bisa nambah referensi temen-temen yang baca ini :v *like a pro*

Iya. tips ini khusus untuk di kamar kos. Sekali lagi, kamar kos. Kamar. Bayangkan kamar tidur Anda, dibuat untuk masak memasak. Tips ini akan sangat cocok untuk temen-temen yang bernasib seperti saya. Hanya ada kamar kos. Tidak ada dapur pribadi atau dapur umum (ada dapur sih, cuma kurang sreg aja mau pakai dapurnya, kurang higienis sepertinya).

Sebelumnya, saya akan ceritakan sedikit kondisi di kamar kos saya. Kamar kos yang saya tempati, miliknya Pak Haji Anang, satu rumah isi 32 kamar. Satu kamar ukuran sekitar 3 x 3 meter. Ada satu kamar mandi kecil di dalam.  Sewa kos nya 700ribu per bulan, tapi saya  bayar per 3 bulanan jadi 650 ribu per bulannya. Deket masjid, alhamdulillah. Suasana di dalam kamar, ada satu rak 3 laci, satu rak buku 4 susun (rencana mau nambah lagi, udah nggak cukup buat naruh buku-buku yang tercecer), satu rak susun 3 yang isinya perabotan makan (nah ini nih markasnya senjata buat masak hari ini), satu lemari besar pakaian, dua box kecil, dan satu spring bed. Bisa bayangin dong ya, suasananya seperti apa di dalam. *No pic ya, lagi berantakan, tiap hari berantakan sih*

Jadi, bagaimana biar bisa tetep masak di kamar yang terbatas, Tanpa membuat kamar berbau asap dan berasa seperti dapur? Yang pasti, barang yang wajib ada di kamar adalah:
  • Rice Cooker. Saya pakai rice cooker ukuran kecil. Selama 3 tahun tidak digunakan akhirnya terpakai juga kamu, nak :v
  • Heater. Heater punya saya ukuran kecil juga. Dan selama 3 tahun ini, heater ini sudah banyak makan asam garam bersama saya dalam memasak mi instan :v
  • Air minum. Biasakan memasak apapun menggunakan air minum ini ya. Selain lebih higienis juga lebih sehat. Takutnya kalau saat proses masak tidak terlalu lama, air nya sudah pasti matang gitu.
  • Untuk yang lain-lain, sesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan. Mungkin mau bawa dispenser, kulkas, kompor listrik, atau lain-lain. Tapi, di kamar saya yang pasti hanya ada tiga barang itu dan barang tambahan sbb: piring, sendok-garpu, gelas, pisau & gunting.

Buat yang baru pertama kali ngekos, memang persiapan perangnya agak dilengkapi ya. Nggak perlu banyak yang penting sesuai kebutuhan. Yang pasti sebelum masak, pastikan Buka jendela kamar lebar-lebar. Buka pintu kamar lebar-lebar. Biar udara di dalam kamar bisa bertukar ke luar.


Dan aturan penting setelah memasak adalah, jangan lupa untuk cuci-cuci. Saya cuci perabot memasak di dalam kamar mandi. Bau masakan dong kamar mandinya? Enggak lah. Setelah cuci-cuci, semua perabot di lap sampai bersih dan dimasukkan ke rak yang sudah disediakan. Setelah itu, bersihkan kamar mandinya. Digosok-gosok pakai karbol biar nggak bau dan kembali bersih.

Biar kamar nggak berasa seperti dapur, simpan semua peralatan memasak dalam rak. Saya pribadi sebenernya nggak terlalu suka dengan kamar yang berasa dapur. Semuanya numplek blek jadi satu. Tapi namanya juga iseng-iseng ya kapan lagi kayak gini, haha

Nah, makanan apa saja yang bisa dimasak di kamar kos an yang tidak berdapur & tanpa asap dengan peralatan di atas?

1. Mi Instan

Lumrah lah ya. Mi instan bisa dimasak dengan heater. Caranya sama seperti masak menggunakan kompor, cuma kompor dan pancinya diganti pakai heater.

TIPS 1 (kalo lagi rajin cuci-cuci)

1. Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Tuang air minum ke dalam wadah heater
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Tunggu sampai air dalam heater berbuih
5. Masukkan mi dan masak sampai matang. Lebih lama dibandingkan dengan menggunakan kompor. Kira-kira 5 – 10 menit an lah.
Buat variasi, bisa dimasukin telor, bakso, atau sayur. Sajikan bersama bumbu kemasan yang sudah tersedia di dalam bungkus mi instan.

TIPS 2 (kalo lagi males cuci-cuci)

1. Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Tuang air minum ke dalam wadah heater
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Tunggu sampai air dalam heater berbuih
5. Masukkan air yang sudah matang tadi ke dalam bungkus mi instan. Sajikan bersama bumbu kemasan yang sudah tersedia di dalam bungkus mi instan. Tunggu sampai mi instan terasa lunak dan bumbu sudah tercampur rata.

2. Telur Orak-arik

Goreng telur bisa pakai heater loh. Caranya sama seperti masak menggunakan kompor, cuma kompor dan wajannya diganti pakai heater.

1. Ingat! Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Siapkan telur, mau telur ayam, telur bebek, atau telur puyuh terserah. Yang saya gunakan telur ayam, gampang carinya.
3. Set pemanas heater ke yang sangat panas (punya saya sampai skala 4 atau 5+)
4. Masukkan mentega. Mentega ini, sebagai pengganti minyak goreng. Biarkan sampai meleleh ya.
5. Masukkan telur ke dalam heater dengan lelehan mentega tadi. Ingat! pecahkan dulu telurnya, jangan langsung dimasukkan beserta kulitnya!
6. Ini tahap yang paling mudah, terserah style kalian gimana. Acak-acak aja telurnya. Saya acak-acaknya pakai sendok, nggak mampu kalo pakai tangan kosong, saya bukan Limbad. Acak-acaknya sampai matang ya dan jangan lupa dikasih garam secukupnya, karena nggak pakai kompor, matangnya agak lama, sekitar 10-20 menitan.
7. Setelah matang, telur orak-ariknya siap disantap atau digunakan untuk masakan di bawah ini:

3. Nasi Goreng

Wuahaha. Bisa banget masak nasi goreng di dalam rice cooker. Ya bisa lah,namanya aja rice cooker, yang artinya Pemasak Nasi. Berarti nasi goreng pun juga bisa. Caranya sbb:

0. Cuci dulu rice cooker-nya. Kenapa? soalnya rice cooker yang saya gunakan ternyata belum dicuci setelah dipakai buat masak-masak pas jalan-jalan Kopma bulan Desember 2014 lalu. Baunya itu loh -.-
1. Nah, ingat lagi! Colokin listrik. Jangan sampai lupa, ini penting, nggak ada gunanya kamu melakukan langkah kedua sampai terakhir, kalo listriknya nggak dicolokin. Dan sayangnya banyak tutorial-turotial memasak menggunakan heater atau rice cooker di internet yang lupa mencantumkan langkah satu ini.
2. Masak beras sampai jadi nasi di dalam rice cooker.
3. Taruh nasi di piring, dan cuci dulu wadah yang digunakan masak nasi tadi biar bersih. Kalau saya sih, nggak pake dicuci. Langsung dipakai lagi. (*males, kan baru aja nyuci*)
4. Siapkan rice cooker. Dan kondisikan dalam keadaan “cooking” bukan “warm
5. Masukkan mentega. Mentega ini, sebagai pengganti minyak goreng. Biarkan sampai meleleh ya.
6. Masukkan irisan bawang putih. Karena bawang putih aman dimakan dalam kondisi matang atau mentah, jadi kalau proses masak di dalam rice cooker ini dirasa kurang matang, masih aman buat dimakan. Inget, tingkat panas rice cooker sama kompor beda ya. Don’t expect too much! Aduk-aduk. Saya ngaduknya cukup pakai sendok aja.
7. Masukkan telur orak-arik, irisan sosis atau kornet. Saya pilih yang siap makan, jadi udah pasti mateng nya. Aduk aduk. Sesuaikan kata hati, mau diaduk sampe kapan. Hahah. Ya kalau dirasa udah cukup, ya udah nggak usah diaduk lagi.
8. Masukkan bumbu nasi goreng instan. Ini kalau buat saya wajib hukumnya. Pilih bumbu instan yang sudah matang.  Aduk aduk.
9. Masukkan nasi. Aduk-aduk sampai semuanya tercampur rata.  Tutup rice cooker-nya sekitar 5 – 10 menit. Fungsinya, biar semua bahan tadi tercampur dan termasak dengan matang.
10. Dicicipin dulu, tapi jangan langsung dihabisin, masih panas, kasian mulutnya ntar. Kalau kurang asin, tambahin garam. Kalau kurang manis, tambahin saos atau kecap. Dan setelah itu, nasi goreng siap disantap!

Jeng..jeng..jeng
Rasa jangan ditanya, cukup saya dan Allah yang tahu

Mudah kan? hanya menggunakan heater dan rice cooker. Selain praktis juga tidak berasap banyak. Ada yang bilang, masak di heater atau rice cooker sama masak di kompor itu rasanya beda. Ya jelas beda. Tapi mau gimana lagi? Mau maksa naruh kompor di dalam kamar? Ya monggo.  Saya pribadi sih nggak suka kalau ada kompor di dalam kamar tidur. Selain karena keterbatasan ruangan, juga bukan kodratnya. Namanya juga “kos” nggak bisa disamain seperti “rumah”. Kita sebaiknya memanfaatkan apa yang ada semaksimal mungkin.

Berikut ini hikmah-hikmah yang saya dapatkan dari aktivitas memasak yang saya lakukan:

1. Saat masakan kita telah matang, maka hadirkanlah dalam benak kita betapa Allah telah menganugerahkan kepada kita nikmat untuk bisa menyelesaikan pekerjaan kita.

2. Saat memasak, cobalah untuk mengingat bahwa di luar sana masih banyak dapur-dapur yang tidak mengepul. Alangkah indahnya jika kita biasakan untuk selalu mengingat nasib fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan yang ada di lingkungan tempat tinggal kita. Jika memungkinkan, kita bisa menyisakan sedikit dari jatah makan kita untuk mereka sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka.

Nahh. itulah tips masak-memasak dari saya. Mungkin lain waktu, kalau ada waktu senggang lagi saya mau coba masak-masak yang Part 2 nya, in syaa' Allah. :)

Senin, 23 Maret 2015

Menerima Diri Sendiri

Sebagian dari mereka bilang, salah satu hal yang sulit dilakukan adalah mau menerima diri sendiri. Segala yang kita miliki, kelebihan hingga kekurangan. Memang bukan sesuatu yang mudah, terutama ketika kita selalu merasa kurang dan kurang.

Rumput tetangga, selalu terlihat lebih hijau. Katanya. Seandainya saya bisa seperti dia. Seandainya saya ini. Seandainya saya itu. Seandainya dan seandainya lainnya.

Sekarang, saya mengerti maksud mereka, tentang mau menerima diri sendiri. Segala keadaan yang kita rasakan sekarang, adalah hasil dari usaha kita. Allah tidak pernah menyulitkan makhluknya. Saya percaya itu. Dan, apapun yang ada sekarang,itu adalah yang terbaik dari usaha yang telah kita lakukan. Jika ingin keadaan yang lebih baik, maka berusahalah lebih baik lagi. Fair kan?

Jika orang lain bisa melebihi kita, itu hanya pandangan dari satu sisi kita saja. Sebenarnya, masih banyak sisi lain dari mereka yang tidak pernah kita lihat. Kalau saya jadi mereka, tentu saja saya tidak akan menunjukkan betapa susahnya bisa berada di titik sekarang ini. Makanya, kata orang Jawa, orang itu cuma bisa sawang sinawang. Yang kelihatan aja yang enak, tapi dibalik itu ada banyak rintangan yang harus dilewati. Jadi kesimpulannya? Semua orang pasti melewati suatu proses “nggak enak” untuk mencapai hidupnya yang sekarang. Jadi? Nggak perlu iri, dengki, hasad!

(Pantai Utara Karangampel, Indramayu)
Seterjal apapun jalannya, tetap hadapi!

Dan, lihat betapa Allah sudah memberikan kesempurnaan yang seimbang dalam diri kita. Melihat ke bawah sesekali, juga tidak ada salahnya. Malah, lebih seringlah melihat ke bawah ketika kita merasa kurang. Karena, masih banyak di luar sana yang hidupnya lebih kekurangan dari kita. Proses pembelajaran itulah yang terus ditempa agar kita mau menerima diri sendiri. 

Kadang, waktu mendewasakan kita terlalu cepat tentang pelajaran bersyukur. Kata Ustadz Arifin Badri -hafidzahullah-, "Jadilah orang yang selalu cerdas dalam menyikapi setiap keadaan. Di saat mendapat kenikmatan, lihatlah orang yang ada dibawah Anda, agar nikmat tersebut semakin terasa nikmat. Di saat ditimpa kesusahan, lihatlah orang yang lebih susah dibanding Anda, agar kesusahan itu berubah dan terasa nikmat. Inilah kunci hidup bahagia. Sederhana, bukan?"

Tambahan dari saya, terimalah keadaannya. Nikmati, sabar, syukur, dan semangat dalam menjalani hidup!

Sabtu, 14 Februari 2015

Skenario Anak Jalanan

Beberapa minggu yang lalu, di perjalanan dari sebuah kompleks pertokoan di pinggiran Ibu Kota menuju kos, saya melihat pemandangan yang kelu. Sebenarnya, bukan kali pertama atau kedua saya melihat ini, mungkin karena jarum jam sudah menunjuk pukul 23.00, skenario seperti itu jadi terlihat tidak biasa

Apa yaa..

Saya melihat dua remaja perempuan, masing-masing membawa anak kecil. Anak kecil yang satu digendong dengan pose yang asal-asalan, dan anak kecil yang satu lagi dituntun sambil ditarik-tarik. Saya yakin, dua anak kecil itu, umurnya belum lebih dari 2 tahun. Dan, perlakuan seperti itu pasti sangat tidak mengenakkan.

Saat itu, taksi yang saya naiki sedang berhenti karena traffic light dalam kondisi merah. Dan, dua remaja itu bergantian menghampiri taksi ini berharap mendapat belas kasih. Ya, sudah jadi rahasia umum, skenario menarik simpati orang lain dengan membawa anak kecil itu dijadikan ajang untuk mendapatkan uang. Bahasa kasarnya, ngemis.

Hngg..

“Biarkan aja mas, udah biasa kok anak-anak itu. Itu, orang tuanya ada di pojok sana tuh. Ngeliatin mereka dari jauh. Enak kan, orang tua nya duduk-duduk di pinggir, anak-anaknya disuruh ngemis. Orang tua nggak bener tuh.”, kata supir taksi dengan sedikit logat Bataknya.

Saya lihat ke arah yang ditunjuk oleh Bapak supir taksi itu, dan memang disana banyak gerombolan orang-orang dewasa. Tapi, saya sendiri juga tidak tahu apakah mereka itu orang tua sungguhan atau tidak.

Sementara itu, anak kecil itu, yang berjalannya saja masih belum benar. Kadang sempoyongan kesana, kesini, dan mau jatuh. Tiap kali anak kecil itu, berjalan miring ke kiri, oleh remaja itu langsung ditarik dan dijendul kepalanya. Sekali dua kali, anak kecil itu tertawa nggak bersalah. Tapi, lama-lama, dia nangis. Ya, benar saja nangis. Diperlakukan kasar kayak gitu. Pasti kepalanya sakit kan.

Sedangkan, anak kecil yang digendong oleh remaja satunya, tiap kali gerak sedikit langsung dicubit. Mungkin si remaja itu sudah lelah, menggendong anak kecil itu berat, sendirian lagi.

Dan, ini sudah jam berapa?

Jam 11 malam, di saat balita harusnya sudah tidur lelap di rumah. Tapi balita-balita itu masih berkeliaran di jalanan, dengan baju yang lusuh dan tanpa alas kaki! Di luar itu, hujan baru saja reda, dan dengan kaos tipis lusuh itu tidak meyakinkan sekali bisa memberi mereka rasa hangat.

Dalam skenario ini ada tiga subjek: anak kecil, remaja, dan orang tua. Jika ingin menyalahkan, setiap orang tentu tidak ingin disalahkan. Jadinya pasti saling menyalahkan satu dengan yang lain dan pada akhirnya semua akan merasa benar. Lah, jadi salah kaprah. Jadi salah siapa?

Ini bukan persoalan benar atau salah, karena putaran roda itu semakin tersistem. Dari himpitan ekonomi, nasib buruk, putus asa, sampai budaya malas. Dan ujung tombaknya adalah pola pikir yang merusak semuanya. Mungkin, ada yang merasa “toh hidup di dunia ini cuma numpang lewat saja, cepatlah berlalu dan berganti dengan kehidupan yang baru.”

Biar saja, perasaan bersalah itu muncul di masing-masing orang. Saya pun jadi ikut merasa bersalah, karena saya belum bisa melakukan apapun untuk menghentikan kesalahan yang tersistem itu.

Hanya saja, terpikir bagaimana rasanya jadi balita itu?

“Seandainya ada kesempatan untuk hidup sekali lagi, bolehkan kami memilih?” :'

Rabu, 11 Februari 2015

Menjadi Pendengar yang Baik

“Seorang penulis yang baik itu biasanya pendengar yang baik juga” - seorang teman

Oh iya. Saya bukan penulis yang baik, tapi saya ingin terus belajar menjadi pendengar yang baik. Saya juga lebih suka memulai percakapan dengan mendengarkan terlebih dahulu daripada memulai untuk membicarakan sesuatu. Kenapa? Karena mendengarkan itu sebagian dari proses mendapatkan informasi. Semakin kita menjadi pendengar yang baik, maka informasi yang kita dapatkan akan semakin banyak. Semakin banyak informasi, maka referensi tulisan pun akan bertambah. Untungnya di kita dong? hehe. Orang yang terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengarkan, biasanya ilmu yang dia punya cuma sedikit. Contohnya saya, waktu mata kuliah Survei Contoh terlalu banyak bermain sendiri daripada mendengarkan bapaknya ngejelasin, jadi bingung sendiri sekarang ._.

Pernah suatu ketika, dalam sebuah kelompok, saya melihat suatu interaksi dimana semua orang ingin berbicara dan ingin didengarkan. Lalu apa yang terjadi? Obrolannya jadi ngalor ngidul muter-muter tidak jelas. Semuanya bicara! Dan semua ingin didengarkan. Seharusnya, kalau ada transmitter mesti ada receivernya. Apa jadinya kalau banyak orang bicara tapi tidak ada yang mendengarkan? Ya jadinya seperti itu. Tidak ada informasi yang bisa masuk.

Yah, every good conversation starts with good listening. *simple but complicated*

Dan satu lagi, saya sebenarnya (jujur) merasa sangat dan sangat terganggu dengan kasus, “memotong pembicaraan”. Simpel kan? Sesimpel itu tapi bisa bikin kesel. Awalnya saya berpikir, mungkin ini masalah pribadi sendiri saja. Tapi ternyata, memotong pembicaraan orang lain bisa dimasukkan ke dalam etika yang buruk. Untuk berinteraksi dengan banyak orang, kita harus tahu cara memainkan etika yang baik supaya kita lebih dihargai. *efek habis baca jurnal tentang kepribadian dan hubungan sosial buat PKL*

Kadang kita yang malah tidak merasa, karena sudah terbiasa. Maka dari itu jangan pernah membiasakan sesuatu yang awalnya cuma dirasa-rasa. Dengarkan dulu mereka ngomong apa, baru nyahut. Semoga saya nggak termasuk ke dalam kategori orang-orang yang suka memotong pembicaraan. Kalau dengerin orang ngomong sampe ketiduran, sering. *eihh..

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya ia berkata :

وَلَا أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي الْقَوْمَ وَهُمْ فِيْ حَدِيْثٍ مِنْ حَدِيْثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيْثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوْكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُوْنَهُ

“Janganlah aku mendapatkan kamu mendatangi suatu kaum sedang mereka dalam pembicaraannya, lalu kamu memberikan kisahmu pada mereka dan memotong pembicaraan mereka dengannya, maka kamu telah membuat mereka bosan. Tapi, duduk dan diamlah. Apabila mereka memintamu untuk berbicara, maka berbicaralah kepada mereka sedang mereka mendengarkannya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6337)

Yang pasti, Ini merupakan salah satu pembelajaran untuk bisa menjadi pendengar yang baik, bro. Mari belajar bareng menjadi pendengar yang baik!

Minggu, 08 Februari 2015

Segitiga


Jika kita punya dua titik terpisah satu sama lain, maka jarak tempuh terdekat dari satu titik menuju titik lainnya adalah dengan menarik garis lurus diantara keduanya. Sedangkan kita semua pasti tahu, bahwa semakin pendek jarak tempuh, maka akan semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir, titik tujuan yang kita inginkan.

Bayangkan, jika ada dua kendaraan diletakkan di posisi awal yang sama, lalu para pengemudi diinstruksikan untuk memacu kendaraan masing-masing dengan kecepatan yang sama, menuju pos pemberhentian yang sama pula, namun diharuskan menempuh jalur berbeda, misalkan satu jalur merupakan garis lurus dan jalur lainnya memiliki beberapa belokan dan tikungan tajam. Semua juga akan mampu memastikan, bahwa mobil dengan jalur lurus akan tiba lebih dahulu di titik pemberhentian terakhir.

Kunci lekas sampai adalah, tetaplah berjalan pada garis lurus. Itu saja.

Saya ingin meminjam kaidah ketaksamaan segitiga yang sering digunakan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan matematis, bahwa jika ada tiga titik berbeda, A, B, dan C yang tak segaris, maka secara sederhana, garis (AC) akan selalu kurang dari atau sama dengan garis (AB + BC). Artinya, untuk mencapai Surabaya, dari Jakarta, kita tak perlu iseng melewati Pontianak lebih dulu, berlayar dua kali, baru kemudian berlabuh di Tanjung Perak. Kecuali, kita sedang mengalami gangguan rasionalitas pikir.

Namun tampaknya, hidup tak sesederhana ketaksamaan segitiga.

Andaikan saja dua titik yang saya sebutkan di awal tulisan dikonversikan pada ‘satuan momentum awal dan akhir kehidupan’ maka saya sudah tidak mampu lagi menjelaskan secara presisi, garis macam apa yang telah saya bentangkan selama ini, di antara kedua titik tadi. Beberapa hari lalu, disuatu malam, ketika saya berkesempatan merunut kembali setiap fase hidup yang telah dilewati, akhirnya saya sadar, telah ‘ratusan’ belokan dan ‘puluhan’ tikungan tajam yang sengaja atau tak sengaja dilintasi. Benar bahwa saya turut ‘berkendara’ bersama mereka lainnya, tapi seringkali tiba-tiba tuas kemudi terdistraksi oleh persimpangan yang tiba-tiba muncul di tengah perjalanan.

Memang, memisalkan akhir kehidupan sebagai titik tujuan akhir adalah sebuah ketepatan.

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, penyadar dari kelalaian kita.  Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

Saya belum tahu persis bagaimana kira-kira wajah titik akhir saya. 

Ada sepotong kisah tentang seorang sahabat tercinta, dulunya adalah orang yang menuntun saya untuk mengenal ajaran islam yang haq (yang benar). Awalnya, ia begitu gigih menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun selalu memberikan wejangan dan memberikan beberapa bacaan tentang Islam kepada saya. Namun beberapa tahun kemudian, kami melihatnya begitu berubah. Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah suatu yang wajib bagi seorang pria, lambat laun menjadi pudar dari dirinya. Ajaran tersebut tertanggal satu demi satu. Dan setelah lepas dari dunia kampus, kabarnya pun sudah semakin tidak jelas. Saya hanya berdo’a semoga ia diberi petunjuk oleh Allah. 

Saya beranggapan, tidak pernah ada konsep jarak pada hidup sesungguhnya. Kejam rasanya ketika kita menyebutkan bahwa si ini sedang berposisi di belakang si itu, si Fulan telah mendahului si Falan, atau beragam justifikasi posisi lainnya. Bukankah kita ini adalah para individu unik dengan titik destinasi yang bisa jadi sama namun cenderung memiliki beribu cara yang berbeda? Kita mungkin memang sedang berkendara bersama-sama, tapi tampaknya kita tidak sedang beradu kecepatan lalu mendasarkan keberhasilan pada seberapa sering kita mendahului kendaraan lain dan seberapa cepat kita sampai di garis finish. Tidak, hidup akan terasa demikian tergesa jika kita menjalaninya dengan cara seperti itu.

Hingga kini, saya masih sangat menikmati jalur yang telah dan akan saya lalui. Sepanjang perjalanan, saya terus belajar bagaimana saling berbagi bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, ketika mendadak harus kekurangan bahan bakar. Saya menyadari sepenuhnya kebodohan diri sendiri ketika ternyata kendaraan saya hanya berputar tanpa kejelasan. Saya belajar menemukan titik balik, berusaha menggenggam erat 'bara api', lalu berusaha kembali menuju destinasi. Kadang saya kelelahan, tapi tidak akan ada yang mampu mengalahkan kepuasan ketika ada sesuatu berharga yang ditemukan secara sadar dalam satu rentang perjalanan.

Ketika kita ingin berjalan di jalan yang lurus dan memenuhi tuntutan istiqomah, terkadang kita tergelincir dan tidak bisa istiqomah secara utuh. Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini? Jawabnnya adalah pada firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6). 

Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah).

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 246)

Ada konsep solusi kuadrat terkecil, berakar dari konsep ketaksamaan segitiga, untuk mendapatkan solusi optimal dari suatu permasalahan model matematis. Tapi hidup, sepertinya bukan lagi sekadar model matematis yang dapat sedemikian rupa disederhanakan dan diasumsikan kondisi awalnya. Hidup, mungkin akan lebih memberi arti jika kita tetap berjalan di atas jalan utama yang lurus (al-Qur'an dan as-Sunnah) sehingga bisa terus kokoh dalam agama.

Allahul musta'an

Selasa, 30 Desember 2014

Surat Cinta untuk Kopmers


"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu otot. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."

Awalnya saya hanya mahasiswa apatis yang tak peduli pada sekitar, awalnya saya hanya mahasiswa yang lebih suka menghabiskan waktu di kost daripada di kampus, awalnya saya hanya mahasiswa statistik yang menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan belajar tanpa mengerti bagaimana berorganisasi.

Sampai pada suatu masa ketika saya dipertemukan dengan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kopma STIS (sekarang Unit Dana Usaha) pada 20 Januari 2013, bersama 9 orang terpilih lainnya. Awalnya kita semua asing, tapi akhirnya bisa bersahabat juga di Kopma. Saya banyak belajar di sini, dari mulai adaptasi, belajar berorganisasi, belajar berwirausaha, belajar berkoordinasi, belajar jadi pemimpin, belajar peduli, belajar peka, belajar memahami orang lain, belajar mengatasi masalah, belajar bekerja sama, belajar bermuamalah, belajar kehidupan, belajar banyak hal. Kami saling berbagi, 'ilmu, cerita, canda, tawa, tangis, getir, dan sebagainya.

Dua tahun ini adalah dua tahun yang sangat berkesan, sangat membanggakan, sangat membahagiakan, dan sangat mengharukan, memiliki adik-adik, teman-teman, dan kakak-kakak yang begitu hangat, begitu peduli, begitu perhatian, begitu luar biasa, melihat kalian begitu kompak, begitu erat ikatan kekeluargaan yang terjalin. Setahun, dua tahun 'bekerja' bersama, sesulit apapun kondisinya, serumit apapun birokrasinya, tak terasa sebagai beban karena komitmen, keikhlasan, ketulusan, kesukarelaan masing-masing individu dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Berlebihan kah saya? ah, biarlah memang begitulah kenyataan dan fakta yang ada :')

Pengurus Kopma 2013/2014 dan alumni Kopma 
pada Seminar PNS Preneurship Kopma STIS 2014

Itulah yang membuat kami, Kopmers (anak-anak Kopma) tak menganggap Kopma sebagai sebuah unit, UKM, ataupun organisasi, melainkan lebih dari itu, kami adalah sebuah keluarga, keluarga Kopma :)

Saat saya bersama kehidupan saya yang lain, tetap saya nyatakan mereka keluarga saya. Keluarga yang memang begitu adanya. 

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya...

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya :)

Jakarta, 30 Desember 2014
akhir masa jabatan kepengurusan

Sabtu, 20 Desember 2014

Mencari Sahabat Dunia Akhirat, Sesosok Penuh Makna

Bismillaah,


Seorang sahabat adalah sosok yang sangat berharga bagi kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang akan terwarnai dengan hadirnya seorang sahabat di sisinya. Jika sahabatnya baik, maka ia akan menjadi baik pula. Namun bila sahabatnya buruk, maka sudah sangat mungkin terjadi ia akan terwarnai olehnya.

Indah sekali apa yang pernah Rasulullah ibaratkan tentang seorang sahabat yang beliau umpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika berteman dengan penjual minyak wangi, minimal akan mendapat dan mencium wanginya. Berteman dengan seorang pandai besi, bisa-bisa percikan apinya mengenai tubuh dan juga kedapatan bau busuknya. Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan sahabat sejati, yang memuji di belakangnya dan mengoreksi di depannya.

Ada sebuah pertanyaan, apakah persahabatanmu sekadar permainan yang bisa ditinggalkan ketika kamu merasa bosan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diyakini bahwa kehidupan yang kita jalani ibarat sebuah perjalanan. Ada pepatah mengatakan, “Carilah teman sebelum melakukan perjalanan.” Sebab teman bagi seorang musafir bagaikan kehidupan dan ruhnya.

Oleh sebab itu jika persahabatan hanya sekadar permainan, maka tak ayal perjalanan ini tidak nyaman hingga tujuan bahkan lebih buruk dari itu.

Timbul lagi sebuah pertanyaan, “Lalu siapakah yang layak menjadi sahabat saya?”

Rasulullah telah bersabda bahwa agama seseorang bisa dilihat dari agama teman dekatnya. Itu artinya bahwa perangai, perilaku, dan tabiat seseorang dapat dilihat kepada siapakah seseorang itu bergaul. Maka hendakalah berhati-hati dalam memilih seorang teman. Karena bisa jadi suatu saat engkau akan menjerit dan menyesali keputusanmu persis sebagaimana firman Allah ;

“Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.“ [Al-Furqan : 28-29]

Maka, relakah engkau akan bernasib demikian??

Alangkah indahnya seorang sahabat, yang ketika kita berbuat salah ia menegur dan menasihati, bukan karena rasa benci, namun karena begitu cintanya ia terhadap kita sehingga tak bosan-bosannya mengingatkan akan sebuah kebenaran. Namun seringkali kita terlupa, termakan oleh egoisme diri, merasa lebih baik, lebih banyak makan asam garam, sehingga menafikan sebuah kebenaran yang sebenarnya datang dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam lewat lidahnya. Alangkah indahnya seorang sahabat yang mau ikut menangis bersama, ketika melihat sahabat lainnya jatuh dalam kubangan nista dan dosa, merasa kasihan, bukan kebencian hingga bergetar bibir menahan tangis dan kesedihan, terluka jiwa yang fitrah oleh tajamnya belati hawa nafsu.

begitulah seorang sahabat sejati itu, 
untuk para sahabatku yang saya cintai,
baarakallaahu fiikum *titik dua tutup kurung*

Jakarta, dalam pekatnya malam