Sabtu, 14 Februari 2015

Skenario Anak Jalanan

Beberapa minggu yang lalu, di perjalanan dari sebuah kompleks pertokoan di pinggiran Ibu Kota menuju kos, saya melihat pemandangan yang kelu. Sebenarnya, bukan kali pertama atau kedua saya melihat ini, mungkin karena jarum jam sudah menunjuk pukul 23.00, skenario seperti itu jadi terlihat tidak biasa

Apa yaa..

Saya melihat dua remaja perempuan, masing-masing membawa anak kecil. Anak kecil yang satu digendong dengan pose yang asal-asalan, dan anak kecil yang satu lagi dituntun sambil ditarik-tarik. Saya yakin, dua anak kecil itu, umurnya belum lebih dari 2 tahun. Dan, perlakuan seperti itu pasti sangat tidak mengenakkan.

Saat itu, taksi yang saya naiki sedang berhenti karena traffic light dalam kondisi merah. Dan, dua remaja itu bergantian menghampiri taksi ini berharap mendapat belas kasih. Ya, sudah jadi rahasia umum, skenario menarik simpati orang lain dengan membawa anak kecil itu dijadikan ajang untuk mendapatkan uang. Bahasa kasarnya, ngemis.

Hngg..

“Biarkan aja mas, udah biasa kok anak-anak itu. Itu, orang tuanya ada di pojok sana tuh. Ngeliatin mereka dari jauh. Enak kan, orang tua nya duduk-duduk di pinggir, anak-anaknya disuruh ngemis. Orang tua nggak bener tuh.”, kata supir taksi dengan sedikit logat Bataknya.

Saya lihat ke arah yang ditunjuk oleh Bapak supir taksi itu, dan memang disana banyak gerombolan orang-orang dewasa. Tapi, saya sendiri juga tidak tahu apakah mereka itu orang tua sungguhan atau tidak.

Sementara itu, anak kecil itu, yang berjalannya saja masih belum benar. Kadang sempoyongan kesana, kesini, dan mau jatuh. Tiap kali anak kecil itu, berjalan miring ke kiri, oleh remaja itu langsung ditarik dan dijendul kepalanya. Sekali dua kali, anak kecil itu tertawa nggak bersalah. Tapi, lama-lama, dia nangis. Ya, benar saja nangis. Diperlakukan kasar kayak gitu. Pasti kepalanya sakit kan.

Sedangkan, anak kecil yang digendong oleh remaja satunya, tiap kali gerak sedikit langsung dicubit. Mungkin si remaja itu sudah lelah, menggendong anak kecil itu berat, sendirian lagi.

Dan, ini sudah jam berapa?

Jam 11 malam, di saat balita harusnya sudah tidur lelap di rumah. Tapi balita-balita itu masih berkeliaran di jalanan, dengan baju yang lusuh dan tanpa alas kaki! Di luar itu, hujan baru saja reda, dan dengan kaos tipis lusuh itu tidak meyakinkan sekali bisa memberi mereka rasa hangat.

Dalam skenario ini ada tiga subjek: anak kecil, remaja, dan orang tua. Jika ingin menyalahkan, setiap orang tentu tidak ingin disalahkan. Jadinya pasti saling menyalahkan satu dengan yang lain dan pada akhirnya semua akan merasa benar. Lah, jadi salah kaprah. Jadi salah siapa?

Ini bukan persoalan benar atau salah, karena putaran roda itu semakin tersistem. Dari himpitan ekonomi, nasib buruk, putus asa, sampai budaya malas. Dan ujung tombaknya adalah pola pikir yang merusak semuanya. Mungkin, ada yang merasa “toh hidup di dunia ini cuma numpang lewat saja, cepatlah berlalu dan berganti dengan kehidupan yang baru.”

Biar saja, perasaan bersalah itu muncul di masing-masing orang. Saya pun jadi ikut merasa bersalah, karena saya belum bisa melakukan apapun untuk menghentikan kesalahan yang tersistem itu.

Hanya saja, terpikir bagaimana rasanya jadi balita itu?

“Seandainya ada kesempatan untuk hidup sekali lagi, bolehkan kami memilih?” :'

Rabu, 11 Februari 2015

Menjadi Pendengar yang Baik

“Seorang penulis yang baik itu biasanya pendengar yang baik juga” - seorang teman

Oh iya. Saya bukan penulis yang baik, tapi saya ingin terus belajar menjadi pendengar yang baik. Saya juga lebih suka memulai percakapan dengan mendengarkan terlebih dahulu daripada memulai untuk membicarakan sesuatu. Kenapa? Karena mendengarkan itu sebagian dari proses mendapatkan informasi. Semakin kita menjadi pendengar yang baik, maka informasi yang kita dapatkan akan semakin banyak. Semakin banyak informasi, maka referensi tulisan pun akan bertambah. Untungnya di kita dong? hehe. Orang yang terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengarkan, biasanya ilmu yang dia punya cuma sedikit. Contohnya saya, waktu mata kuliah Survei Contoh terlalu banyak bermain sendiri daripada mendengarkan bapaknya ngejelasin, jadi bingung sendiri sekarang ._.

Pernah suatu ketika, dalam sebuah kelompok, saya melihat suatu interaksi dimana semua orang ingin berbicara dan ingin didengarkan. Lalu apa yang terjadi? Obrolannya jadi ngalor ngidul muter-muter tidak jelas. Semuanya bicara! Dan semua ingin didengarkan. Seharusnya, kalau ada transmitter mesti ada receivernya. Apa jadinya kalau banyak orang bicara tapi tidak ada yang mendengarkan? Ya jadinya seperti itu. Tidak ada informasi yang bisa masuk.

Yah, every good conversation starts with good listening. *simple but complicated*

Dan satu lagi, saya sebenarnya (jujur) merasa sangat dan sangat terganggu dengan kasus, “memotong pembicaraan”. Simpel kan? Sesimpel itu tapi bisa bikin kesel. Awalnya saya berpikir, mungkin ini masalah pribadi sendiri saja. Tapi ternyata, memotong pembicaraan orang lain bisa dimasukkan ke dalam etika yang buruk. Untuk berinteraksi dengan banyak orang, kita harus tahu cara memainkan etika yang baik supaya kita lebih dihargai. *efek habis baca jurnal tentang kepribadian dan hubungan sosial buat PKL*

Kadang kita yang malah tidak merasa, karena sudah terbiasa. Maka dari itu jangan pernah membiasakan sesuatu yang awalnya cuma dirasa-rasa. Dengarkan dulu mereka ngomong apa, baru nyahut. Semoga saya nggak termasuk ke dalam kategori orang-orang yang suka memotong pembicaraan. Kalau dengerin orang ngomong sampe ketiduran, sering. *eihh..

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya ia berkata :

وَلَا أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي الْقَوْمَ وَهُمْ فِيْ حَدِيْثٍ مِنْ حَدِيْثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيْثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوْكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُوْنَهُ

“Janganlah aku mendapatkan kamu mendatangi suatu kaum sedang mereka dalam pembicaraannya, lalu kamu memberikan kisahmu pada mereka dan memotong pembicaraan mereka dengannya, maka kamu telah membuat mereka bosan. Tapi, duduk dan diamlah. Apabila mereka memintamu untuk berbicara, maka berbicaralah kepada mereka sedang mereka mendengarkannya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6337)

Yang pasti, Ini merupakan salah satu pembelajaran untuk bisa menjadi pendengar yang baik, bro. Mari belajar bareng menjadi pendengar yang baik!

Minggu, 08 Februari 2015

Segitiga


Jika kita punya dua titik terpisah satu sama lain, maka jarak tempuh terdekat dari satu titik menuju titik lainnya adalah dengan menarik garis lurus diantara keduanya. Sedangkan kita semua pasti tahu, bahwa semakin pendek jarak tempuh, maka akan semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir, titik tujuan yang kita inginkan.

Bayangkan, jika ada dua kendaraan diletakkan di posisi awal yang sama, lalu para pengemudi diinstruksikan untuk memacu kendaraan masing-masing dengan kecepatan yang sama, menuju pos pemberhentian yang sama pula, namun diharuskan menempuh jalur berbeda, misalkan satu jalur merupakan garis lurus dan jalur lainnya memiliki beberapa belokan dan tikungan tajam. Semua juga akan mampu memastikan, bahwa mobil dengan jalur lurus akan tiba lebih dahulu di titik pemberhentian terakhir.

Kunci lekas sampai adalah, tetaplah berjalan pada garis lurus. Itu saja.

Saya ingin meminjam kaidah ketaksamaan segitiga yang sering digunakan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan matematis, bahwa jika ada tiga titik berbeda, A, B, dan C yang tak segaris, maka secara sederhana, garis (AC) akan selalu kurang dari atau sama dengan garis (AB + BC). Artinya, untuk mencapai Surabaya, dari Jakarta, kita tak perlu iseng melewati Pontianak lebih dulu, berlayar dua kali, baru kemudian berlabuh di Tanjung Perak. Kecuali, kita sedang mengalami gangguan rasionalitas pikir.

Namun tampaknya, hidup tak sesederhana ketaksamaan segitiga.

Andaikan saja dua titik yang saya sebutkan di awal tulisan dikonversikan pada ‘satuan momentum awal dan akhir kehidupan’ maka saya sudah tidak mampu lagi menjelaskan secara presisi, garis macam apa yang telah saya bentangkan selama ini, di antara kedua titik tadi. Beberapa hari lalu, disuatu malam, ketika saya berkesempatan merunut kembali setiap fase hidup yang telah dilewati, akhirnya saya sadar, telah ‘ratusan’ belokan dan ‘puluhan’ tikungan tajam yang sengaja atau tak sengaja dilintasi. Benar bahwa saya turut ‘berkendara’ bersama mereka lainnya, tapi seringkali tiba-tiba tuas kemudi terdistraksi oleh persimpangan yang tiba-tiba muncul di tengah perjalanan.

Memang, memisalkan akhir kehidupan sebagai titik tujuan akhir adalah sebuah ketepatan.

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, penyadar dari kelalaian kita.  Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

Saya belum tahu persis bagaimana kira-kira wajah titik akhir saya. 

Ada sepotong kisah tentang seorang sahabat tercinta, dulunya adalah orang yang menuntun saya untuk mengenal ajaran islam yang haq (yang benar). Awalnya, ia begitu gigih menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun selalu memberikan wejangan dan memberikan beberapa bacaan tentang Islam kepada saya. Namun beberapa tahun kemudian, kami melihatnya begitu berubah. Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah suatu yang wajib bagi seorang pria, lambat laun menjadi pudar dari dirinya. Ajaran tersebut tertanggal satu demi satu. Dan setelah lepas dari dunia kampus, kabarnya pun sudah semakin tidak jelas. Saya hanya berdo’a semoga ia diberi petunjuk oleh Allah. 

Saya beranggapan, tidak pernah ada konsep jarak pada hidup sesungguhnya. Kejam rasanya ketika kita menyebutkan bahwa si ini sedang berposisi di belakang si itu, si Fulan telah mendahului si Falan, atau beragam justifikasi posisi lainnya. Bukankah kita ini adalah para individu unik dengan titik destinasi yang bisa jadi sama namun cenderung memiliki beribu cara yang berbeda? Kita mungkin memang sedang berkendara bersama-sama, tapi tampaknya kita tidak sedang beradu kecepatan lalu mendasarkan keberhasilan pada seberapa sering kita mendahului kendaraan lain dan seberapa cepat kita sampai di garis finish. Tidak, hidup akan terasa demikian tergesa jika kita menjalaninya dengan cara seperti itu.

Hingga kini, saya masih sangat menikmati jalur yang telah dan akan saya lalui. Sepanjang perjalanan, saya terus belajar bagaimana saling berbagi bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, ketika mendadak harus kekurangan bahan bakar. Saya menyadari sepenuhnya kebodohan diri sendiri ketika ternyata kendaraan saya hanya berputar tanpa kejelasan. Saya belajar menemukan titik balik, berusaha menggenggam erat 'bara api', lalu berusaha kembali menuju destinasi. Kadang saya kelelahan, tapi tidak akan ada yang mampu mengalahkan kepuasan ketika ada sesuatu berharga yang ditemukan secara sadar dalam satu rentang perjalanan.

Ketika kita ingin berjalan di jalan yang lurus dan memenuhi tuntutan istiqomah, terkadang kita tergelincir dan tidak bisa istiqomah secara utuh. Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini? Jawabnnya adalah pada firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6). 

Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah).

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 246)

Ada konsep solusi kuadrat terkecil, berakar dari konsep ketaksamaan segitiga, untuk mendapatkan solusi optimal dari suatu permasalahan model matematis. Tapi hidup, sepertinya bukan lagi sekadar model matematis yang dapat sedemikian rupa disederhanakan dan diasumsikan kondisi awalnya. Hidup, mungkin akan lebih memberi arti jika kita tetap berjalan di atas jalan utama yang lurus (al-Qur'an dan as-Sunnah) sehingga bisa terus kokoh dalam agama.

Allahul musta'an

Selasa, 30 Desember 2014

Surat Cinta untuk Kopmers


"Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu melewati pahit manisnya hidup. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hati kita bersama. Telah kita lalui bersama beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangat kita.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami saling beradu otot. Bersama kami telah saling menyemangati. Bersama kami telah membentuk suatu ikatan kekeluargaan.

Tersadar pun oleh diri ini. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan."

Awalnya saya hanya mahasiswa apatis yang tak peduli pada sekitar, awalnya saya hanya mahasiswa yang lebih suka menghabiskan waktu di kost daripada di kampus, awalnya saya hanya mahasiswa statistik yang menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan belajar tanpa mengerti bagaimana berorganisasi.

Sampai pada suatu masa ketika saya dipertemukan dengan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kopma STIS (sekarang Unit Dana Usaha) pada 20 Januari 2013, bersama 9 orang terpilih lainnya. Awalnya kita semua asing, tapi akhirnya bisa bersahabat juga di Kopma. Saya banyak belajar di sini, dari mulai adaptasi, belajar berorganisasi, belajar berwirausaha, belajar berkoordinasi, belajar jadi pemimpin, belajar peduli, belajar peka, belajar memahami orang lain, belajar mengatasi masalah, belajar bekerja sama, belajar bermuamalah, belajar kehidupan, belajar banyak hal. Kami saling berbagi, 'ilmu, cerita, canda, tawa, tangis, getir, dan sebagainya.

Dua tahun ini adalah dua tahun yang sangat berkesan, sangat membanggakan, sangat membahagiakan, dan sangat mengharukan, memiliki adik-adik, teman-teman, dan kakak-kakak yang begitu hangat, begitu peduli, begitu perhatian, begitu luar biasa, melihat kalian begitu kompak, begitu erat ikatan kekeluargaan yang terjalin. Setahun, dua tahun 'bekerja' bersama, sesulit apapun kondisinya, serumit apapun birokrasinya, tak terasa sebagai beban karena komitmen, keikhlasan, ketulusan, kesukarelaan masing-masing individu dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Berlebihan kah saya? ah, biarlah memang begitulah kenyataan dan fakta yang ada :')

Pengurus Kopma 2013/2014 dan alumni Kopma 
pada Seminar PNS Preneurship Kopma STIS 2014

Itulah yang membuat kami, Kopmers (anak-anak Kopma) tak menganggap Kopma sebagai sebuah unit, UKM, ataupun organisasi, melainkan lebih dari itu, kami adalah sebuah keluarga, keluarga Kopma :)

Saat saya bersama kehidupan saya yang lain, tetap saya nyatakan mereka keluarga saya. Keluarga yang memang begitu adanya. 

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktunya...

Ya, setidaknya masih ada kesempatan untuk 'mengabdi' sekali lagi bersama mereka, dengan kisah yang berbeda, dengan batasan-batasan yang lain dari biasanya, namun yang terpenting dengan mereka yang begitu luar biasa bagi saya :)

Jakarta, 30 Desember 2014
akhir masa jabatan kepengurusan

Sabtu, 20 Desember 2014

Mencari Sahabat Dunia Akhirat, Sesosok Penuh Makna

Bismillaah,


Seorang sahabat adalah sosok yang sangat berharga bagi kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang akan terwarnai dengan hadirnya seorang sahabat di sisinya. Jika sahabatnya baik, maka ia akan menjadi baik pula. Namun bila sahabatnya buruk, maka sudah sangat mungkin terjadi ia akan terwarnai olehnya.

Indah sekali apa yang pernah Rasulullah ibaratkan tentang seorang sahabat yang beliau umpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika berteman dengan penjual minyak wangi, minimal akan mendapat dan mencium wanginya. Berteman dengan seorang pandai besi, bisa-bisa percikan apinya mengenai tubuh dan juga kedapatan bau busuknya. Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan sahabat sejati, yang memuji di belakangnya dan mengoreksi di depannya.

Ada sebuah pertanyaan, apakah persahabatanmu sekadar permainan yang bisa ditinggalkan ketika kamu merasa bosan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diyakini bahwa kehidupan yang kita jalani ibarat sebuah perjalanan. Ada pepatah mengatakan, “Carilah teman sebelum melakukan perjalanan.” Sebab teman bagi seorang musafir bagaikan kehidupan dan ruhnya.

Oleh sebab itu jika persahabatan hanya sekadar permainan, maka tak ayal perjalanan ini tidak nyaman hingga tujuan bahkan lebih buruk dari itu.

Timbul lagi sebuah pertanyaan, “Lalu siapakah yang layak menjadi sahabat saya?”

Rasulullah telah bersabda bahwa agama seseorang bisa dilihat dari agama teman dekatnya. Itu artinya bahwa perangai, perilaku, dan tabiat seseorang dapat dilihat kepada siapakah seseorang itu bergaul. Maka hendakalah berhati-hati dalam memilih seorang teman. Karena bisa jadi suatu saat engkau akan menjerit dan menyesali keputusanmu persis sebagaimana firman Allah ;

“Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.“ [Al-Furqan : 28-29]

Maka, relakah engkau akan bernasib demikian??

Alangkah indahnya seorang sahabat, yang ketika kita berbuat salah ia menegur dan menasihati, bukan karena rasa benci, namun karena begitu cintanya ia terhadap kita sehingga tak bosan-bosannya mengingatkan akan sebuah kebenaran. Namun seringkali kita terlupa, termakan oleh egoisme diri, merasa lebih baik, lebih banyak makan asam garam, sehingga menafikan sebuah kebenaran yang sebenarnya datang dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam lewat lidahnya. Alangkah indahnya seorang sahabat yang mau ikut menangis bersama, ketika melihat sahabat lainnya jatuh dalam kubangan nista dan dosa, merasa kasihan, bukan kebencian hingga bergetar bibir menahan tangis dan kesedihan, terluka jiwa yang fitrah oleh tajamnya belati hawa nafsu.

begitulah seorang sahabat sejati itu, 
untuk para sahabatku yang saya cintai,
baarakallaahu fiikum *titik dua tutup kurung*

Jakarta, dalam pekatnya malam

Selasa, 09 Desember 2014

Tips Hemat Nge-Kost di Jakarta (Bukan Pelit)

Apa bedanya hemat sama pelit?

Hemat itu mengatur pengeluaran sebijaksana mungkin, demi kepentingan bersama dan jangka panjang. Kalau uang kita sisa, bisa buat yang lain. Seperti membantu teman, atau membantu orang tau, atau membantu saudara. Masih ada pemikiran untuk menolong sesama.

Kalau pelit? Pelit itu, mengatur pengeluarkan seminimalis mungkin dan memaksimalkan bergantung pada traktiran orang lain. Ehm.. parasit. Pelit itu mikirin diri sendiri aja. Misal, punya uang, tapi bilang nggak punya uang. Semacam itu lah.


Dan tips ini, saya buat akibat efek kenaikan harga kost, harga makan, dan harga-harga yang lain akibat efek kenaikan BBM. Jadi saya putuskan untuk berbagi tips hidup hemat yang sudah saya latih dari SD. Kalau mau biaya hidup tinggi, saya rasa nggak perlu tips ya. Tinggal buang-buang uang aja di jalan, ntar juga habis uangnya. Hehe. Yang perlu tips itu biasanya untuk teman-teman yang mau berhemat. Saya bagi tips yang biasa saya pakai ya (bisa cocok bisa juga enggak). Ingat, ini untuk hemat. Hemat bukan berarti pelit! Di bold ya, HEMAT DAN BUKAN PELIT.

  1. Biasakan hidup sederhana. Masalahnya, standard hidup sederhana tiap orang beda-beda ya. Ada yang sebelumnya biasa naik mobil, coba-coba disini naik motor aja. Selain menghindari macet, juga lebih hemat bensin. Ada juga yang biasanya naik motor, disini milih jalan kaki aja. Selain nggak perlu keluar uang buat beli bensin, juga lebih sehat. Alhamdulillah dari SD hingga sekarang saya naik sepeda manual, tapi sekarang lebih sering jalan kaki sih, soalnya sepedanya lagi rusak dan lagi males untuk memperbaiki
  2. Cari kost-an yang sederhana aja sih. Budget untuk kost-an kantong mahasiswa sih biasanya berkisar antara 300-600 ribu (tiap orang beda-beda sih, biasanya tergantung fasilitasnya). Kalau saya sih yang penting bisa buat tidur. Toh aktivitas kita nggak melulu di kost-an toh? Ngontrak juga oke-oke aja, tapi lebih baik tanggung rame-rame biar jatuhnya lebih murah.
  3. Sedekah. Setelah dapet TID (karena saya kuliah di perguruan tinggi kedinasan, alhamdulillah masih dapat tunjangan) atau kiriman orang tua, langsung sisihkan sedikit untuk disedekahin bro! Tanya kenapa?

    Allah berfirman:
    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”
  4. Investasi di awal. Buat saya, yang suka membuat planning hidup masa depan, berpikir 2-3 langkah ke depan, menyisihkan investasi di awal itu wajib banget. Karena berapapun uang yang dipegang, biasanya nggak bersisa. Tapi untuk teman-teman yang bisa menyisakan uang di akhir, silakan tempatkan poin ini di urutan terakhir. Dan kenapa investasi? Karena investasi membuat uang kita bisa bertambah banyak. Ya nggak tiba-tiba bertambah banyak sih. Tetap ada aktivitas di dalamnya yang bisa membuat uang kita aktif. Ada banyak cara untuk investasi. Cari yang halal bro bro dan jangan niatkan investasi untuk menganakpinakkan uang, tapi benar-benar untuk modal/simpanan kebutuhan masa depan. Sementara ini saya baru investasi emas (lumayan harga emas trendnya naik terus, meskipun fluktuatif banget), dan kata mama sih bisa buat modal nikah atau naik haji, in syaa' Allah, hehe.
  5. Belanja seperlunya. Contoh, mie instan itu perlu, tapi nggak sampe beli sekardus juga kali bro. Jangan berlebihan. Mentang-mentang mau hemat, tiap hari makan mie instan terus. Hemat nya sih iya, tapi badan penyakitan mau?
  6. Butuh atau Ingin? Kalau butuh, langsung beli. Kalau ingin, tunda dulu. Biasanya “ingin” itu cuma sesaat. Dengan menunda keinginan kita, sekaligus membuat kita berpikir panjang. Kalau sudah ditunda, ternyata masih ingin juga, ya baru dibeli. Daripada kena siksa batin. Kalau pas balik ternyata kehabisan, ya berarti bukan rejeki kita. Haha. Take it easy bro. Kalau ada promo, boleh juga tuh. Hehe (promo hunter)
  7. Makan sehat. Ingat! makanan sehat nggak selalu mahal! Makan di warteg deket kost yang tempatnya bersih dengan menu sayur dan tempe juga bisa dibilang sehat. Buat makan siang di kampus, bisa beli di Kopma (masih aja promosi :p) atau di kantin. Kalau masih berasa mahal, bisa beli di warteg di dekat kost untuk makan siang di kampus atau masak sendiri. Yang pasti, Sisakan uang di rekening untuk makan selama sebulan. Kasih target berapa rupiah untuk makan. Kenapa? Karena biasanya, paling banyak menghabiskan uang di makanan. Ingat! Makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan.
  8. Nabung. Nabung disini buat hal-hal yang nggak terduga. Misal kalau kita sakit, atau keluarga butuh uang. Bisa juga sebagai investasi masa depan.
  9. Jadi Jomblo yang banyak teman. Jomblo sih jomblo, tapi jadilah jomblo yang bermartabat dan berwibawa, jangan mau jadi forever alone juga jangan jadi pengemis cinta. Perbanyaklah teman! kalau banyak temen itu enak bro. Susah senang selalu bersama. Banyak info yang didapat kalau kita banyak teman. Mulai dari info kerjaan, info acara-acara seru, sampai info makanan murah meriah. Dan, kalau  ada apa-apa dibantuin. Tuh, bermanfaat kan. Kalau punya pacar itu susah loh. Pacaran itu pake ongkos bro, uang tekor, maksiat jalan terus. Ingat! Jangan sekali-kali mendekati zina! Saya bersyukur sih masih jomblo (lebih bersyukur kalo udah nikah), lebih hemat juga. Nggak pacaran, nggak keluar uang buat hal-hal yang nggak penting dan berujung maksiat. Mending ditabung buat nikah, daripada buat pacaran. *eh
  10. Jalin hubungan baik dengan tetangga. You know lah, apalagi kalau dapat undangan nikahan atau waktu kurban. Hoho
Nah, sedikit-sedikit itulah tips dari saya. Kalau ada salah dan nggak cocok, maaf ya. Mau berbagi tips yang lain? Boleh banget! :D

_______________________
Jakarta, 9 Desember 2014

Selasa, 02 Desember 2014

Haruskah Hijrah ke yang Halal?

Berawal dari salah satu celetukan sahabat saya Abu Namira Muhammad Arif Maulana ketika saya ditawari sayembara desain dan saya tidak mengiyakan karena aplikasi desain andalan saya selama bertahun-tahun (CorelDRAW X5) mengalami crash berkelanjutan yang mengakibatkan beberapa komponen Windows di laptop harus saya korbankan untuk eksperimen-eksperimen service laptop yang sama sekali tidak membuahkan hasil. Ketika itu dia bilang, "pake InkScape aja sana, jangan pake software bajakan terus! :D". Ah, saat itu juga saya merasa enggan, bingung, dan sedikit galau. Kalau saya beralih ke InkScape yang notabene aplikasi open source yang formatnya beda dengan Corel, apa yang harus saya lakukan dengan ratusan desain yang telah saya buat selama ini? dibuang begitu saja? bagaimana dengan desain-desain pesanan orang lain yang sudah saya janjikan untuk mereka? terkunci begitu saja dalam keterbengkalaian? Ah, entahlah. Saya pun berpikir, mempertimbangkan segalanya, dan memutuskan untuk benar-benar berhijrah dan mendalami InkScape sebagai aplikasi desain permanen menggantikan CorelDraw. Meskipun awalnya kesulitan karena tidak terbiasa dengan tools-nya, namun pada akhirnya dengan InkScape pun saya bisa menghasilkan desain berkualitas.

Kemudian dilanjutkan dengan tulisan al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada laman rumaysho.com yang menjelaskan hukum memakai barang bajakan, entah berapa kali memang saya selalu menunda-nunda untuk benar-benar membuang sofware bajakan di laptop saya dengan dalih menggunakan aplikasi open source susah, sudah terbiasa dengan aplikasi-aplikasi berlisensi yang ada, kualitas aplikasi open source masih kalah dengan aplikasi berlisensi yang diperoleh dengan cara membajak (entah itu hasil crack, keygen, atau serial patch), dan sebagainya.


Tapi, terlintas dalam pikiran saya bahwa yang harus selalu saya ingat bahwa Islam mengatur segalanya sampai hal-hal yang terkecil. Bahkan dalam memakai software pun di atur dalam Islam. Tidak dibenarkan bagi kita untuk menggandakan program-program komputer yang pemiliknya melarang untuk digandakan kecuali atas seizinnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.“ (Shahih Al Jaami no. 6714. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dan juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيبة من نَفْسٍ

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali atas kerelaan darinya“. (HR. All Baihaqi dan Daruquthni. Lihat Irwaul Gholil no. 1459. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dan juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مُبَاحٍ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

“Barang siapa telah lebih dahulu mendapatkan sesuatu yang mubah (halal) maka dialah yang lebih berhak atasnya“. Hukum ini berlaku baik pencetus program adalah seorang muslim atau kafir selain kafir harbi (yang dengan terus terang memusuhi umat Islam), karena hak-hak orang kafir selain kafir harbi dihormati layaknya hak-hak seorang muslim.

Ya, hijrah adalah suatu kondisi dimana seseorang berpindah dari titik satu ke titik yang lebih baik. Jika kita mendalami pengetahuan tersebut maka hal ini sangat tepat dihubungkan dengan kebiasaan lama saya yang pernah menggunakan software berlisensi dengan cara membajak. Berawal dari ketidaktahuan dan ketidakpahaman saya tentang hal tersebut akhirnya saya menemukan solusi ampuh menghentikan kebiasaan tersebut dengan melirik yang namanya Open Source dan Free Software.

Hal-hal di atas adalah alasan utama saya untuk melakukan hijrah karena di sana ada perbuatan dosa yang tidak kita sadari, di saat kita menggunakan software berlisensi yang dibajak tanpa mendapat izin dari pemilik/pembuat software tersebut maka di sana ada hak orang lain yang kita langgar. Hubungannya sangat erat dengan masalah moral diri sendiri dan hak-hak orang lain yang kita ambil. Tulisan ini tidak bertujuan mengarahkan Anda meninggalkan Windows beserta software berbayar lainnya jika Anda mampu membayar royalti dari software tersebut, saya sendiri masih belum meninggalkan Windows karena alhamdulillah Windows saya versi Home Premium 32-bit Original yang harus saya bayar mahal saat pertama kali beli laptop. Tapi jika Anda masih menggunakan software tersebut secara ilegal (membajak) maka marilah mulai melirik Open Source atau Free Software untuk memenuhi kebutuhan komputansi kita.

Untuk sementara ini, beberapa software Open Source dan Free Software yang saya gunakan adalah sebagai berikut:
1. InkScape menggantikan CorelDRAW (keygen)
2. GIMP menggantikan Adobe Photoshop (patch)
3. Pinnacle Studio menggantikan Adobe AfterEffect (patch)
4. Open Office menggantikan Microsof Office (crack)
5. Avast Antivirus (free)
6. Foxit Reader (free)
7. CC Cleaner (free)
8. SPlayer menggantikan Windows Media Player (asli sih, cuma ada ada beberapa format file yang tidak terbaca)
9. 7zip menggantikan Winrar/Winzip (bajakan)
10. Google Chrome (asli)

Lantas bagaimana jika ada file-file penting yang format file-nya tidak bisa dibuka dengan software-software open source pengganti tadi? Saya juga sempat bingung awalnya, tapi setelah dapat ilmu dari Ustadz Yulian Purnama langsung cerah lagi harapan saya. Beliau menyarankan untuk mengkonversi file-file tersebut dengan CloudConvert, webapp untuk konversi file dengan memanfaatkan teknologi cloud. Tipe file yang di dukung sangat banyak. Percobaan pertama saya adalah mencoba membuktikan konversi file SVG ke PDF seperti yang dicontohkan Ustadz Yulian, benar kata beliau, hasilnya sangat bagus, hi-res. 

Kemudian, sebagai contoh untuk diri saya sendiri, saya coba konversi CDR (Corel) ke SVG (InkScape) - masih versi eksperimen dari sananya, walhamdulillah bisa. Tapi karena InkScape tidak bisa membaca beberapa font Windows, masih ada beberapa font yang berubah jadi default (Times New Roman), formatnya juga menjadi acak-acakan. Tapi setidaknya, source design nya masih terjaga. Jika WebApp semacam ini dikembangkan lagi akan sangat bermanfaat khususnya ketika ada program yang bermasalah kemudian ingin dikonversi dalam format lain sehingga masih tetap bisa dibuka meskipun di program lain (yang berbeda formatnya)
Ada API-nya juga. Silakan eksplor sendiri di http://cloudconvert.org

Selain itu langkah mudah untuk berhijrah ke software yang halal lainnya adalah: Backup Data Super Penting Anda. Sebelum memulai proses hijrah ini sangat disarankan untuk mem-backup data yang super penting. Apalagi kalau memang ingin benar-benar berhijrah dari Windows ke GNU/Linux. Backup yang dimaksud disini adalah menduplikasikan data super penting tersebut ke media penyimpanan lain selain dari harddisk PC yang aktif. Misalnya data di copy ke flashdisk, harddisk eksternal atau nitip di harddisk teman, bisa juga data di burning ke media CD/DVD. 

Saya jadi teringat perkataan Ustadz Abdul Hakim:

"Dahulu, jika seorang mulai mengenal ilmu agama maka otomatis berubah kehidupannya.

Kini, ilmu agama hanya koleksi intelektual, mengenal dalil namun tak ada beda dengan orang awam."

Mari direnungkan bersama, apakah 'ilmu agama yang kita dapatkan hanya sebatas koleksi intelektual saja? semoga tidak.. Sami'na wa atho'na!

Dengan berhenti menggunakan software bajakan berarti Anda peduli dengan moral Anda sendiri dan hak-hak pencipta program. Secara otomatis Anda secara aktif membantu pemerintah memerangi software bajakan.

Wallahul muwaffiq
_______________________________________________________
Jakarta, 2 Desember 2014

disadur dari berbagai sumber dan kisah pribadi

Jumat, 14 November 2014

Sederhana Saja

Tiba-tiba hujan turun tanpa intro. Genangan air menghalau langkahku untuk melangkah ke warung makan di seberang jalan. Tapi perut ini lapar. Dan makanan tak kunjung datang hari itu. Nekat adalah solusi terakhir mengakhiri penderitaan. Berkecipak, berjingkat dan melompat kecil akhirnya bisa juga lolos. Yah, walaupun sedikit basah celanaku, tapi tak mengurungkan niatku untuk memanjakan perut.

Sederhana saja yang saya pesan untuk perut saya. Nasi, sayur dan tempe goreng lengkapi dengan segelas teh manis hangat. Tak ingin muluk-muluk saya memanjakan perut. Ala kadarnya saja asal kenyang di akhir cerita. Sebentar saja lamunanku terjebak pada bayangan yang terpantul di gelas teh didepanku.

'Bahagia', kata dasar yang sederhana terucap namun mampu meledakkan hati menjadi kepingan-kepingan senyum yang tak bisa dilunasi hanya dengan berjanji. Entah petir apa yang memaksaku melangkah menjauh dari kotaku hanya untuk mengkalkulasi sebuah kemungkinan-kemungkinan. Tapi apa salahnya, tak ada salahnya mengejar kemungkinan-kemungkinan itu dan mewujudkannya menjadi sesuatu yang bisa dikenang ketika duduk dibangku taman, kelak ketika menjadi tua. Mungkin..

Ahh.. tehku tak hangat lagi. Terlalu lama saya melamun. Yang saya sadari saya sudah kenyang dan saya tutup dengan delapan ribu perak. Dan siang itu saya masih di kota ini, ketika saya menyambut setiap momen dengan sepotong senyuman. Saya hanya melihat kesederhanaan menikmati kebahagiaan atas semua yang telah saya lakukan.

Hai..

Rabu, 29 Oktober 2014

Observasi

Saya suka mengamati hal-hal yang ada di sekelililng saya, tapi jangan bayangkan saya adalah peneliti yang mendefinisikan berbagai fenomena melalui metodologi yang ilmiah. Saya hanya suka melihat, mengamati, dan mengambil kesimpulan saya sendiri tanpa ada kesan ilmiah sama sekali. Kebanyakan adalah hal yang kecil dan sepele. Saya suka mengamati bagaimana sekelompok preman di salah satu fasilitasi publik yang mengekspresikan rasa ingin tahu mereka mengenai kondisi sosial di sekitar mereka dengan antusias, saya suka mengamati bapak-bapak pemulung di sekitar sungai di sudut-sudut ibu kota (lihat tulisan sebelumnya), saya suka mengamati jalanan dan gang-gang sempit di sela-sela gedung dan bangunan di ibu kota, saya suka mengamati gaya hidup penduduk desa atau suku pedalaman yang selalu terlihat ramah dan kadang memunculkan kesan misterius (seperti Sangiang, Baduy, Dayak, Jawa, dll), saya suka mengamati gerak-gerik dan karakter teman-teman saya, dan hal kecil dan sepele yang lainnya.

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi saya belajar banyak dari hal-hal yang saya amati di atas. Dan prosesnya jauh lebih menyenangkan daripada hanya mendengarkan dosen di dalam kelas. Memang apa yang saya dapatkan bukanlah teori-teori seperti yang bisa saya dapatkan dari buku sosial research atau buku teori sejenis lainnya, akan tetapi dari “proses pengamatan” yang saya lakukan, saya dapat langsung membandingkan antara teori yang biasanya sangat ideal dengan realita yang sifatnya lebih relatif.

Namun, memang begitulah adanya, tak jauh berbeda seperti apa yang disampaikan oleh dosen Metode Penelitian saya di kampus di Otista No 64C, Jakarta Timur, pak Waris Marsisno. "Penelitian ilmiah dapat dimulai dari mengamati dan peka terhadap hal-hal kecil dan sepele di sekitar Anda"

Sependek pengalaman saya, ada beberapa hal yang terus ditekankan berulang-ulang. Salah satunya adalah bahwa tugas seumur hidup manusia adalah belajar, dan proses pembelajaran dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Definisi belajar tidak dapat dibatasi oleh dinding-dinding sekolah dengan deretan meja dan kursinya. Pun tidak terbatas oleh lembaran-lembaran kertas rangkuman maupun modul.

Belajar tidak terbatas oleh mata pelajaran, mata kuliah, maupun silabus-silabus pendidikan. Memaknai kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran, merenung tentang kehidupan juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Dari proses tersebut kita akan mendapatkan pelajaran berharga yang tidak kita dapatkan selama di ruang kelas.

Belajar bukan hanya dominasi mata, telinga, otak dan “indera-indera fisik” yang lainnya. Belajar juga merupakan pekerjaan hati. Apalagi jika kita sedang belajar mengenai kehidupan, belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai sosial.

Ya, inilah waktunya, di tingkat 3 jurusan Statistika Sosial dan Kependudukan, saatnya 'hobi' mengamati yang hanya iseng-iseng sudah saatnya diaplikasikan secara ilmiah berdasarkan metode ilmiah yang sistematik, terorganisir, berbasis data, dan dengan pendekatan-pendekatan ilmiah yang lain.

Selamat mengamati, selamat meneliti!

Tahan Dulu Penasarannya; Yuk Belajar Bahasa Arab

Oleh: al-Ustadz Abu Faiz Erlan Iskandar (pedulimuslim.com)
Umar bin Khattab berkata,“Pelajarilah Bahasa Arab, karena Bahasa Arab merupakan bagian dari agama kalian.”
Mukjizat Keindahan al Qur’an
Kalaulah mau dipikir sejenak. Ternyata, mukjizat seorang nabi itu umumnya sesuai dengan sesuatu yang tengah populer di kalangan kaum tersebut. Sebutlah, Nabi Musa. Kala itu sihir sedang marak-maraknya, maka coba tengok mukjizatnya. Tongkatnya bisa bermacam guna. Atau pula, Nabi Isa. Pada zamannya, pengobatan ialah yang utama. Maka, coba perhatikan mukjizatnya. Menyembuhkan orang sakit, bahkan pula bisa menghidupkan kembali orang mati atas izin Allah ta’ala.

Beda halnya dengan zaman nabi kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Syair begitu didamba. Seseorang bisa naik dan turun derajatnya, tersebab sajak yang tertuju pada dirinya. Ditengah antusias yang tinggi terhdapa syair; turunlah mukjizat mulia berupa al Qur’an, yang membuat setiap kafir quraisy tercengang karena keindahan bait-baitnya. Penyair mana yang tak takjub dengan keindahan bahasa al Qur’an. Lalu, seperti apakah keindahannya? Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab :)

Sebegitu menakjubkan kah bahasa al Qur’an…?
Nama umar bin khattab mengabadi dalam pembahasan ini. Keras hati-nya meleleh, ketika mendengarkan bait-bait lembut yang penuh kesejukan. Ia takjub dengan bahasa al Qur’an. Hingga ia nyatakan diri untuk masuk Islam. Ada lagi, seorang perampok sangar. Dikisahkan, sangking tangguhnya; sampai-sampai dalam operasi perampokkannya, ia ta lagi butuh partner dan tim. Akan tetapi, masih ada secercah cahaya di hatinya. ia bertaubat sebab mendengar kutipan ayat Qur’an. Bahkan setelah taubatnya itu, beliau menjadi ulama yang sangat diakui keilmuannya. Benar sekali tebakanmu. Fudhail bin iyadh namanya.

Masya Allah, Orang yang dulunya sekeras umar, sesangar fudahil; menjadi tersentuh bertaubat setelah mendengar ayat al Qur’an. Bacaan Qur’an begitu membuat mereka merasakan nafas-nafas hidayah dan keimanan. Mana mungkin hati mereka bisa bergetar ketika mendengar ayat al Qur’an, bila bahasa arab mereka tak faham. Kuncinya, bahasa arab harus faham.

Kemudian, coba tanya, kapan terakhir hati kita bergetar setelah mendengar ayat al Qur’an? Pula, kapankah tiba masa dimana kita bisa memaknai al Qur’an ddialam hati yang mendalam?   

Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab :)

Doa-Doa dan Bacaan Shalat Jadi Lebih Terhayati
Siapakah diantara kita yang tak merindu untuk bisa khusyuk dalam shalatnya? Ketahuilah, Syarat agar kita bisa khusyuk dalam shalat ialah dengan memahami apa yang kita ucapkan. Bilamanakah kita akan; menangis ketika membaca surah Qof, Berhikmah kala membaca kisah ksiah, dan berseri kala Allah bercerita surga, dan berkhwatir diri kala Allah bercerita tentang adzabnya; manakala ktia tak tau apa yang kita baca dalam shalat kita.

Kita juga baru tahu, ternyata ada hubungan terkait antara gerakan dan bacaan. Sujud misalnya. Kita rendahkan kepala kita. Mencium bumi serendah-rendahnya. Untuk apa? Untuk mengakui bahwa Allah Maha Tinggi. Sehingga setulus hati, kan kita resapi tuk ucapkan, “Subhaana Robbiyal a’laa.”  

Lalu, bicara soal doa. Seberapa banyak doa kita mengerti maknanya. Bagaimana pula bila kita tak paham apa yang kita pinta? Ucapkan sembarang “aamiin” bukan pada tempatnya. Lalu dimana jarak ijabah dengan segala pinta?

Kemudian, timbul tanya, kapan bsia merasakan mansnya ibadah? kapan kiranya bisa meresapi segala bacaan doa dan menghayati bacaan dalam shalat kita?

Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab :)

Afwan Jiddan, Kita Akrab ber-Bahasa Arab –
Bertutur guru bahasa Indoensia saya; Bu Baruna. Bahwa, Kata dalam bahasa Indonesia itu menyerap 30% dari bahasa arab. Banyak sekali, serapan kata dalam perbincangan kita. Bahkan, tidak hanya yang berbau ‘serapan’. Tak jarang, justru kita malah memakai lafazh-lafazh murni arab sendirir dalam keseharian. Misal pada kalimat; “Assalamu’alaykum, ukhti” , “Insya Allah ana mau ta’aruf” dan “‘Afwan jiddan, ana tolak antum”.

Eits, baru saja sepertinya kami menulis kata yang janggal. Afwan Jiddan. Kata ini memang akrab di telinga dan lisan. Padahal, dalam bahasa arab, lafazh macam ini tidaklah terkenal.

Kata afwan merupakan maf’ul muthlaq, yang mana kata kerjanya dihapus. Awalnya, kalimatnya berbunyi, “Asta’fikum ‘Afwan.”  Kemudian agar simpel, dihapuslah subjek dan kata kerjanya. Jadilah sebutan ‘Afwan’.

Sejatinya, kata ‘afwan’ sendiri sudah bermakna “Saya minta maaf bangeet”.  Jadi kalau ada yang bilang ‘Afwan Jiddan’, artinya jadi; “Saya minta maaf banget bingiit”, hehe.. Ah, terlihat berlebihan. Kurang elok dan tak sesuai kaedah, kawan.

Masih penasaran dengan Maf’ul Muthlaq…?!

Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab :)


***


Salah satu fasilitas dari sekian banyak fasilitas yang ada untuk belajar bahasa Arab:

Program BISA
Program BISA (Belajar Islam dan Bahasa Arab) adalah program kursus non formal jarak jauh yang diluncurkan sebagai bagian dari cita-cita untuk sebanyak mungkin membantu umat Islam agar bisa "melek" bahasa Arab di tengah-tengah kesibukan dalam menjalani aktivitas keseharian masing-masing.

TIM PENGAJAR

Pembina: Ustadz Muhammad Mirjani, Lc (Alumni Fak Hadits Universitas Islam Madinah)

Mudarris Ikhwan:
Khairul Umam, S.T, B.A (Alumni Teknik Metalurgi UI dan Fak Dakwah Universitas Al Madinah Internasional - MEDIU)
Athoilah, B.A (Alumni Fak Hadits Universitas Al Madinah Internasional - MEDIU )
Irham Maulana (Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Syariah - LIPIA)
Deden Dimyati  (Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Syariah - LIPIA)
Ridwan Arifin  (Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Dakwah - Universitas Islam Madinah) 

Mudarris Akhawat:
Lailatul Hidayah, B.A (Alumni Fak Dakwah Universitas Al Madinah Internasional - MEDIU )
Muthmainnah, Lc (Alumni Fak Syariah LIPIA)

Program BISA menerapkan sistem MLM (Multilevel Mudarris) dimana para alumni menjadi musyrif/ah (pembimbing) untuk angkatan selanjutnya. Dengan sistem ini, Kami dapat menampung lebih banyak kuota peserta yang bisa diterima di setiap angkatannya, walhamdulillah.